RI TETAP YAKIN KASUS PILOT GARUDA DI BELANDA DIPOLITIKKAN

RI TETAP YAKIN KASUS PILOT GARUDA DI BELANDA DIPOLITIKKAN[1]

 

Jakarta, Antara

Indonesia tetap berpendapat kasus pilot Garuda Indonesia Muhammad Said yang ditahan di Belanda atas tuduhan melakukan penyelundupan ekstasi telah diberi muatan politik.

Setelah melapor kepada Presiden Soeharto di kediaman Jalan Cendana, Kamis, Dubes Indonesia untuk Belanda Sudarmanto Kadarisman mengatakan kepada pers bahwa ada kelompok-kelompok tertentu di sana yang tidak senang terhadap Indo­nesia.

Kadarisman, mantan Kepala Protokol Negara, menyebutkan ada kalangan tertentu dalam pemerintahan BeIanda yang secara sengaja memanfaatkan kasus ini untuk menjelek-jelekkan Indonesia.

Pemerintah Belanda diharapkan melakukan langkah-langkah untuk mencegah usaha kelompok tertentu yang secara sistematis ingin menjelek-jelekkan citra Indonesia di mata Internasional, kata Dubes.

Ia menjelaskan posisi KBRI yang merupakan wakil pemerintah Indonesia adalah agar pilot itu mendapat perlakuan secara manusiawi.

“Yang diperjuangkan terhadap Pemerintah Belanda adalah agar Mohammad Said mendapat perlakuan manusiawi dan tidak sama sekali bermaksud melindunginya dari hukum.” kata Kadarisman tentang pilot Garuda itu, yang baru saja diadili di sana. Tertuduh itu akan diajukan lagi ke pengadilan bulan April.

Ketika ditanya tentang upaya sistematis untuk menjelek-jelekkan Indonesia itu, ia menyebutkan adanya tuduhan seorang kolonel di KBRI Den Haag terlibat dalam kasus ini. Usaha untuk mencoreng citra Indonesia itu juga menyinggung pemanfaatan kantong-kantong diplomatik secara tidak sah.

“Hal itu sudah benar-benar keterlaluan.” katanya.

Kadarisman dalam kesempatan ini juga menjelaskan tentang pemberitaan surat kabar setempat “DeTelegraph” yang sampai sekarang terus berusaha menyudutkan Indonesia.

Ia memberi contoh pada suatu hari menerima fax dari “De Telegraph” yang berisikan beberapa pertanyaaan dan pernyataan bahwa apabila jawaban KBRI diberikan sebelum pukul 17.00 waktu setempat, maka jawaban itu akan dimuat secara lengkap keesokan harinya.

“Saya kemudian memberikan jawaban bukan karena merasa ditekan, melainkan karena ingin menguji apakah mereka itu mempunyai niat yang baik atau tidak. Ternyata jawaban saya itu tidak secuil pun dimuat.” katanya dengan rasa kecewa.

Kadarisman menyatakan ia pernah menyampaikan rasa tidak puasnya terhadap pemberitaan media setempat kepada para pejabat resmi Belanda. Namun mereka menjawab bahwa mereka tidak bisa berbuat banyak karena pers di sana menganut “sistem pers yang benar-benar bebas.”

Sekalipun hubungan kedua negara sedikit mengalami gangguan, ia yakin jalinan hubungan bilateral itu umumnya tetap berjalan baik.

(T/ Eu02/RS01/23/01/97 05:47/RUl)

Sumber: ANTARA (23/01/1997)

_____________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 480-481.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.