Saleh Afiff: Pak Harto Mengambil Keputusan Besar Dan Mendasar (Bagian 1)

Mengambil Keputusan Besar Dan Mendasar (Bagian 1)[1]

Saleh Afiff [2]

 

Saya mendengar nama Jenderal Soeharto untuk pertama kalinya pada waktu saya tengah melaksanakan tugas belajar di luar negeri. Pada waktu itu, setelah meledaknya peristiwa kudeta berdarah G-30-S/PKI, nama beliau muncul dalam berita berbagai media massa sebagai pemimpin ABRI yang telah berhasil menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia dari ancaman gerakan komunisme yang berkulminasi pada peristiwa G-30-S tersebut. Saya sadari bahwa saat itu adalah detik-detik yang sangat menentukan perkembangan sejarah bangsa dan negara Indonesia. Keberhasilan Jenderal  Soeharto menumpas G-30-S/PKI, merupakan titik balik dalam sejarah bangsa ini dan sekaligus suatu langkah awal yang sangat strategis bagi konsolidasi, rehabilitasi, dan perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan di bidang politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.

Saya masih ingat kesempatan untuk pertama kalinya bertatap muka dengan beliau, yaitu pada tahun 1968 dalam suatu sidang kabinet terbatas. Pada waktu itu saya menjabat Kepala Biro Pertanian dan Pengairan Bappenas, dan menghadiri sidang tersebut atas permintaan Prof. Widjojo Nitisastro yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua Bappenas. Kehadiran saya dalam sidang tersebut adalah untuk mendengarkan petunjuk beliau mengenai masalah krisis beras yang sedang melanda negara kita. Sebagai seorang ahli ekonomi pertanian yang baru saja menyelesaikan pendidikan, saya sangat terkesan dengan petunjuk Bapak Soeharto yang bernas, dan disampaikan secara sistematis, jelas dan dengan nada yang tegas. Itu semua jelas menggambarkan pengetahuan dan penguasaan yang luas serta mantap mengenai berbagai permasalahan pertanian yang dihadapi serta pengertian yang sangat dalam akan peranan beras bagi seluruh lapisan masyarakat, bagi kehidupan bangsa, dan pengaruhnya dalam perekonomian Indonesia.

Dalam tahun-tahun berikutnya sebagai Kepala Biro Pertanian dan Pengairan di Bappenas antara tahun 1967-1973, kemudian sebagai Deputy Ketua Bappenas Bidang Ekonomi antara tahun 1973-1983, tidak banyak kesempatan saya untuk bertatap muka dengan beliau. Dalam kurun waktu 1983-1990, sebagai menteri Kabinet Pembangunan IV dan V saya mendapat lebih banyak kesempatan untuk mengenal beliau secara lebih dekat. Dalam sebagian dari tulisan ini saya ingin mengungkapkan beberapa pengalaman saya yang memberikan gambaran sekilas mengenai beberapa segi dari kepribadian dan kepemimpinan Bapak Soeharto. Di bagian lain saya akan membahas beberapa aspek dari kebijaksanaan pembangunan yang didasarkan atas pandangan, pemikiran dan keputusan-keputusan strategis beliau, yang telah menghasilkan landasan perekonomian yang mantap bagi pembangunan dalam dasawarsa 1990-an.

Permasalahan-permasalahan pembangunan dalam kurun waktu 1967-1983 adalah demikian mendasar dan kompleks. Orde Baru mewarisi keadaan ekonomi yang kacau, yang ditandai dengan tingkat inflasi yang sangat tinggi, kebutuhan dasar yang langka, sarana produksi yang tidak berfungsi,  cadangan devisa yang kosong, prasarana irigasi, jalan, jembatan dan pelabuhan yang rusak, disertai kekacauan di bidang politik yang bersifat antagonistis, serta keadaan aparatur negara yang lemah. Dibawah pimpinan Bapak Presiden Soeharto secara bertahap keadaan tersebut dibenahi. Pertama-tama, keadaan ekonomi dalam negeri diperbaiki melalui proses konsolidasi, rehabilititsi, stabilisasi dan  perombakan total sistem ekonomi, moneter dan fiskal serta dengan membuka perekonomian kita terhadap penanaman modal. Langkah-langkah pembenahan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Repelita I, II dan III.

Dalam kurun waktu tersebut, khususnya pada tahun-tahun awal 1970-an dan awal 1980-an, kita menghadapi ujian-ujian berat dari dalam dan dari luar. Dari dalam, pada tahun-tahun awal 1970-an, ekonomi Indonesia menghadapi musim kemarau yang panjang yang berakibat terganggunya persediaan dan harga beras, dengan demikian mengancam stabilitas ekonomi. Pada awal tahun 1980-an, dari luar ekonomi Indonesia menghadapi ancaman akibat terjadinya macam-macam krisis ekonomi dan moneter internasional, juga krisis energi, dengan berbagai implikasinya di bidang perdagangan, neraca pembayaran, dan kerjasama ekonomi luar negeri. Permasalahan yang demikian mendasar dan kompleks dan keadaan yang penuh tantangan dan gejolak, dihadapi oleh Bapak Presiden dengan jernih, tenang, konsisten, dan tegas. Hasil yang telah dicapai menunjukkan kemampuan beliau dalam menganalisa situasi, perkembangan dan permasalahan secara komprehensif terpadu, kemampuan dalam berpikir strategik serta keberanian mengambil keputusan pada saat yang tepat.

Dalam periode 1983-1990 saya lebih banyak berkesempatan untuk mengenal beliau secara lebih dekat. Beberapa peristiwa berikut ini barangkali dapat memberikan gambaran mengenai pribadi Bapak Presiden Soeharto. Pertama kali saya berhadapan muka sendiri adalah pada bulan Maret 1983, di kediaman beliau di Jalan Cendana. Pada kesempatan tersebut beliau menanyakan kesediaan saya untuk menjadi pembantu beliau sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara/Wakil Ketua Bappenas. Tetapi pertanyaan tersebut tidak disampaikan pada menit-menit pertama pertemuan. Saya ingat waktu itu adalah hari Minggu. Kata-kata yang pertama kali beliau ucapkan adalah menanyakan kepada saya apakah tidak bepergian ke luar kota. Untuk beberapa waktu pembicaraan meliputi hal sehari-hari. Pertanyaan, percakapan, sikap dan cara-cara beliau tersebut sudah tentu menenangkan saya.

Rupanya hal tersebut sudah merupakan kebiasaan beliau karena dalam pertemuan-pertemuan saya berikutnya sampai saya menulis kesan-kesan ini, terutama kalau bertemu di Jalan Cendana, beliau memulai pertemuan dengan membicarakan hal yang ringan dan tidak langsung menanyakan ataupun membahas permasalahan yang berat atau laporan yang ingin saya sampaikan. Saya memandang hal ini sebagai pencerminan dari keramahan, keakraban, dan kebapakan, suatu segi kepribadian beliau yang tidak akan saya lupakan.

Hal lain yang sangat mengesankan adalah kesederhanaan dan kesahajaan beliau. Dalam pertemuan pertama tersebut beliau memakai batik lengan pendek pakai sandal dan mengisap rokok klobot. Ruang kerja di Jalan Cendana dimana beliau menerima pembantu beliau adalah sederhana, tidak berlebihan tetapi cukup fungsional. Tiap kali saya menghadap selalu disajikan minuman teh dan makanan kecil sehari-hari. Bahkan saya pernah diterima dengan beberapa menteri lainnya di Istana Merdeka pada siang hari dan yang disajikan adalah supermie. Gambaran kesederhanaan pribadi beliau juga tercermin dari keprihatinan beliau apabila acara dan upacara penerimaan beliau di daerah berlebihan. Berulang kali saya mendengar beliau mengingatkan, memberi pesan dan petunjuk kepada para menteri untuk menyederhanakan acara-acara dan upacara-upacara peresmian atau kunjungan kerja ke daerah-daerah.

Disamping itu, pada tiap kesempatan saya menghadap, sendiri atau bersama dengan menteri lain, adalah kebiasaan beliau untuk menyambut dengan berdiri dan menyalami kami. Demikian juga halnya pada waktu kami meninggalkan ruangan kerja beliau seusai pertemuan. Hal ini mencerminkan kepribadian seorang pemimpin yang menghargai para pembantunya. Sifat yang sama saya rasakan juga pada waktu saya bersama dua puluh lebih pejabat tinggi lainnya menerima bintang di istana. Satu per satu kepada pejabat tinggi tersebut beliau sematkan bintang dan selempangnya dengan sangat teliti dan benar, agar bintang dan selempang tersebut tepat dan rapi duduknya.

Kebapakan, keakraban dan keramahan Bapak Soeharto saya rasakan betul selama saya menjadi pembantu beliau sebagai menteri. Dua kejadian tidak akan mudah saya lupakan. Pertama, pada waktu saya pamit untuk berobat ke luar negeri; dan kedua, pada waktu saya akan menikahkan putera saya.

Dalam tahun 1986 para dokter di Indonesia berpendapat bahwa saya memerlukan pemeriksaan lebih lanjut di luar negeri. Beberapa hari sebelum berangkat, saya menghadap di kediaman beliau pada malam hari. Sebagaimana biasanya beliau tidak langsung menanyakan tujuan saya untuk menghadap, tetapi memulai percakapan dengan memberikan komentar mengenai hujan yang pada waktu itu turun dengan derasnya. Dari hujan, pembicaraan menyambung ke sektor pertanian yang dalam tahun sulit itu diandalkan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi. Pada waktu saya sampaikan pendapat para dokter mengenai diperlukannya pemeriksaan lebih lanjut, beliau menunjukkan keprihatinannya yang sungguh mengharukan saya. Secara panjang lebar beliau memberikan nasihat dan terseling didalamnya pengalaman pribadi beliau. Beliau menekankan sekali pentingnya menjaga kesehatan melalui pemeriksaan yang teratur dan olah raga. Seusai pertemuan tersebut, kesan saya adalah bukan sebagai pertemuan seorang kepala negara dengan salah seorang pembantunya, tetapi lebih sebagai pertemuan kekeluargaan.

Pengalaman kedua adalah pada waktu saya menghadap dan memberitahukan rencana saya untuk menikahkan putera saya sambil memohon kesediaan beliau dan Ibu Soeharto untuk menerima saya sekeluarga sebelum atau sesudah upacara penikahan. Dalam pertemuan tersebut, dan pertemuan berikutnya beserta kami sekeluarga, beliau menyampaikan nasihat yang bukan saja mengesankim saya tetapi terutama kedua mempelai baru. Sukar untuk menjabarkan perasaan kami sekeluarga atas pertemuan tersebut, tetapi yang tidak akan saya lupakan dan merupakan cetusan spontan dari seorang yang baru pertama kali bertatap muka dengan beliau adalah kata­kata menantu saya di mobil dalam perjalanan pulang: “Bapak Presiden baik yah!”.

Bagi para pembantu beliau, saya kira, hal yang juga sangat mengesankan adalah ketajaman·beliau menganalisa permasalahan yang mereka laporkan, sehingga dengan cepat beliau dapat mengambil keputusan yang tepat, apalagi jika laporan yang disampaikan itu disertai data-data kuantitatif. Analisa kuantitatif beliau sangat tajam terutama dalam menghubungkan data-data tersebut satu sama lain untuk menilai kebenaran dan konsistensi laporan. Keputusan beliau didasarkan dan diarahkan secara konsisten pada tercapainya tujuan-tujuan pembangunan yang berwawasan strategi jangka panjang, tanpa melupakan urgensi permasalahan kongkrit dalam jangka pendek. Hal ini di satu pihak mencerminkan idealisme dan kenegarawanan beliau selaku Mandataris MPR, dan di lain pihak menunjukkan pragmatisme seorang pemimpin pemerintahan yang sangat efektif.

Ketajaman analisa tersebut diiringi oleh kuatnya ingatan mengenai hal-hal yang pernah dilaporkan kepada beliau, terutama mengenai angka-angka. Dalam pertemuan dengan tamu dari luar negeri beliau memberikan penjelasan secara runtut dan mendalam tanpa teks dan menggunakan angka-angka. Misalnya, dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Takeshita pacta tahun 1989 beliau menyebutkan antara lain jumlah utang yang harus kita bayar tahun itu dan nilai yen terhadap US$ yang berlaku tahun 1985 tanpa melihat kertas yang ada di depan beliau. Kekuatan ingatan ini mendorong para pembantu beliau untuk selalu berhati-hati dalam mengajukan angka. Sebelum menyampaikan sesuatu laporan saya harus yakin betul-betul bahwa angka yang dilaporkan sudah mantap.

Kesan-kesan yang saya kemukakan di atas mengenai Bapak. Presiden Soeharto agak berbeda dengan pendapat yang beranggapan bahwa proses pengambilan keputusan oleh Bapak Presiden pada umumnya berjalan lambat. Ini tidak benar. Bahkan beliau ada kalanya tidak sabar dengan pembantu beliau yang lambat memberikan·bahan yang diperlukan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Kesan lain mengenai kepemimpinan beliau yang menonjol adalah sikap konsisten beliau untuk senantiasa menjaga keserasian dan kerjasama institusional antara pembantu beliau, dengan selalu memberikan tanggungjawab atas sesuatu persoalan sesuai bidang tugas kelembagaan masing-masing. Hal ini sangat penting dalam upaya pembinaan kelembagaan (institutional building).

Sepanjang ingatan saya, saya tidak pernah melihat Bapak Presiden tampak marah kepada para pembantunya. Kalaupun beliau marah maka hal itu tidak kelihatan secara nyata. Barangkali tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa adalah tidak mudah untuk membaca reaksi beliau terhadap suatu Iaporan. Hal ini kadangkala memang mempersulit para pembantu beliau. Misalnya, dalam suatu pertemuan dengan beberapa menteri, seusai pertemuan tersebut ada yang berpendapat bahwa Bapak Presiden marah benar terhadap suatu langkah kegiatan, sedang sebaliknya ada yang berpendapat bahwa beliau biasa-biasa saja. Dapat disampaikan bahwa yang terakhir adalah seorang menteri baru, yang belum cukup lama mengenal beliau. Kemarahan beliau tidak tercerminkan dalam suara atau air muka, tetapi tersirat dalam kata dan kalimat.

Sebagaimana kita semua masih ingat, dasawarsa 1980-an yang lalu merupakan dasawarsa yang penuh dengan tantangan dan percobaan bagi perekonomian Indonesia. Berbagai segi perkembangan ekonomi dunia sangat merugikan. Selama periode 1983-1986 harga riil minyak bumi merosot sekitar 60%. Pengaruh penurunan harga ini sangat besar bagi perekonomian Indonesia. Sektor minyak bumi memberikan sumbangan sekitar 80% dari penerimaan devisa ekspor dan sekitar 70% penerimaan pemerintah pada tahun 1981/1982. Harga barang-barang ekspor tradisional juga mengalami penurunan yang cukup besar sebagai akibat dari resesi dunia di awal tahun 1980-an. Sementara itu, untuk periode 1985-1988, kenaikan nilai beberapa mata uang asing terhadap dolar AS timbul sebagai sumber kesulitan lainnya, oleh karena sebagian besar utang luar negeri Indonesia adalah dalam mata uang yang nilainya naik terhadap dolar AS. Sebagai akibat dari kombinasi harga minyak yang rendah dan kenaikan nilai tukar beberapa mata uang asing tersebut beban peIunasan kembali utang Iuar negeri meningkat tajam.

Dalam menghadapi perkembangan tersebut, Bapak Presiden telah mengambil langkah yang sangat berani dan tepat dilihat dari segi politik dan ekonomi. Seperti kita ketahui, untuk mengatasi keadaan itu telah dilakukan serangkaian tindakan penyesuaian. Tujuan yang ingin dicapai dari berbagai kebijaksanaan penyesuaian tersebut adalah, dalam jangka pendek, mempertahankan stabilitas perekonomian dengan mengembalikan keseimbangan perekonomian yang terganggu, dan dalam jangka yang panjang meningkatkan daya tahan ekonomi dengan meningkatkan efisiensi ekonomi dan sekaligus mengurangi ketergantungan perekonomian pada sektor minyak dan gas  bumi.

Dalam rangka mengembalikan keseimbangan fiskal, maka pengeluaran negara dibatasi pada pembiayaan program-program yang mempunyai prioritas tinggi dan sifatnya mendesak. Sementara itu penerimaan negara ditingkatkan melalui reformasi perpajakan yang meliputi Undang-undang Pajak Pendapatan (1 Januari 1984), Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai (1 April 1985) dan Undang-undang Pajak Bumi dan Bangunan (1 Januari 1986). Guna menjaga keseimbangan neraca pembayaran dan untuk mendorong daya saing produk dalam negeri, maka nilai tukar rupiah disesuaikan (“devaluasi”) dalam tahun 1983 dan 1986. Kebijaksanaan fiskal dan moneter yang serasi telah membantu mempertahankan nilai tukar yang kompetitif, menekan inflasi, mencegah pelarian modal ke luar negeri dan memobilisasi sumber dana masyarakat. Deregulasi di bidang moneter tahun 1983 telah meningkatkan kemampuan otoritas moneter dalam mengelola perkembangan moneter. Kebijaksanaan tersebut dimantapkan lebih lanjut dengan deregulasi tahap kedua bulan Oktober 1988 dan Desember 1988 serta Januari 1990 guna meningkatkan efisiensi lembaga keuangan dan perbankan.

Disamping itu semua, telah pula dilaksanakan serangkaian kebijaksanaan deregulasi di bidang perdagangan, industri, investasi dan pengangkutan guna meningkatkan efisiensi perekonomian nasional dan menjaga agar pertumbuhan ekonomi tetap dapat dipertahankan pada tingkat yang layak. Dengan demikian tujuan-tujuan pembangunan, sebagaimana digariskan dalam GBHN dan dijabarkan dalam Repelita, tetap dapat diupayakan pencapaiannya secara optimal dan efektif.

Mereka yang ikut membantu beliau dalam mengatasi masa­masa sulit itu, pasti merasakan kekuatan dan ketegaran Presiden Soeharto dalam memimpin bangsa ini. Lebih-lebih lagi apabila kita ingat bahwa banyak kepala negara lain yang menghadapi tantangan serupa tidak berani mengambil keputusan sebagaimana mestinya, sehingga menyebabkan ketidakstabilan bahkan kemandegan pertumbuhan ekonomi dan mengakibatkan gejolak sosial politik.

***

 


[1] Saleh Afiff, “Kemajuan Dengan Kesinambungan”, dikutip dari buku “Di Antara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun”, (Jakarta: PT. Citra Kharisma Bunda, 2009), hal 354-369.

[2]  Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dalam Kabinet Pembangunan V.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.