RI HARAPKAN PRODUKSI OPEC TIDAK TERLALU JAUH DI ATAS PAGU

RI HARAPKAN PRODUKSI OPEC TIDAK TERLALU JAUH DI ATAS PAGU[1]

 

Jakarta, Antara

Indonesia sangat mengharapkan peningkatan produksi minyak mentah oleh beberapa anggota OPEC tidak terlalu jauh di atas pagu produksi 25,033 juta barel/hari.

“Produksi beberapa negara memang ada yang dinaikkan sehingga di atas kuota produksinya. Namun kita berharap peningkatan produksi itu tidak terlalu tinggi.” kata Mentamben IB Sudjana kepada pers setelah menemui Presiden Soeharto di Bina Graha, Kamis.

Sudjana mengatakan masalah tingkat produksi itu perlu sekali diperhatikan karena akan segera masuknya kembali Irak secara resmi ke pasaran minyak internasional mulai bulan Agustus.

Pemerintahan Baghdad terkena embargo Dewan Keamanan PBB setelah menyerang dan menduduki Kuwait tahun 1990. PBB dan Irak baru-baru ini mencapai kesepakatan yang mengizinkan Irak mengekspor kembali minyak mentah nya guna membeli makanan dan obat-obatan.

Para menteri OPEC dalam sidangnya di Wina bulan Juni memberikan kuota produksi 800.000 barel/hari kepada Irak.

Menurut Sudjana, tingkat produksi yang tidak berlebihan itu sangat penting guna menjaga harga minyak. Khusus mengenai Indonesia, ia mengatakan harga minyak Minas sekarang 19,74 dolar AS/barel dibandingkan dengan harga minyak “basket” OPEC  19,63 dolar.

Menurut Sudjana, karena harga minyak Indonesia itu berada di atas harga patokan penerimaan minyak pada APBN sebesar 16,5 dolar/barel maka situasi sekarang adalah cukup baik dan aman.

Upaya mempertahankan harga minyak oleh OPEC itu juga harus dibarengi dengan langkah serupa oleh para produsen minyak non-OPEC karena mereka pun ingin meningkatkan produksinya untuk memenuhi kebutuhan pasar yang meningkat.

Kepada Kepala Negara dilaporkan pertemuan para menteri energi ASEAN di Malaysia baru-baru ini. Sudjana mengatakan Malaysia ingin membeli listrik

Indonesia karena kebutuhan sektor indu stri mereka sangat besar. Indonesia akan mendirikan PLTU di Cirenti Jambi, yang pada tahap pertama berkapasitas 1.200 MW. Malaysia nantinya membutuhkan 5.000 MW.

Menurut Mentamben, karena proyek ini adalah antar pemerintah, maka konsorsium yang berasal dari Indonesia akan dipimpin oleh PLN dengan melibatkan perusahan swasta.

“Kita akan mengakomodasikan keinginan para pengusaha swasta nasional walaupun mungkin prosentasenya sedikit-sedikit.” kata Sudjana.

Ia belum bersedia menyebutkan pengusaha swasta Indonesia yang ingin ikut menggarap proyek ini.

Sudjana tidak bersedia menyebutkan kapan proyek ini akan dimulai serta kapan selesainya. Namun ia mengharapkan proyek ini bisa segera dimulai apalagi penyediaan dana tidak akan menjadi masalah.

Sumber : ANTARA (25/07/1996)

_________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 368-369.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.