RI DEFISIT DALAM PERDAGANGAN DENGAN IRAN AKIBAT IMPOR MINYAK

RI DEFISIT DALAM PERDAGANGAN DENGAN IRAN AKIBAT IMPOR MINYAK[1]

 

Jakarta, Antara

Neraca perdagangan Indonesia dengan Iran menunjukkan defisit untuk Indonesia senilai 125 juta dolar AS pada 1995, akibat besarnya impor minyak mentah Indonesia dari negara mitranya itu.

Seusai mendampingi Presiden Soeharto menerima Menteri Postel Iran Sayyed Mohammad Gharazi di Istana Merdeka, Senin, Menperindag Tunky Ariwibowo mengatakan kepada pers bahwa ekspor Indonesia tahun 1995 ke Iran mencapai 132 juta dolar AS, sedangkan impornya 257 juta dolar AS.

Tunky mengatakan ekspor Indonesia ke Iran antara lain pulp dan paper, tekstil dan pakaian jadi, besi baja, serta sepatu dan alas kaki. Sementara itu, 95 persen impor Indonesia adalah minyak mentah.

Untuk meningkatkan volume perdagangan yang baru mencapai 390 juta dolar AS itu, Tunky dan Gharaz sepakat untuk meningkatkan perdagangan bilateral itu sehingga mulai satu, dua tahun mendatang bisa betjumlah satu miliar dolar/ tahun.

Tunky dan Gharazi sedang memimpin timnya masing-masing dalam sidang dua hari Komisi Bersama Ekonomi dan Perdagangan Indonesia-Iran. Sidang berlangsung 4-5 November.

Sementara itu, ketika ditanya tentang masalah pengaduan beberapa negara seperti Jepang, AS serta Uni Eropa ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengenai program mobnas, Tunky mengatakan Korsel telah menyatakan minatnya untuk ikut berkonsultasi.

Uni Eropa dan Jepang meminta Indonesia untuk mengadakan konsultasi bilateral di dalam kerangka WTO, karena mereka merasa tidak puas. Penyebabnya adalah Indonesia akan melaksanakan program mobnas dengan bantuan pabrik mobil KIA dari Korsel.

“Dubes Korea Selatan telah menyatakan minatnya untuk ikut berkonsultasi. Peraturan WTO memang memungkinkan adanya pihak ketiga yang ikut berkonsultasi.” kata Tunky.

Di tempat yang sama, Kepala Negara juga menerima pimpinan lembaga keuangan internasional JP Morgan, Douglas Warner III. Perusahaan ini menjadi penasehat penjualan saham Bank BNI.

Seusai kunjungan kehormatan itu, Douglas Warner menyebutkan penjelasan Kepala Negara bahwa pemerintah akan tetap melanjutkan program penjualan saham sebagian BUMN-BUMN yang kinerjanya baik.

Sumber : ANTARA (04/11/1996)

____________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 486-487.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.