RI HARAPKAN KEMELUT POLITIK DI JEPANG TAK PENGARUHI CGI

RI HARAPKAN KEMELUT POLITIK DI JEPANG TAK PENGARUHI CGI[1]

 

Jakarta, Antara

Pemerintah Indonesia mengharapkan kemelut politik yang terjadi di Jepang terutama setelah PM Kiichi Miyazawa membubarkan parlemen tidak akan mengurangi bantuannya lewat CGI.

Seusai melapor kepada Presiden Soeharto di Istana Merdeka, Sabtu tentang rencana keberangkatannya ke Jepang dan Paris dalam rangka sidang Kelompok Konsultasi untuk Indonesia (CGI), Menko Eku dan Wasbang Saleh Afif mengatakan kepada pers bahwa pembicaraan dengan Jepang sudah lama dilakukan.

PM Kiichi Miyazawa hari Jumat(18/6) di Tokyo membubarkan parlemen setelah munculnya mosi tidak percaya dari partai oposisi dan kelompok pembangkang di Partai Liberal Demokrat (LDP) terhadap Miyazawa.

“Birokrasi di Jepang kan sudah mantap dan pembicaraan di antara kedua pihak sudah lama berlangsung baik di Jepang maupun disini,” kata Saleh Afif yang didampingi Mensesneg Moerdiono ketika menemui Presiden.

“Dengan kunjungan saya ke Jepang ini maka akan bisa diketahui komitmen mereka,” kata Saleh Afiff yang menolak memberi gambaran tentang bantuan Jepang itu. Pada sidang pertama CGI di Paris pada tahun 1992, negara Matahari Terbit ini menjanjikan bantuan 1,32 miliar dolar AS, sehingga menjadi negara yang paling besar memberikan bantuannya untuk Indonesia. Pada sidang IGGI terakhir di Belanda, komitmennya adalah 1,32 miliar dolar AS.

Ketika ditanya wartawan tentang harapan Indonesia pada sidang kedua CGI yang berlangsung bulan Juni di Paris, Menko Eku dan Wasbang mengatakan, negara dan lembaga donor diharapkan tidak mengurangi bantuannya dibanding tahun 1992.

Pada tahun 1992, bantuan yang diperoleh Indonesia adalah 4,9 miliar dolar AS. Pemberi bantuan terbesar selain Jepang adalah Bank Pembangunan Asia (ADB) 1,2 miliar dolar AS, Bank Dunia 1,6 miliar dolar AS.

Pada sidang IGGI tahun 1991 di Den Haag, Belanda yang merupakan pertemuan terakhir kelompok itu sebelum bubar atas permintaan Indonesia, komitmen bantuan yang diperoleh adalah 4,75 miliar dolar AS. (T!EU02/EU06/19/06/9312:02)

Sumber:ANTARA(19/06/1993)

_______________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 469-470.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.