SAMBUTAN PRESIDEN DIJADIKAN DOKUMEN PENTING SIDANG OKI

SAMBUTAN PRESIDEN DIJADIKAN DOKUMEN PENTING SIDANG OKI[1]

 

 

Jakarta, Antara

Sambutan Presiden Soeharto pada acara Pembukaan Muktamar ke-6 Menteri Wakaf dan urusan Islam Organisasi Konferensi Islam (OKI) ditetapkan sebagai rujukan dan dokumen penting Muktamar .

Ketetapan itu dicapai melalui persetujuan secara aklamasi oleh para peserta sidang pleno hari ketiga, yang dipimpin langsung Menteri Agama RI Dr. H. Tarmizi Taher, demikian Ketua Bidang Publikasi dan Penerangan Panitia Muktamar, Muchtar Zarkasi kepada pers di Jakarta Jumat.

Selain itu, sidang pleno menyelesaikan pembahasan makalah tentang pengenalan Islam melalui berbagai bahasa dan dilanjutkan pembahasan tentang keorganisasian OKI.

Tentang pengenalan Islam melalui berbagai bahasa dapat disimpulkan bahwa bahasa merupakan sarana ekspresi substansial keberadaan, baik Al-Khaliq maupun makhluk.

“Iqra” merupakan wahyu pertama, perintah kepada Nabi Besar Muhammad S.A.W. Baik konseptual maupun kontekstual, bahasa merupakan dasar eksistensi segala sesuatu dan sekaligus bersifat Epistemologi Islami, termasuk agama Islam.

Mekanisme memperkenalkan Islam dilakukan melalui penerbitan buku-buku dan majalah-majalah serta penerbitan lainnya, kemudian diterjemahkan ke berbagai bahasa serta mengadakan kerjasama dengan berbagai universitas Islam dan Pusat Riset Islam dalam bidang Penerbitan Buku-buku dan publikasi lainnya dan diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Di samping itu, pembentukan program penerangan Islam, baik audio maupun visual dan memperhatikan pembentukan program saluran satelit untuk penyiaran program keagamaan Islam dan diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia, dipandang perlu terus dilanjutkan.

Untuk itu, perlu dibangun Stasiun Siaran Satelit Islam di salah satu negara Islam yang menyiarkan program-programnya dalam bahasa-bahasa penting dunia.

Upaya itu terutama dimaksudkan sebagai koreksi dan bantahan terhadap siaran­-siaran yang mendiskreditkan Islam yang mengecap/menilai Islam sebagai agama ekstrim, teror serta memperbaiki citra Islam, antara lain dengan membentuk pusat­-pusat Islam di negara-negara barat.

Adapun upaya memperkenalkan Islam terhadap non Muslim, hendaknya diperhatikan karakteristik masing-masing bangsa serta mengangkat hal yang mempertemukan antara Islam dan agama lain, di bidang akidah, moral dan hukum yang mengajak untuk menghormati hak-hak orang lain melalui dialog antara agama dan bangsa untuk melakukan pendekatan dan pengenalan.

 

Sidang Komisi

Sejalan dengan makalah-makalah substansi yang telah dipaparkan dalam sidang­-sidang pleno, lima Komisi (Working Group) terus mematangkan pembahasan tentang masalah yang telah diprogramkan semula.

Komisi I membahas masalah dakwah, Komisi II membahas keorganisasian, Komisi III membahas masalah wakaf, Komisi IV membahas warisan budaya Islam dan Komisi V membahas masalah pengenalan Islam.

Dalam sidang-sidang komisi tersebut, Indonesia menampilkan lima makalah utama masing-masing, Pengenalan tentang Islam melalui berbagai bahasa oleh Dr. Nurcholish Madjid, Pemeliharaan warisan budaya Islam oleh Prof Dr. Mu’arif Ambari.

Selanjutnya, Dakwah Islam dan rekruitmen Da’i oleh Dr. Alwi Shihab, tukar pengalaman dan informasi tentang wakaf oleh DR. Sofwan Idris dan Kesepakatan kerjasama Menteri-menteri Wakaf dan Urusan Islam oleh Prof H. A. Malik Fajar MSc.

Bertepatan dengan pelaksanaan sembahyang Jum’at, peserta Muktamar melaksanakannya pada empat lokasi yaitu Masjid Istiqlal, Masjid Sunda Kelapa, Masjid Agung Al-Azhar dan Masjid Pondok Indah.

Sementara itu, di tengah pelaksanaan Muktamar, sebagian delegasi mengadakan audiensi dengan Wapres dan para Menteri.

Menteri Waqaf dan Urusan Islam Libya, Palestina, Bahrain, Qatar dan Emirat mengadakan kunjungan kehormatan kepada Wapres Try Sutrisno.

Menteri Waqaf dan Urusan Islam Republik Arab Mesir dan Iran, masing-masing dengan rombongan, kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro.

Delegasi negara-negara dari Afrika dan Bangladesh dengan Menteri Kependudukan Haryono Sujono. Delegasi dari Tunisia dengan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Joop Ave. Delegasi dari Sudan dengan Menteri Penerangan R.Hartono.

(F.PU02/SU05/B/DN05/16 :10/RB)

Sumber: ANTARA (31/10/1997)

________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 541-543.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.