RI-VENEZUELA SEPAKAT SALING PASOK KOMODITAS

RI-VENEZUELA SEPAKAT SALING PASOK KOMODITAS

 

 

Caracas, Venezuela, Suara Karya

Indonesia mengharapkan KTT Kelompok-15 ke-2 di Caracas yang akan berlangsung 27-29 November ini dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang dapat memacu lebih pesat lagi kerja sama Selatan-Selatan dan menghidupkan kembali dialog Utara-Selatan, dengan begitu KTT dapat memberi sumbangan nyata bagi penyelesaian masalah-masalah pembangunan yang dihadapi negara-negara berkembang dan keadilan dunia pada umunmya.

Harapan itu disampaikan Presiden Soeharto dalam jamuan makan malam kenegaraan yang diselenggarakan oleh Presiden Venezuela, Carlos Andres Perez di Istana La Casona, Caracas, Senin (Selasa pagi wib).

Menurut Kepala Negara, perkembangan dunia yang cepat dan mendasar dalam hubungan internasional akhir-akhir ini, perlu disambut dengan hati lega dan penuh harapan. Perang dingin terus mereda. Ketegangan internasional makin berkurang. Di mana-mana, dan semua pihak ingin menggunakan dialog guna menyelesaikan berbagai konflik dan sengketa.

Wartawan Suara Karya Agustianto yang mengikuti peijalanan Presiden Soeharto ke Venezuela, Selasa malam melaporkan bahwa ada rasa keprihatinan saat ini. Perkembangan yang positif melalui dialog tersebut tidak diikuti oleh perbaikan pola hubungan antara negara-negara maju dan negara-negara berkembang di bidang ekonorni. Bahkan sebaliknya terlihat melebar kesenjangan antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang. “Jika tidak diatasi secara mendasar, keadaan ini dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan yang menjadi awal bencana di masa mendatang,” tegas Kepala Negara.

Kepala Negara menyerukan agar dialog Utara-Selatan dilanjutkan. Untuk itu kerja sama ekonomi Selatan-Selatan perlu diperluas dan dimantapkan dengan melaksanakan secara sungguh-sungguh program -program yang telah disepakati.

Negara-negara berkembang perlu membina dan meningkatkan pola-pola kerja sama ekonomi dan teknis sehingga dapat tercipta suatu kemandirian bersama.

 

Penghormatan Pahlawan

Hari Senin yang merupakan hari kedua kunjungan Presiden ke Caracas diawali dengan ziarah ke makam pahlawan Venezuela, Simon Bolivar. Dari tempat bersejarah itu Presiden lalu melakukan pembicaraan empat mata dengan Presiden Carlos Andres Perez.

Dalam acara-acara resmi lagu kebangsaan Indonesia Raya selalu dikumandangkan, sehingga sepanjang hari Senin ini dikumandangkan sampai 6 kali.

Presiden dan Ny Tien Soeharto serta rombongan, tiba di Caracas, Venezuea, Minggu pukull6.00 waktu setempat (Senin, 25/11) pukul 03.00 dini hari), setelah terbang sekitar 6 jam iebih dari Cancun, Meksiko.

Dalam kunjungannya di Caracas, Venezuela, Presiden Soeharto selain mengadakan kunjungan kenegaraan, sekaligus memirnpin delegasi Indonesia dalam KTT ke-2 Kelompok Tingkat Tertinggi untuk konsultasi dan kerja sama Selatan­ Selatan (KIT G-15) hingga 30 November mendatang.

Hari pertama kunjungan Presiden dan Ny Tien Soeharto di Caracas, setelah tiba di Hangar Nomor 4, Maiqueta Bandara Simon Bolivar, langsung menuju Hotel Caracas Hilton untuk istirahat. Di Bandara Simon Bolivar, yang suhunya sekitar 25 derajat celsius itu Presiden dan rombongan disambut Presiden Venezuela Carlos Andres dan istri serta Duta Besar Rl untuk Venezuela Joedo Sumbono. Presiden Carlos yang mulai berkuasa sejak Februari 1989 itu kemudian mengajak tamunya ke mimbar kehormatan untuk menerima penyambutan secara Kebesaran militer.

Upacara penyambutan diawali dengan diperdengarkannya lagu kebangsaan Venezuela Gloria Ia Bravo dan diteruskan dengan lagu Indonesia Kaya. Usai upacara penyambutan, Presiden dan rombongan langsung menuju Hotel Caracas Hilton untuk beristirahat.

 

Perjanjian

Acara Presiden Soeharto hari ketiga di Venezuela, Selasa (26/11), menyaksikan penandatanganan dokumen perjanjian kerja sama RI-Venezuela yang akan dilakukan kedua Menlu. Kegiatan selanjutnya menanam pohon kenangan di Taman Perdamaian Dunia.

Indonesia aku memasok barang-barang konsumsi serta barang modal kepada Venezuela, setelah ditandatanganinya perjanjian kerjasama di bidang ekonomi dan teknik kedua negara yang dilakukan di Istana Negara Miraflores.

Venezuela sebagai imbalannya akan memasok aluminium yang produksinya sudah maju kepada Indonesia. Sebab, Indonesia meskipun sudah mulai memproduksi aluminium, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Kesepakatan itu dicapai dalam pembicaraan paralel antara pejabat tinggi Rl­ Venezuela yang berlangsung di lstana Negara Miraflores, dan bersamaan dengan itu juga dilakukan pembicaraan empat mata antara Presiden Soeharto dengan Presiden Carlos, Penandatanganan naskah kerja sama ini sebagai langkah konkret kunjungan Presiden Soeharto ke Venezuela.

Venezuela juga mengharapkan bantuan ahli pertanian untuk mengembangkan produksi beras di negara itu. Permintaan tersebut disampaikan Venezuela setelah memperoleh penjelasan bahwa Indonesia telah berhasil berswasembada beras setelah melalui petjuangan keras. Sebaliknya, Venezuela akan mengirim tenaga ahli bidang perminyakan untuk mengolah minyak bruni berat di Indonesia.

 

Perdagangan

Perdagangan antara kedua negara, kata Radius, lebih mudah dikembangkan, karena sama-sama menerapkan sistem ekonomi yang terbuka,produk-produk kedua negara semakin bisa bersaing yang memungkinkan peluang investasi. Meskipun letak geografis kedua negara jauh, dengan sistem komunikasi informasi perdagangan kedua negara dapat ditingkatkan.

Venezuela juga menjelaskan, bahwa pihaknya kinitengab merintis pembebasan tariff bea masuk dengan Amerika, Brasil, dan Chili, atau negara-negara Amerika Latin, agar secara selektif untuk barang-barang tertentu tidak dikenakan bea masuk.

Kunjungan Presiden Soebarto yang bersifat bilateral ke Venezuela ini ingin memperoleh hasil yang konkret. Untuk itu, ahli-ahli pertanian RI yang juga menjadi delegasi dalam KTT G-15 diikut sertakan dalam pembicaraan paralel kedua pejabat tingkat menteri.

Perdagangan RI-Venezuela, baik volume maupun nilainya masih sangat kecil. Belum pernah ditandatangani suatu persetujuan resmi di bidang perdagangan antara kedua negara.

Persetujuan perjanjian keijasama kedua negara merupakan payung yang bersifat umum, yakni meletakkan dasar-dasar kerja sama dan dibarapkan dalam waktu selanjutnya di bawah persetujuan ini akan dapat dikembangkan berbagai persetujuan bidang lainnya. Dengan begitu kerja sama ekonomi dan teknik serta kebudayaan akan dapat ditingkatkan.

 

 

Sumber : SUARA KARYA (27/11/1991)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIII (1991), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 477-480.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.