Renungan dan Tapos

Renungan dan Tapos [1]

 

Saya bicara terus mengenai pembangunan. Dengan tidak jemu­-jemu dalam tiap kesempatan saya ajak semua pihak, untuk mengerti mengenai rencana dan pelaksanaan pembangunan kita. Saya dorong semua pihak untuk ikut serta dalam pembangunan kita.

Tentu saja saya pun kadang-kadang merasa capek, karena hilir mudik, ke sana ke mari, lewat daratan, terbang dari satu tempat ke tempat lainnya untuk memulai dengan pembangunan yang baru dan mengontrol pembangunan yang sedang berjalan, dan Ielah pula karena memeras otak. Tetapi saya tidak boleh mapa[2], tidak boleh mengeluh, apalagi menyerah. Pembangunan adalah perjuangan yang sengit.

Saya ingatkan bahwa pembangunan bangsa bukanlah pekerjaan yang kecil dan sederhana, lebih-lebih bagi bangsa Indonesia yang sangat luas wilayahnya, sangat banyak penduduknya, dan sangat besar masalah-masalahnya, dan menghadapi tantangan yang besar dan beragam. Ini semua menuntut kemantapan hati dan keteguhan pendirian.

Di samping itu, kita memiliki kepercayaan pada diri sendiri sehingga betapa pun besar kesulitan dan tantangan yang kita hadapi, kita harus berjuang sekuat tenaga untuk mengatasi kesulitan-kesulitan itu.

Kita harus mampu membedakan kepentingan jangka panjang dan kepentingan jangka pendek. Kita tidak boleh mengorbankan kepentingan jangka panjang untuk kepentingan jangka pendek. Dalam hal ini diperlukan kearifan dan keberanian.

Dalam jangka panjang, kita tetap tertekad untuk membangun masyarakat Pancasila dengan melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila.

Usaha untuk mewujudkan masyarakat Pancasila bukanlah perkara yang mudah. Kita harus bekerja keras dan tekun. Kita harus memadukan seluruh kekuatan bangsa dan mengerahkan segala kekuatan bangsa kita. Kita harus mengajak dan mengingatkan segenap lapisan dan golongan masyarakat kita. Saya tak ubahnya bangun dan mimpi dalam dunia pembangunan, tugas yang dipikulkan kepada saya. Di rumah saya berpikir tentang itu. Di kantor saya bertindak mengenai itu. Di tempat-tempat yang kelihatannya santai pun saya merenung tentang itu.

Ada orang yang mengkhayal, sealah-seolah di Tapas itu ada Istana, ada kolam renang, tempat angker. Padahal yang jelas ada di sana kandang-kandang sapi dan sapi-sapinya serta besi-besi yang asalnya besi-besi tua. Boleh jadi benar, tarikan wajah saya kalau sedang berada di Tapas tampak lebih segar. Memang saya merasa bergairah berada di tengah-tengah alam pertanian. Latar belakang saya dari sana. Akar saya dari sana. Saya bisa memahami kalau ada seseorang yang merasa gatal badannya jika seminggu saja ia tidak menginjakkan kaki atau merogohkan tangannya ke dalam tanah pertanian.

Saya sangat betah di lingkungan pertanian dan peternakan. Saya menghayatinya. Pengalaman semasa kecil menyebabkan saya menaruh perhatian besar pada saal-soal pertanian dan peternakan. Dan soal ini, di masa saya hidup, masih merupakan soal pokok bagi kebanyakan rakyat negeri kita. Saya terus berpikir tentangnya.

Maka digaraplah “Tapos” itu mulai tahun 1974. Badan hukumnya PT Rejo Sari Bumi-Unit Tapos yang saham-sahamnya dipegang aleh anak-anak saya. Saya cuma menumpang di tanah itu untuk melakukan riset di bidang peternakan dan pertanian, terutama dalam menyilangkan ternak dari luar negeri dengan ternak lokal. Harapan saya akan bisa mendapatkan ras baru yang beradaptasi dengan iklim Indonesia dan nantinya dapat dikembangkan ke masyarakat untuk memperbaiki mutu ternak yang kurang baik di negeri kita ini.

Tadinya tanah itu digarap aleh PNP XI, tetapi tidak berhasil baik, malahan jadi telantar. Waktu itu tanah yang memang kesuburannya sangat kurang itu, tanah latasol coklat, ditanami karet, kina, dan sereh wangi. Tetapi tidak terurus.

Dengan persetujuan Gubernur Jawa Barat, Solihin GP waktu itu, PT Rejo Sari Bumi diizinkan menggarap tanah itu yang statusnya tetap sebagai tanah Hak Guna Usaha.

Luasnya kurang-lebih 751 Ha. Letaknya di daerah Tapos, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Ketinggiannya antara 700 dan 1200 m di atas permukaan laut. Curah hujan di sana rata-rata 3000 mm per tahun. Udaranya sejuk, menyenangkan.

Daerah itu bertebing-tebing, berjurang-jurang yang dalam. Tidak ideal benar. Tetapi ada dari tanah itu bagian yang datar yang bagus untuk ditempati dan dipakai untuk peternakan.

Maka mulailah saya melaksanakan gagasan saya itu. Saya belajar mempraktekkan teori-teori yang sudah saya dapatkan. Saya sekaligus mengadakan penelitian mengenai ternak-ternak. Di samping itu saya berekreasi, tetapi rekreasi yang bermanfaat benar. Tanpa pergi ke mana-mana lagi, saya mendapatkan manfaat. Itu satu keuntungan besar.

Kami laksanakan penggarapan pertanian yang terpadu dengan menggunakan sistem recycling, yaitu memanfaatkan limbah ke bagian lain dan kembali ke semula (siklus).

Ada suatu gas yang dihasilkan oleh kotoran sapi yang dicampur air, kemudian dimasukkan ke dalam tangki yang dihangun di bawah tanah. Biogas ini merupakan gas yang mudah terbakar, tetapi sifatnya bersih dan nyaman. Bisa digunakan untuk memasak susu atau dipakai untuk menyalakan lampu gas. Hal ini sangat ideal bila rakyat bisa membuatnya, yakni tidak usah membeli minyak tanah dan di samping itu bisa menjualnya lagi.

Maka saya datangkan sapi-sapi unggul dari luar negeri untuk dikembangkan dan disilangkan dengan sapi-sapi yang ada di Indonesia, seperti: Persilangan antara sapi Brahman Australia dengan jenis Anggus, hasil silangannya diberi nama “Brangus”. Sapi Santra Gertrudis disilangkan dengan sapi Madura, menghasilkan jenis sapi “Matrali”. Begitu juga kambing Suffolk Australia disilangkan dengan Gibas menghasilkan “Safbas” dan kambing Dorset Merino Australia disilangkan dengan Gibas menghasilkan “Dorbas”.

Domba-domba yang menghasilkan wol, dengan produksinya 3/4 kg saya datangkan, dan basil wolnya itu dikumpulkan dan dijadikan karpet di Indramayu.

Usaha pembibitan ini ternyata berhasil dengan menyenangkan. Hasilnya saya sebar luaskan kepada para petani melalui pemerintah daerah maupun pelbagai kelompok tani lainnya. Sampai pertengahan 1985 sudah hampir 2000 bibit unggul sapi dan domba yang telah saya sebarluaskan kepada para petani.

Kalau saya sedang bersantai-santai di tengah alam yang hijau itu, di bawah pohon lamtoro gung yang saya tanam dan deretkan, saya suka ingat kepada Pak Bei, ayah angkat saya·dulu yang biasa mengajak saya untuk turut memupuk sawah dan ladang, ikut panen. Biasa pula beliau mengajak saya pada hari Minggu pergi ke pasar untuk mengetahui harga-harga di pasar. Pengalaman ini ternyata bukan saja menyenangkan, tetapi juga amat bermanfaat di hari tua saya ini.

Saya merasa santai di Tapos itu. Daerah dan kegiatan saya di sana merupakan afwisseling (selingan) buat saya, selingan di tengah-tengah tugas yang lain lagi macamnya. Tetapi selingan ini sungguh bermanfaat.

Setelah lewat 12 tahun saya menangani Tapos, saya sanggup bicara panjang dan terinci mengenai apa yang saya garap, untuk memberikan penyuluhan mengenai bagaimana sebaiknya kita beternak sapi, domba, kambing, dan memelihara lele dumbo.

Para petani kita harus punya penghasilan tambahan selain dari tanaman. Sekalipun naik jumlah penghasilan dari tanaman, tetapi pada suatu waktu petani itu akan menemukan kemandhegan dengan penghasilan dari tanaman saja. Maka ia harus mempunyai penghasilan tambahan, dan itu dari peternakan atau perikanan.

Keadaan petani-petani kita·menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka mempunyai tanah amat sempit.

Tentu saja “Tapos” itu terhitung kecil dibandingkan dengan keseluruhan masalah yang saya hadapi.

Produksi beras telah berhasil kita naikkan sehingga mencukupi kebutuhan kita. Selanjutnya produksi beras kita itu akan diselingi diversifikasi berbagai tanaman lain, seperti kacang kedele, dan lain­lainnya.

Peternakan pun tidak punya alasan untuk tidak berkembang. Petani di Jawa semakin sulit menghadapi lahan untuk rumput makanan ternak. Tetapi dengan ditemukannya proses hidrolisasi damen, yakni batang padi kering dengan amoniak, ada pula pembuatan makanan ternak dengan proses peragian atau permentasi, maka masalah itu akan terpecahkan.

Sekarang, persoalan yang masih ada bagi saya: bagaimana halnya dengan para petani, lingkungan atau kader-kader di kalangan petani yang akan merintis peternakan dengan bibit unggul dan cara-cara yang maju tetapi murah itu?

***



[1]      Penuturan Presiden Soeharto, dikutip langsung dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH,  diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982, hal. 294-297.

[2]        Jawa=Patah Semangat

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.