RI AJAK MALAYSIA BICARA SOAL DIREKTUR EKSEKUTIF INRO

RI AJAK MALAYSIA BICARA SOAL DIREKTUR EKSEKUTIF INRO[1]

 

Jakarta, Antara

Departemen Pertanian mengajak mitranya dari Malaysia berbicara mengenai pencalonan Indonesia menjadi Direktur Eksekutif Organisasi Karet Alam Internasional (INRO) dan meminta Malaysia tidak bertindak emosional.

“Bicara dulu antar departemen” ujar Menteri Pertanian Sjarifudin Baharsjah di Jakarta, Selasa, menanggapi tuduhan Malaysia bahwa Indonesia mensabotase pencalonan Malaysia sebagai Direktur Eksekutif INRO.

Mentan di sela rapat kerja dengan Komisi IV DPR (membidangi pertanian, kehutanan dan transmigrasi) menjelaskan menurut sepengetahuannya Indonesia mempunyai kewenangan untuk mengajukan calon untuk menjadi Direktur Eksekutif INRO.

Diberitakan, Menteri Industri Primer Malaysia Lim Keng Yaik mengatakan pihaknya akan menolak meratifikasi ketentuan harga karet internasional yang baru bila Indonesia tidak mencabut pencalonannya sebagai Direktut Eksekutif INRO.

Bahkan Lim Keng Yaik akan membawa masalah tersebut dalam pembicaraan antara Perdana Menteri Malaysia dan Presiden Soeharto yang akan mengunjungi Malaysia. Indonesia dianggap belum mendapat giliran lagi untuk menjabat Direktur Eksekutif INRO.

Setelah mendengar kabar bahwa tindakan Indonesia tersebut dianggap menjegal Malaysia, Menteri Sjarifudin merasa kaget karena Indonesia mempunyai kewenangan untuk pencalonan tersebut.

Mentan meminta Malaysia dewasa dan tidak begitu saja membicarakan masalah tersebut antara kepala negara karena agenda pembicaraan antara keduanya juga sudah padat dan berat.

Ditanya mengenai siapa calon Indonesia tersebut, Menteri belum bisa menyebutkannya. Namun ujar dia, Indonesia mempunyai calon yang memenuhi syarat untuk posisi tersebut. (T.PE06/7 :26PM 9/24/96/ B/ Eu02/ru2)

Sumber : ANTARA (24/09/1996)

__________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 431.

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.