SABANG DITETAPKAN SEBAGAI PUSAT PERIKANAN DAN KAWASAN BERIKAT

SABANG DITETAPKAN SEBAGAI PUSAT PERIKANAN DAN KAWASAN BERIKAT[1]

 

Banda Aceh, Antara

Gubernur Aceh Syamsuddin Mahmud mengatakan, untuk menghadapi ekonomi global, pemerintah telah menetapkan Sabang sebagai pusat perikanan dan kawasan berikat.

“Dalam hubungan ini Pelabuhan Sabang dapat difungsikan secara lebih efektif dan lebih bermanfaat bagi kehidupan ekonomi nasional, lebih-lebih lagi di masa mendatang.” kata Syamsuddin Mahmud, dalam sambutannya pada acara pencanangan bulan Bhakti LKMD-LMD yang diresmikan Presiden Soeharto di Pidie, Kamis.

Dalam pencanangan bulan Bhakti LKMD dan Pekan Orientasi LMD yang berlangsung di Desa Keuniree, Pidie, Daerah Istimewa Aceh, sekitar 116 km arah timur Banda Aceh itu, Presiden juga meresmikan listrik masuk desa.

Syamsuddin Mahmud pada kesempatan itu juga melaporkan bahwa rata-rata laju pertumbuhan ekonomi daerah Aceh selama tiga tahun Pelita VI berada di atas target yang telah ditetapkan, yakni dari 7,88 persen di tahun 1993,naik menjadi 8,05 persen pada tahun 1995 dan 7,13 persen di tahun 1996.

“Selama tiga tahun itu, realisasi rata-rata laju pertumbuhan ekonomi adalah 8,3 persen.” katanya.

Menurut Gubernur, kemajuan di sektor pertanian yang relatif cepat terjadi setelah dicanangkan gerakan Opsus Gelora Petani “Makmue Nanggroe” oleh Presiden Soeharto di Desa Lhueng Baro, Seunagan, Aceh Barat pada tahun 1986.

Selain itu, Gubernur melaporkan pembangunan irigasi di provinsi berpenduduk sekitar 3,7 juta jiwa itu juga mendapat prioritas utama dalam upaya menjamin ketersediaan pangan nasional dan mempertahankan status daerah sebagai salah satu lumbung beras nasional.

Pembangunan jaringan irigasi baru akan terus dilanjutkan, sehingga pada akhir Pelita VI seluas 210.000 hektare sawah akan dapat diairi oleh irgasi teknis, lanjutnya.

Selain jaringan irigasi baru, Pelita VI juga mengutamakan pembangunan jaringan irigasi kecil dan irigasi pedesaan yang ditargetkan seluas 43.532 hektare yang diharapkan selesai dalam masa tiga tahun, terutama menyangkut dengan daerah-daerah terpencil.

Menurut Gubernur, kesenjangan dan tingginya jumlah desa tertinggal dan miskin di Daerah Istimewa Aceh, salah satu penyebabnya adalah lokasi desa-desa itu tersekat dalam “kantong-kantong” yang belum memiliki jalur hubungan jalan.

“Desa-desa itu berada di bagian pedalaman atau bagian tengah yang terisolasi dari wilayah pesisir sehingga susah dijangkau.” katanya.

Membuka Kantong Kemiskinan Upaya membuka “kantong-kantong” kemiskinan ini telah mendapat restu Presiden ditandai penyediaan anggaran untuk pembangunan jalan-jalan tembus yang menghubungkan wilayah pedalaman dan wilayah pesisir.

Kini jalan-jalan itu telah selesai dibangun sebanyak 16 ruas jalan dengan panjang 1.402 km dan sepanjang 969 Km (69,11 persen) telah tembus dan dapat dinikmati masyarakat Aceh yang bermukim di wilayah pedalaman.

Dikatakannya, dari sepanjang 969 km jalan yang telah tembus, sepanjang 179 km (18,47 persen) masih dalam kondisi berpermukaan tanah, 606 km (62,54 persen) berpermukaan kerikil serta 184 km (18,98 persen) beraspal.

“Masyarakat Aceh mengharapkan ruas jalan-jalan tembus itu dapat ditingkatkan.” katanya.

Dari derap pembangunan jalan yang telah dilaksanakan, yang terpenting adalah selesainya pembangun an peningkatan kualitas jalan nasional dari Seulimum ke Peudada sepanjang 161 Km yang menghubungkan Aceh Besar, Pidie dan Aceh Utara.

Jalan tersebut merupakan poros urat nadi perhubungan dan perekonomian rakyat Aceh di pantai utara, sebagai kawasan industri strategis dan vital di tanah air.

Pacta kesempatan itu, Gubernur atas nama rakyat Aceh menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaan terhadap kebijaksanaan Presiden yang menetapkan Pahlawan nasional, Tjut Nyak Dhien sebagai simbol salah satu mata uang RI yang akan beredar.

Tjut Nyak Dhien adalah pahlawan nasional wanita Aceh semasa perang colonial Belanda yang dibuang ke Jawa Barat serta meninggal dan dimakamkan di Sumedang.

Sumber : ANTARA (13/03/1997)

_________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 276-278.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.