Renungan di Tengah Keluarga

Renungan di Tengah Keluarga [1]

 

Saya memilih tinggal di Jalan Cendana No. 8, di daerah Menteng dan tidak pindah ke Istana Merdeka. Saya mengambil keputusan ini bukan karena tidak mau, melainkan demi kepentingan dan kebaikan keluarga. Untuk kepentingan anak-anak, agar tidak terpisahkan dari masyarakat, saya memilih tinggal di luar Istana. Dalam pada itu saya sadar, sesuai dengan kedudukan saya, meski saya tinggal di rumah ini kebebasan kami tetap terbatas. Tetapi, pergaulan anak­anak saya tentu masih lebih bebas daripada kalau mereka tinggal di Istana.

Saya mengasuh keluarga, anak dan istri saya. Seorang istri pendamping dan pembantu saya yang terdekat, paling setia, dan tak ada yang lain. Hanya ada satu Nyonya Soeharto, dan tidak ada lagi yang lainnya. Jika ada, akan timbul pemberontakan yang terbuka di dalam rumah Tangga Soeharto.

Sebagai seseorang yang percaya kepada Tuhan, saya berpendirian, orang tua itu memikul suatu amanat Tuhan untuk menjadi perantara dalam melahirkan manusia-manusia yang diciptakan Tuhan. Orang tua bertanggungjawab untuk membesarkan anak-anaknya. Untuk mendidik mereka sedemikian rupa sehingga mereka juga menjadi orang-orang yang takwa, yang beriman kepada Tuhan. Pengertian saya, takwa, iman kepada Tuhan adalah selalu berbuat baik. Baik untuk dirinya sendiri, untuk keluarga maupun untuk sesamanya. Saya membekali keluarga saya dengan budi pekerti. Lantas dengan kepandaian. Saya lebih mementingkan hal itu daripada membekali mereka dengan harta benda.

Tidak ada di antara anak-anak saya yang saya uja, yang saya manjakan. Tidak ada. Dan alhamdulillah, sampai sekarang tidak ada yang neka-neka dan sebagainya. Apalagi terpengaruh oleh kejahatan atau oleh narkotika. Alhamdulillah, tidak ada. Justru mereka andhap asor, tidak merasa atau menempatkan diri sebagai anak Presiden. Justru mereka merendahkan diri. Bahkan saya lihat mereka merasa berat menjadi anak Presiden. Mereka selalu berusaha untuk tampil dengan baik. Tidak salah pikiran mereka. Menjadi Presiden kan hanya untuk sementara, untuk jangka waktu lima tahun. Yang lama itu bukan sebagai Presiden. Jadi, patut mereka harus bisa hidup dengan secara kerakyatan, menghadapi kenyataan. Alhamdulillah, anak-anak saya bisa menyesuaikan diri.

Kepada keluarga saya, saya ajarkan apa yang telah  diajarkan oleh orang tua saya kepada saya. Pegangan hidup saya, “Aja kagetan, aja gumunan, aja dumeh” saya sampaikan kepada mereka.

Ya, memang atas dasar itu saya menghadapi segala sesuatu yang baik dan yang tidak baik, penderitaan dan kesenangan. Kalau segala itu kita kembalikan kepada Tuhan, sebenarnya segala itu pun adalah biasa. Pandangan hidup saya berdasarkan kepada percaya kepada Tuhan, percaya kepada kekuasaan-Nya. Dengan begitu, maka dengan sendirinya saya percaya, bahwa apa pun yang dikehendaki Tuhan, pasti bisa terjadi.

Sebab itu, saya percaya kepada takdir manusia yang telah digariskan oleh Tuhan. Segala sesuatu yang memang sudah dikehendaki oleh Tuhan, terhadap manusia, dan terhadap segala isi alam semesta ini, akan terjadi. Maka, janganlah menyesal, janganlah susah, kita tinggal pasrah saja. Tidaklah perlu kita kaget.

Sesuatu yang seolah-olah merupakan keistimewaan pada seseorang, tidaklah perlu pula menyebabkan kita heran. Tidaklah perlu kita terbelalak dibuatnya sampai mengucapkan “wah hebat sekali.” Kembalikanlah hal itu kepada Tuhan dan kita ‘aja gumunan‘ (jangan heran).

Kalau kita mempunyai kedudukan, kekayaan, mempunyai sesuatu yang lebih, janganlah lupa, bahwa sewaktu-waktu hal itu bisa berubah, kalau Tuhan menghendakinya. Sebab itu ‘aja dumeh’ (jangan mentang­mentang) kedudukan tinggi, terus bertindak sewenang-wenang, ‘aja dumeh’ mempunyai kekayaan yang berlimpah-limpah, lalu lupa daratan.

Kalau saya mengenang penderitaan sewaktu kecil, sewaktu muda, saya akan bisa sedih dibuatnya. Tetapi kalau diambil manfaatnya, justru karena penderitaan saya sejak kecil itulah maka saya menjadi orang. Maka saya menjadi seseorang yang berpikir, yang mempunyai perasaan karena pemah menderita.

Memang, saya selalu ingat pada pengalaman dan kesusahan saya pada masa kecil, dan sebab itu saya menekankan pentingnya ‘tepa­salira‘ (hendaknya meraba pada diri sendiri). Sepantasnyalah rasa ‘tepa-salira‘ saya besar, disebabkan oleh penderitaan saya yang begitu besar.

Dengan sendirinya saya bisa merasakan betapa penderitaan orang lain. Dengan sendirinya saya bisa mengukurnya. Sebab itu pula timbul perasaan dan keinginan yang besar pada saya, supaya orang lain jangan sampai menderita. Sebab itu pulalah keinginan saya besar untuk menolong mereka yang terkepung oleh penderitaan. Begitulah saya bersikap sewaktu menjadi panglima, begitu pula sewaktu menjadi komandan terhadap anak buah. Begitu juga sampai menjadi presiden. Selalu saya usahakan sejauh mungkin, agar rakyat tidak menderita, setahap demi setahap.

Orang menderita itu tidak enak. Saya sendiri telah merasakannya. Begitulah ajaran yang saya tempakan kepada anak-anak saya, dan sekarang kepada cucu-cucu saya, di tengah suasana kekeluargaan, di rumah, di Jalan Cendana.

*

Bangun pagi, antara pukul 04.30 dan pukul 05.00, buat seorang petani dan seorang prajurit adalah hal yang biasa. Begitu juga buat saya, sampai sekarang. Setelah sembahyang Subuh biasa saya minum kopi dan kemudian membaca koran yang sudah ada di meja. Saya ikuti semua kejadian yang tertera dalam bacaan itu dan bisa dimaklumi betapa besar perhatian saya pada tulisan mengenai pembangunan kita, mengenai perkembangan hidup di desa. Kabar-kabar mengenai keadaan di kampung-kampung yang jauh menjadi ukuran buat saya, seberapa jauh sudah kita laksanakan pembangunan.

Dari pukul 06.00 – 08.00 saya menyelesaikan surat-surat dan tanda tangan, tak pernah ada yang tersisa, semuanya harus selesai, walaupun tempo-tempo memang banyak sekali. Staf memerlukan kecepatan dan ketepatan menyelesaikan surat-surat itu untuk segera bisa diselesaikan. Kemudian saya mandi dan terus sarapan bersama istri. Anak-anak sudah sarapan dulu dan bila mau berangkat ke sekolah atau ke mana saja pasti pamit. Ini didikan ibunyaa untuk mendisiplinkan anak dan memelihara hubungan batin anak dan orang tua.

Rata-rata pukul 08.30 saya sudah·harus ada di kantor, di Istana atau sekarang di Bina Graha setelah gedung yang besar di samping Istana itu rampung dibangun di tahun 1970-an. Pukul 14.30 siang saya biasa pulang ke Jalan Cendana, untuk istirahat sebentar, sembahyang Lohor dan makan siang. Kadang-kadang saya tidur sejenak kalau merasa terlalu Ielah, terutama kalau otak terlalu capek. Tetapi sering cukup dengan istirahat saja di kursi, duduk-duduk dan melamun sambil mengisap cerutu, rokok kretek atau kelobot.

Saya berpikir, menerawang, menyusuri kejadian-kejadian yang pernah kita alami sejak Republik kita berdiri, sampai terjadinya G.30.S/PKI dan tantangan yang kita hadapi kemudiannya. Mengapa dapat timbul pemberontakan G.30.S/PKI, mengapa pula selama 20 tahun kemerdekaan banyak terjadi pemberontakan­pemberontakan lain sebelumnya, mengapa selama itu terjadi rentetan krisis-krisis politik, mengapa sesudah 20 tahun merdeka tingkat kesejahteraan rakyat banyak tidak menunjukkan perbaikan yang berarti? Ini masalah-masalah pokok yang saya renungkan sambil duduk bersandar di kursi.

Saya pikir, persoalan dan usaha memberikan jawaban terbadap persoalan-persoalan tadi pantas menjadi masalab pokok seluruh bangsa, masalah nasional yang utama dan·mendesak. Semua pemimpin bangsa kita patut memikirkannya. Negarawan-negarawan kita pantas memikirkannya. Mahasiswa, pemuda dan kaum wanita pantas merenungkannya. Cendekiawan kita, anggota-anggota ABRI patut memikirkannya.

Saya kemudian mendapatkan kesimpulan yang terpokok mengenai ini. Rentetan segala krisis nasional yang telah timbul sebelum 1966 bersumber pada penyimpangan-penyimpangan terbadah Pancasila dan UUD ’45, baik semangat maupun pelaksanaannya. Itulab yang pertama. Kedua, bahwa segala kemunduran yang kita alami selama itu bersumber pada ditelantarkannya pembangunan ekonomi. Karena itu perjuangan Orde Baru tidaklah bisa lain adalah untuk meluruskan kembali pelaksanaan dan pengamalan Pancasila dan UUD ’45 secara murni dan konsekuen. Orde Baru harus menempatkan pembangunan ekonomi sebagai usaba dan program yang mendapatkan prioritasnya yang pertama. Dan sejalan dengan basil-hasil pembangunan ekonomi itu harus dikembangkan pembangunan bangsa dalam arti yang luas. Maka dengan kedua sasaran itu saya laksanakan tugas yang dipikulkan MPRS kepada saya.

Saya suka pula olah raga. Saya memerlukan gerak badan. Rata-rata tiga kali dalam seminggu saya main golf. Menjelang Magrib, sekarang tiap hari mesti saya bertemu dengan cucu-cucu. Saya memerlukan kehangatan suasana keluarga setelah ditimbun oleh pekerjaan-pekerjaan berat.

Di hari-hari biasa saya mulai bekerja lagi dari pukul 19.00 sampai larut malam. Saya menerima tamu-tamu yang membawa persoalan­persoalan dinas dan persoalan-persoalan  yang sifatnya keluarga.

Kadang-kadang ada keramaian di rumah kami. Tapi terhitung sederhana saja. Misalnya kalau merayakan hari ulang tahun seseorang di antara keluarga, melangsungkan upacara pitonan (turun tanah) cucu kami, atau upacara selapanan (tiga puluh lima hari lahirnya dan memberi nama) cucu kami, atau meramaikan hari ulang tahun perkawinan kami sendiri.

Pada kejadian kekeluargaan seperti ini muncul “akar” kami. Seperti pada waktu kami memperingati hari tumbuk warsa atau temu windu istri saya belum lama ini, yang dihadiri oleh kerabat dekat kami.

Pada kesempatan itu saya memberi pengertian terinci mengenai tahun Jawa. Menurut perhitungan kalender Jawa, nama hari hanya lima[2] yang sering disebut pula sebagai pasaran, setahun dua belas bulan, dan nama tahun hanya sampai delapan yang tercakup dalam sewindu. Setiap sewindu, hari pasaran, tanggal dan bulan serta tahun dengan nama yang sama akan bertemu. Itulah yang disebut tumbuk warsa. Dan hari Rabu Kliwon; bulan Suro, tahun Je, yang jatuh pada Selasa malam tanggal 24 September 1985 itu untuk kedelapan kalinya istri saya memperingati hari lahir dengan nama hari pasaran, tanggal dan bulan serta tahun yang sama. Dalam kalender Jawa, hari dimulai pukul 18.00, bukan pukul 00.00.

Waktu merayakan tumbuk warsa istri saya itu saya mengenakan surjan gaya Yogya, warna hijau. Istri saya juga mengenakan kebaya warna kehijau-hijauan. Tumbuk warsa 8 windu itu terjadi hanya satu kali seumur hidup kita masing-masing. Bahkan tumbuk delapan windu itu juga disebut tumbuk besar. Itu penting artinya bagi perjalanan hidup manusia. Karena itu harus diperingati.

Pemotongan tumpeng diadakan. Kami membaca “AI Fatihah”, dan kemudian menyanyikan “Panem Bromo”, nyanyian tradisional Jawa yang berisikan puji bagi keselamatan orang yang merayakan.

*

Pada hari libur kadang-kadang saya pergi ke laut, kalau tidak ke Tapos. Kadang-kadang saya memasak di dapur, mencoba kepandaian saya dalam memilih jenis masakan dan memasaknya sendiri. Bukan satu rahasia, saya diam-diam belajar membuat masakan Jepang yang kami gemari. Tetapi hidangan yang paling saya sukai adalah tetap lodeh buatan istri saya sendiri, atau ikan bakar, atau goreng belut yang membawa kenangan di masa kanak kanak.

Saya tidak menyukai minuman keras. Tetapi pertemuan dengan tamu-tamu asing menyebabkan saya harus melakukan hal yang tidak saya sukai itu, semata karena memenuhi kebiasaan protokoler dan anggapan tidak pantas kalau saya menolaknya.

Malam Minggu sering kami memutar film di halaman belakang rumah. Pada kesempatan ini hadir anggota-anggota keluarga, besar kecil. Jadi bisa dipahami, film apa yang kami putar.

*

Ada orang yang bercerita lain daripada yang sebenarnya terjadi mengenai diri saya. Ada orang yang mengatakan, bahwa saya menunggu ‘bagaimana bisikan dukun’ sebelum saya mengambil keputusan mengenai masalah-masalah yang saya hadapi. Biarkan saja orang yang berpikir demikian itu akan kecewa.

Sebenarnya pegangan saya adalah ‘cipta, rasa, karsa’ Itulah falsafah hidup saya. Saya mempergunakan kelengkapan hidup kita yang diberikan Tuhan kepada kita, yakni panca indera kita, untuk mempertajam cipta, rasa, karsa itu.

Memang tanggapan kita masing-masing terhadap sesuatu hal berbeda-beda. Pendengaran kita bisa berbeda, penglihatan kita pun bisa berbeda pula. Sebab itu, dilihat secara taktik dan strategi perang, keterangan militer saja masih merupakan suatu yang mentah, keterangan tadi perlu diolah lagi menjadi keterangan intelijen. Keterangan intelijen inilah yang merupakan sesuatu yang sudah matang, yang sudah dipercaya, sudah bisa dipakai sebagai ukuran.

Begitupun mengenai apa-apa yang kita dengar, apa-apa yang kita lihat, apa-apa yang kita raba. Semua itu mesti kita kumpulkan sehingga merupakan bahan untuk diolah, dimasukkan dalam ‘komputer’ kita, dalam ‘cipta’ kita. Lalu endapkan itu semua, rasakan. Kalau kita sudah merasakannya cocok, kalau sudah ‘rasa’ mengatakan cocok, maka dengan sendirinya akan timbul ‘krentek’, niat. Maka setelah itu saya mengemukakan pilihan, dan saya mengambil  keputusan.

Teorinya begitu, semua orang bisa. Tetapi sesungguhnya, latihannya adalah yang utama. Kalau kita menghadapi kesulitan, sebaiknya segala itu kita kembalikan kepada Tuhan. Kita kembalikan kepada-Nya untuk mendapatkan petunjuk-Nya. Tentu saja dengan sembahyang adalah lebih baik. Tetapi yang penting adalah bahwa setiap saat, di mana pun kita sedang berada, kita harus ingat kepada-Nya, kepada Tuhan Maha Pencipta.

Dalam pada itu kita patut tetap menggunakan alat kelengkapan hidup kita yang diberikan Tuhan kepada kita. Kemudian kita menyaring semua keterangan dan pendapat-pendapat yang datang dari luar. Lantas kita tentukan beberapa alternatif sebelum mengambil keputusan. Kita pilih yang paling baik di antara alternatif-alternatif yang ada itu. Dengan begitu tidak berarti kita harus bersemedi, atau “ngobong menyan” dan sebagainya. Gunakan rasio kita. Pakai otak kita. Gunakan rasa kita. Gunakan panca indera kita. Kalau dalam perang kita masih mencari dukun, kita bisa. mati ditembak duluan. Tetapi memang dalam hal ini latihan diperlukan.

*

Saya punya kesenangan tersendiri mengenang dan bertemu dengan teman-teman semasa remaja. Saya pernah menerima mereka di Jalan Cendana. Beberapa kali saya pernah pula berziarah ke Wuryantoro sebelum menjadi Presiden. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu saya sempat lagi pergi ke sana. Lewat camat dan lurah saya pernah meminta agar didatangkan, Kamin dan Warikun, sahabat saya waktu remaja itu, dan Kamsiri, bekas guru mengaji saya waktu itu.

Kepada kedua orang itu saya bertanya, “Tahun berapa kita dulu berpisah?” Salah seorang di antara mereka menjawab, “Mungkin tahun 1940 Pak”.

“Saya ingat, waktu itu kita masih sama-sama naik sepeda ke desa Beji dan Semin,” kata Kamin. “Di dekat sekolah sepeda kita tidak bisa lagi kita naiki, karena kedua desa itu merupakan pegunungan. Sepeda kita titipkan di rumah janda sebelah utara sekolah. Terus kita berdua jalan kaki ke desa itu. Di perempatan desa yang nanjak, Pak Harto berkata, “Kalau pekerjaan begini terus, saya tidak sanggup, berat sekali, saya besok tidak masuk lagi, Min.” Mendengar cerita Kamin begitu langsung saya berkata: “Sudah-sudah, saya ingat.” Dan saya kenang masa remaja itu dengan rasa yang mendalam.

Kamin bercerita lagi, dia pernah mimpi bertemu dengan singa besar. Dan ternyata ia dipanggil oleh Presiden, katanya. Kami tertawa­tawa dalam ngobrol bersama Kamin dan Kamsiri lebih dari satu jam lamanya itu.

Bisa dimengerti, bahwa Kamsiri merasa bangga melihat bekas murid mengajinya menjadi Presiden negeri ini. Kamsiri pernah juga bercerita mengenai teman yang lainnya, Kang Loso, yang jadi buta ketika berjuang dan keadaannya sangat memprihatinkan.

Kang Warikun lain lagi ceritanya. Ia masih ingat, ia selalu mengajak teman-temannya membantu saya mengisi bak air dari sumur. Ceritanya begini: “Mereka senang main sepak bola, tetapi kalau tidak dengan saya kurang senang, merasa gothang (kurang lengkap), lebih-lebih bila pertandingan antar desa. Sedang saya punya pekerjaan, dilatih disiplin oleh ayah saya. Tidak boleh main sore bila bak mandi belum penuh. Maka Warikun dan teman-temannya ini yang membantu. Setelah pekerjaan selesai, baru kami main bola.”

Yang saya tangkap dari ucapan mereka juga, adalah bahwa mereka sama sekali tidak kecewa mengenai nasibnya masing-masing. Mereka mengatakan, “Setiap orang memiliki nasibnya sendiri. Kita sebagai manusia kan saderma nglakoni (sekedar menjalani).”

*

Mengenai Istana, saya pikir, Istana Presiden bukan untuk Presiden saja. Gedung itu adalah Istana Negara, Istana Kepala Negara, milik rakyat. Saya tidak mengadakan perubahan besar di gedung itu. Tetapi memang saya perintahkan untuk mengatur isinya dan iklimnya sedemikian rupa sehingga benar-benar representatif sebagai Istana. Istri saya sangat teliti dalam mengaturnya.

Belakangan ini diadakan acara-acara yang terbuka sifatnya[3], yang bisa dilihat oleh orang banyak. Dengan begitu dimaksudkan, supaya rakyat merasa dekat. Pembelian cenderamata untuk keperluan Presiden dibeli oleh Rumah Tangga Kepresidenan yang ditunjang oleh anggaran. Kalau ada yang kita terima dari negara sahabat; maka saya tetapkan itu menjadi milik negara. Dan semuanya itu diinventarisasikan, dicatat, kecuali yang tidak bisa disimpan, seperti makanan, atau minuman.

Barang-barang berharga, semuanya disimpan di museum khusus di Istana yang jadi tempat menyimpan cenderamata yang kita terima dan menggambarkan keseluruhan dari daerah mana dan negara mana.

***



[1]     Penuturan Presiden Soeharto, dikutip dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982, hal 229-237.

[2] pon, wage, kliwon, legi, pahing

[3] seperti parade  senja dan kunjungan masyarakat umum

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.