REMAJA NARKOTIK DIAMATI 24 JAM TERUS MENERUS

PRESIDEN SOEHARTO MINTA :

REMAJA NARKOTIK DIAMATI 24 JAM TERUS MENERUS

Presiden Soeharto minta agar anak-anak remaja yang kejangkitan narkotika diperhatikan selama 24 jam terus-menerus setiap hari, mengingat makin seriusnya bahaya narkotika belakangan ini.

Hal itu diungkapkan Menteri Sosial Nyonya Nani Soedarsono kepada wartawan Kamis pagi selesai menemui Presiden di Bina Graha.

Dalam pertemuan itu dengan Presiden dibicarakan persiapan-persiapan forum konsultasi untuk menanggulangi bahaya narkotika yang akan diselenggarakan tanggal 28 Mei mendatang.

Ny. Nani Soedarsono sendiri mengakui bahwa masalah narkotika itu perlu mendapat perhatian serius.

Menko Kesra Alamsyah yang juga menemui Presiden, kepada wartawan mengatakan bahwa kasus-kasus narkotika di Indonesia setiap tahun mengalami kenaikan sekitar 100 persen. Untuk menanggulangi masalah ini, katanya, tanggal 20 Mei mendatang KNPI akan pula menyelenggarakan acara pembahasan narkotika di Cimacan-Bogor, Jawa Barat.

Haji

Menteri Alamsyah yang melaporkan soal jemaah haji kepada Presiden mengatakan, tahun ini terdapat perobahan dalam pengaturan jemaah haji di tanah suci Mekkah.

Alamsyah yang dalam kedudukannya sebagai Menteri Agama a.l mengungkapkan jemaah haji Indonesia tahun ini tidak lagi menggunakan “Babbusual” (pintu pertanyaan) yang melaporkan siapa syekhnya, tetapi diserahkan langsung kepada asosiasi para syekh yang disebut muasasah.

Menjawab pertanyaan lainnya tentang tenaga kerja wanita Indonesia di Saudi Arabia, Alamsyah mengatakan, agar hal itu dibicarakan pemecahannya dengan Majelis Ulama Indonesia dan Depnaker (MUI) sesuai dengan keinginan Presiden Soeharto.

Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan agar tidak terdapat pihak-pihak yang tersinggung dan salah mengerti.

Menurut Menteri, harus dicari suatu jalan keluar agar tidak terdapat prasangka­prasangka dan hendaknya dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

Banteng Ketaton

Selain kedua menteri itu Menpora Abdul Ghafur Kamis pagi itu juga menemui Presiden untuk pamit menuju Kuala Lumpur menyertai pemain-pemain bulu tangkis Indonesia dalam pertandingan final Jumat malam melawan regu RRT.

Presiden menurut Menpora, minta disampaikan salam hangatnya kepada pemain bulu tangkis di Kuala Lumpur.

“Harus berjuang dengan semangat yang tinggi, bagai “banteng ketaton” tanpa beban mental yang berat,” kata Ghafur menirukan pesan Presiden kepada regu Indonesia itu.

Menpora Abdul Ghafur juga minta dorongan moril rakyat Indonesia agar regu bulu tangkis Indonesia dapat memboyong kembali piala Thomas ke Indonesia.

Tanda Jasa

Presiden Soeharto, kata Ghafur telah menyatakan persetujuannya untuk menganugerahkan tanda jasa berupa medali kepada olahragawan yang berhasil mengharumkan dan menjunjung baik nama bangsa dan negara di gelanggang internasional.

Penganugerahan tanda jasa itu dimaksudkan sebagai usaha mendorong para olahragawan agar lebih berprestasi atau mengabdi kepada negara melalui olahraga.

Para olahragawan yang memperoleh tanda jasa itu adalah yang mempunyai prestasi sejak dulu, memperoleh juara diberbagai gelanggang internasional, baik yang bersifat amatir maupun profesional.

Tanda jasa tersebut dibagi dalam tiga golongan, pertama mereka yang menjadi juara dunia seperti juara All England, piala Thomas, Olimpiade dan lain-lain.

Kepada mereka diberikan medali tanda jasa kelas-1, kedua, untuk tingkat Asia medali kelas­II dan ketiga tingkat Asia Tenggara memperoleh medali tanda jasa kelas-III.

Disain tanda jasa itu, kata Ghafur sedang dibicarakan dengan Menmud/Sekretaris Kabinet agar produk hukumnya tidak dalam bentuk undang-undang, tetapi berupa Keputusan Presiden atau Peraturan Pemerintah.

Disayangkan

Menjawab pertanyaan sekitar tidak ikutnya Uni Soviet dalam Olimpiade Los Angeles, Ghafur menyayangkannya dan disarankannya agar keputusan Soviet itu dapat dipertimbangkan kembali.

Menurut Ghafur, kemelut olimpiade sekarang ini tidak perlu terjadi, sebab saling boikot akan mengancam masa depan olimpiade. Ghafur katanya tidak setuju terhadap adanya olimpiade tandingan. (RA)

Jakarta, Merdeka

Sumber : MERDEKA (13/05/1984)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 943-945.


Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.