RI-MALAYSIA KOORDINASIKAN PENGANGKATAN BENDA PURBAKALA MALAKA

RI-MALAYSIA KOORDINASIKAN PENGANGKATAN BENDA PURBAKALA MALAKA

 

 

Jakarta, Antara

Pemerintah Malaysia minta kepada Pemerintah Indonesia agar pengangkatan benda purbakala dalam kapal “Flor de la Mar” yang karam tahun 1512 dapat dikoordinasikan dengan pihak Malaysia karena barang-barang itu milik Kerajaan Malaka yang dirampas oleh Portugal.

Permintaan itu merupakan bagian dari pesan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad kepada Presiden Soeharto yang disampaikan oleh Menlu Malaysia Abu Hassan Omar, kata Menlu Ali Alatas dan Omar selesai mereka mengadakan pembicaraan satu jam di Jakarta, Sabtu.

Tanpa menyebutkan nilai dan jenisnya, Menlu Alatas mengatakan barang-barang itu merupakan hasil rampasan dari Kerajaan Malaka oleh Portugal. Ketika melewati Selat Malaka, kapal tersebut karam di daerah perairan Indonesia.

“Maksud permintaan koordinasi itu agar barang-barang yang memang merupakan peninggalan sejarah dan kebudayaan Malaysia tersebut dapat kembali ke Malaysia,” kata Alatas.

Pemerintah Indonesia, sambungnya, pada prinsipnya menyetujui permintaan itu karena negara bagian Malaka berkepentingan untuk mendapatkan barang-barang itu kernbali untuk dimasukkan ke museum.

“Andaikata akan diangkat, maka yang melakukannya bukan Pemerintah Indonesia, tetapi pihak swasta yang saat ini telah ditunjuk. Mereka akan kita beri petunjuk yang jelas,” kata Alatas.

“Bila memang ada barang-barang peninggalan sejarah dan kebudayaan Malaka, maka semuanya akan kita amankan,” katanya.

Menurut Alatas, pengangkatan barang-barang di laut dalam sekitar Aceh tersebut memerlukan peralatan sangat canggih, dan Pemerintah Indonesia tidak mempunyai cukup biaya untuk memiliki peralatan itu.

“Oleh karena itu, operasionalisasinya akan dilakukan oleh perusahaan swasta yang benar-benar ahli,” tandasnya.

Abu Hassan Omar mengatakan, Pemerintah Malaysia menginginkan Indonesia mengkoordinasikannya dengan Malaysia meskipun pengangkatannya dilakukan oleh perusahaan swasta.

Kedua Menlu tersebut dalam pertemuan mereka juga membahas perkembangan terakhir masalah Kampuchea, persiapan konferensi internasional mengenai pengungsi lndocina, persiapan konferensi tingkat menteri ASEAN di Brunei, dan langkah-langkah lanjutan dalam peningkatan hubungan dan kerjasama kedua negara.

 

 

Sumber : ANTARA(03/06/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 759-760.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.