RUPIAH MEROSOT SESAAT SAJA

RUPIAH MEROSOT SESAAT SAJA[1]

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Terjadinya sedikit gejolak dalam pasar uang dan pasar modal Indonesia (terjadi penurunan nilai rupiah terhadap dolar, mulai Kamis 4/7 lalu) berkaitan dengan berita kesehatan Presiden Soeharto hanya akan bersifat  sesaat saja. Kondisi  moneter Indonesia tidak akan terpengaruh karena secara fundamental ekonomi kita cukup kuat.

Gejolak di pasar uang dan pasar modal Indonesia itu terjadi, hanya karena ulah para spekulan di Singapura yang mengaitkan rupiah dengan berbagai pemberitaan media luar negeri tentang kondisi kesehatan Presiden Soeharto.

Hal tersebut diungkapkan secara terpisah oleh pengamat ekonomi Pande Radja Silalahi ketika dihubungi Pembaruan di Jakarta, Minggu malam dan Direktur Eksekutif Bank Bali, Agam Napitupulu serta General Manager Bank Bali, Maman Suratman di sela-sela acara penanaman 30 spesies tanaman langka yang disponsori Bank Bali di kampus Darmaga IPB, Bogor.

Nilai rupiah yang merosot terhadap dolar di Singapura, membuat sedikit gejolak di pasar uang dan modal Indonesia itu setelah Mensesneg Moerdiono menegaskan rencana keberangkatan Presiden Soeharto ke Eropa, Minggu malam untuk melakukan medical check-up rutin. Sesuai rencana pada Minggu malam, Presiden Soeharto bertolak ke salah satu negara di Eropa untuk melakukan medical chek-up. Selanjutnya, Pande Radja Silalahi mengatakan, ada spekulasi yang dilakukan para spekulan di Singapura tentang kesehatan Presiden. Namun begitu hal tersebut perlu diperhitungkan dan diwaspadai, sebab bisa menimbulkan perasaan ketidakpastian pada masyarakat dan bisa mengganggu psikologis pasar.

Sementara Direktur Eksekutif Bank Bali, Agam Napitupulu berpendapat, isu yang berkembang itu harus segera “dipotong” agar tidak terjadi rush dolar AS.

“Saya yakin terjadinya penurunan rupiah terhadap dolar hanya bersifat tentatif Ekonomi kita cukup kuat, cadangan devisa pun cukup untuk lima bulan. Jadi tidak perlu terlalu khawatir.” Ujarnya.

General Manager Bank Bali, Maman Suratman juga mengungkapkan hal senada.

“Lihat saja meski ada isu mobil nasional, kepercayaan Jepang terhadap Indonesia malah semakin bagus. Saya tidak melihat kalau gejolak di pasar uang dan pasar modal akan berlangsung lama.” katanya.

Maman menambahkan, ekspor Indonesia juga semakin membaik dan pemerintah sudah hati-hati dalam membuat kebijakan yang mengarah ke AFTA dan APEC. Selain itu, sudah ada jaminan dari otoritas moneter bahwa tidak akan terjadi devaluasi.

Gejolak Politik

Selanjutnya, Pande Radja Silalahi menegaskan, kita tidak perlu mengkhawatirkan gejolak penurunan rupiah terhadap dolar karena hanya akan bersifat sementara.

Namun begitu menurut Pande Radja, sebenarnya yang jadi masalah bukan isu kesehatan Presiden Soeharto semata. Tetapi pemerintah harus segera mengambil tindakan yang bijaksana terhadap gejolak politik yang justru terjadi sekarang ini (kasus di tubuh Partai Demokrasi Rakyat/PDI) sebab hal ini bisa menimbulkan ketidakpastian di masyarakat.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (08/07/1996)

____________________________________________________________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 342-344.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.