SAMPAI JUM’AT DIKETAHUI 416 TEWAS, LUKA2 3.170

Presiden Berduka Cita

SAMPAI JUM’AT DIKETAHUI 416 TEWAS, LUKA2 3.170 [1]

 

Jakarta, Suara Karya

Presiden Soeharto menyatakan ikut berduka cita dan sedih kepada seluruh anggota masyarakat Bali yang menjadi korban bencana gempa bumi hari Rabu yang lalu, sehingga banyak warga masyarakat yang kehilangan keluarga atau saudara, dan berdoa pula agar para korban yang tengah dirawat di Rumah Sakit dapat segera sehat kembali.

Presiden Soeharto mengemukakan hal itu kemarin di depan sejumlah pamong dan warga masyarakat Seririt, dalam rangkaian peninjauan Kepala Negara secara “incognito” selama 6 jam ke daerah2 yang tertimpa bencana gempa bumi di Bali.

Kunjungan tidak resmi Kepala Negara itu disertai pula oleh Ny. Tien Soeharto, Menteri Sesneg Soedharmono dan 2 orang lainnya masing2 seorang Ajudan dan Kepala Dokumentasi dan Mass Media Setneg, Drs. G Dwipayana.

Dalam hubunganini Presiden Soeharto mengajak seluruh masyarakat Indonesia agar ikut merasakan penderitaan para korban yang tertimpa bencana itu.

Presiden Soeharto dannyonya berangkat dariJakarta pukul 11.00 siang kemarin dan setibanya di Denpasar langsung meninjau 3 daerah kabupaten, masing2 Kabupaten Buleleng, Jembrana dan Tabanan, dengan menggunakan  2 buah pesawat helikopter kecil.

Setelah melihat kerusakan dan keadaan para korban bencana tersebut, Presiden Soeharto menyatakan bahwa keadaan itu tentu tidak mungkin diatasi oleh masyarakat setempat atau oleh Pemda Kabupaten bahkan juga bagi propinsi Bali sendiri akan sangat berat untuk segera mengatasinya.

Oleh karenanya, hal itu diharapkan dapat diatasi secara gotong-royong oleh Propinsi2 lainnya, termasuk juga Pemerintah Pusat.

Setelah meninjau kecamatan Seririt yang merupakan daerah yang menderita kerusakan terberat dan korban terbanyak: (200 orang tewas dan 2 ribu luka2 berat dan ringan), Kepala Negara menginstruksikan Gubernur Bali Sukarmen agar segera membangun barak2 bagi masyarakat yang sejak terjadinya gempa terpaksa tinggal di tenda2 karena rumahnya telah hancur. Juga diinstruksikan agar dibangun bangunan sementara untuk sekolah, pasar dan Puskesmas.

Presiden Soeharto dalam kesempatan itu menyerahkan sumbangan Rp.50 juta, 100 ton beras dan minyak tanah secukupnya, sementara Ny. Tien Soeharto atas nama Yayasan Harapan Kita menyerahkan sumbangan Rp. 10,- juta untuk ke 3 daerah kabupaten itu serta sejumlah obat2an.

Selanjutnya kepada Gubernur Bali Kepala Negara memerintahkan segera mengajukan rencana rehabilitasi semua bangunan umum yang rusak, terutama sekolah, rumah sakit, pasar dan tempat ibadah.

Dalam kesempatan itu Ny. Tien Soeharto mengajak dan mengetuk hati para dermawan untuk bergotong royong, memberikan sumbangan dalam bentuk apapun kepada para korban gempa bumi di Irian Jaya dan Bali.

Sumbangan dapat dikirim atau diserahkan melalui kantor Yayasan Harapan Kita di jalan Cendana 17 mulai jam 09.00 hingga 15.00 atau ke Staf Ajudan dijalan Cendana no. 6 yang terbuka selama 24 jam.

Presiden yang baru memutuskan untuk meninjau akibat gempa tersebut pada Kamis malam, kemarin pukul 11.00 berangkat dengan pesawat khusus ke Bali. Setibanya di Denpasar langsung berangkat melakukan peninjauan dengan 2 buah helikopter kecil. Daerah Negara merupakan daerah terakhir yang ditinjau Kepala Negara sebelum kembali ke Jakarta pada pukul 18.00.

Bagaikan Dapat Serangan Bom

Kota Seririt di Kab. Buleleng, sekarang ini bagaikan habis mendapat serangan bom yang dahsyat tiada bangunan yang berdiri tegak. Kota kecamatan itu adalah yang paling menderita akibat gempa hebat yang melanda hari Rabu siang lalu.

Jum’at kemarin, lapor wartawan “SK” dari Denpasar, puluhan Hansip dan polisi melakukan penggalian2 mayat yang bertebaran di sela2 reruntuhan bangunan2 di kota Seririt. Di tempat yang agak lapang, seperti di sawah2, tegalan, didirikan tenda2 untuk menampung penduduk yang terkena bencana karena sampai saat ini mereka tak berani tidur di rumah. Sementara itu para pemeluk agama Islam Jum’at di pelataran2 mesjid, karena mesjidnya sendiri telah hancur tergoncang gempa.

Wartawan2 dalam dan luar negeri nampak berbondong-bondong mengunjungi Kota Seririt yang menderita itu, Pejabat2 Pemda Bali kepada wartawan2 itu mengharapkan agar informasi pemberitaan tetap bersumber kepada Kantor Gubernur. Hal ini mengingat berita yang simpang siur.

Menurut berita yang diterima di Kantor Gubernur Bali, hari Sabtu ini Menteri Negara EKUIN Widjojo Nitisastro dan Irjen Dep. Dalam Negeri akan pula meninjau daerah bencana gempa bumi di Bali itu.

3 Kabupaten

Pada dasarnya, Propinsi Bali yang terdiri dari 9 kabupaten itu, yang terkena penderitaan yang paling berat akibat gempa adalah 3 kabupaten. Yakni Kab. Buleleng, Kab. Jembrana dan Kab. Tabanan.

Di Kab. Buleleng, Kecamatan Seririt yang mempunyai 4 desa rusak berat. Yakni Desa Seririt, Desa Pangestulan, Kalapaksa dan Palemon. Semua rumah di Kecamatan Seririt itu rusak. Sementara itu di kecamatan Banjar, rumah2 juga rusak semua demikian juga di dua kecamatan lainnya, yakni kecamatan Grogak dan kecamatan Busungbiu

Korban

Korban sampai dengan Jum’at kemarin menurut informasi yang diperoleh Suara Karya dari Kantor Gubernur Bali, sebagaimana yang dilaporkan kepada Presiden, korban yang meninggal 416 orang, luka berat 808 orang, luka ringan 2.362 orang.

Di Kab. Buleleng bangunan yang rusak, rumah dinas dan kantor 32 buah, sekolah2 66 buah, rumah penduduk dan tempat ibadah (termasuk pura) 60.000 buah.

Di Kab. Jembrana yang mempunyai 3 kecamatan, yakni kecamatan Negara, Mendoyo dan Pakutetan, meninggal 20 orang, luka berat 32 orang, luka ringan 43 orang. Bangunan dan rumah dinas yang 39 buah, sekolah 68 buah, rumah penduduk dan rumah ibadah 20.000 buah.

Di Kab, Tabanan, yang meninggal4 orang, luka berat 10 orang, luka ringan 43 orang. Rumah dinas dan kantor yang rusak 8 buah, sekolah 62 buah dan tempat ibadah yang rusak 5.500 buah.

Terdengar Tangisan

Penduduk Kota Negara (Kab Jembrana), sampai pagi kemarin belum berani masuk rumah. Merekapun tidur di depan rumah atau di lapangan.

Di Rumah Sakit Negara masih terdengar tangisan anak2 yang menderita akibat gempa. Mereka di tampung bukan di kamar2 Rumah Sakit tetapi di tenda2 di depan rumah sakit, karena keadaan Rumah Sakit itu sendiri retak2 mengkhawatirkan. Di tenda2 darurat itu terdapat 40 pasien korban gempa, yang umumnya menderita luka parah akibat tertindih tembok yang rontok. Demikian menurut keterangan dokter Rumah Sakit Negara, dr. Nyoman Yardana.

Di Kota Negara sekarang ini didirikan komando yang membagikan beras dan makanan. Letkol Pol Basuki, Dames 1305 Jembrana, yang memimpin di komando itu.

Toko2 di kota Negara kelihatan belum ada yang buka, karena banyak yang dalam keadaan rusak. Untuk berbelanja dan membeli bensin cukup sulit.

Memilukan

Akibat gempa itu, keadaan di tempat bencana Nampak memilukan. Sepanjang jalan Denpasar sampai ke Kota Negara, terlihat banyak rumah yang rusak. Sementara itu sepanjang jalan antara Bubusa dan Seririt penduduk tidur di tenda2, karena mereka belum berani masuk rumah.

SMP Negeri 1 Seririt yang ambruk dan menimpa murid2-nya yang sedang belajar itu, sampai siang kemarin masih digali. Sandal2 dan buku2 pelajaran yang dipakai murid2 yang menjadi korban, diketemukan di sela2 puing reruntuhan bangunan sekolah.

Sementara itu penggalian dibangunan2 yang runtuh lainnya, juga terus dikerjakan. Mayat2 yang masih terus diketemukan di sela2 reruntuhan. Mereka terus diangkat dan dibungkus dengan tikar. Alat2 besar yang segera didatangkan ke tempat penggalian, ikut berperan dalam penggalian korban2 bencana itu.

Nikah Tak Diurus

Seorang anggota DPRD Prop Bali, Kapten Laut Malaya, menceriterakan nasib keluarganya di desa Kalapaksa. Semua rumah Keluarganya di desa itu, hancur semua. Dalam isak tangis yang tak tertahan, Ia mengatakan bahwa waktu kejadian gempa ia masih berada di Denpasar. Begitu terdengar berita gempa itu, ia bermaksud menuju Desa Kalapaksa. Tetapi oleh Gubernur Sukarmen dicegah, sebab kemungkinan besar sebentar lagi terjadi gempa susulan. Iapun pulang pagi harinya. Dan didapatinya rumah orang tuanya hancur sama sekali. Padahal waktu bencana terjadi itu, ia sebenamya akan menikahkan anaknya. Akibat gempa terjadi, untuk sementara ia tak urus itu pemikahan anaknya.

Bagaimana?

Sementara itu, kini pihak Pemerintah Daerah Bali masih merasa kesulitan dengan maksud mereka untuk mengadakan lomba desa terbaik untuk menyambut 17 Agustus mendatang karena sebagian besar desa di daerah bencana menjadi hancur total, maka soal lomba itu masih menjadi pertanyaan : Bagaimana jadinya? (DTS)

Sumber: SUARA KARYA (17/07/1976)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 258-261.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.