RELIGIUSITAS TMII

RELIGIUSITAS TMII[1]

 

 

Jakarta, Media Indonesia

TAMAN Mini Indonesia Indah (TMII) mendapat hadiah besar di ulang tahunnya ke-22 kemarin. Dua bangunan bernuansa religius diresmikan Presiden Soeharto, masing-masing Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal. Bersamaan dengan itu kemarin di tempat yang tidak berjauhan diresmikan pula Padepokan Pencak Silat Indonesia.

Bukan kemegahan dan keindahan arsitektur bangunannya yang menarik, melainkan keberadaan dan fungsi kedua museum itu yang menjadi sangat istimewa. Kedua museum merupakan dua dunia yang saling melengkapi. Bayt Al-Qur’an berisikan khazanah yang merupakan ide dasar atau sumber inspirasi atau pedoman hidup bagi umat Islam berupa mushaf Al-Qur’an dengan segala dimensinya. Di bangunan itu antara lain ditempatkan Mushaf Istiqlal, Mushaf standar Departemen Agama, Mushaf Pesantren Bondowoso, Mushaf Sundawi. Selain itu disediakan ruangan khusus untuk penampilan ilmu-ilmu Al-Qur’an melalui multi media elektronik, pengajaran baca dan tulis Al-Qur’an, pengembangan tilawatil Qur’an, perpustakaan serta heritage Qur’an.

Sedangkan isi Museum Istiqlal merupakan pengejawantahan dari mission atau pesan-pesan Al-Qur’an, yang merupakan karya seni budaya umat Islam dari zaman ke zaman, baik dari kalangan muslim di Indonesia maupun luar negeri, terutama Asia Timur. Materi yang hendak disajikan antara lain berupa materi seni tradisional, materi seni kontemporer seperti kaligrafi, seni lukis Islami, naskah-naskah Islam arsitektur, benda-benda tradisi dan heritage.

Dari paparan itu dapat kita simpulkan betapa besar potensi yang dapat disumbangkan dua museum bagi umat Islam. Artinya secara tidak langsung Taman Mini yang selama ini hanya dikenal menyumbangkan khazanah budaya bangsa, kini menampakkan wajah religiusitasnya. Bukan hanya bangsa Indonesia yang dapat memanfaatkan kekayaan Taman Mini, bangsa-bangsa lain pun dapat melakukan telaah dan pendalaman khazanah Qur’ani di Taman Mini kita.

Kita pun tidak dapat melupakan jasa almarhumah Ibu Tien Soeharto sebagai tokoh yang melahirkan gagasan besar sekaligus mewakafkan tanahnya untuk pembangunan dua museum itu. Kita kenang pula ketabahan Ibu Negara saat rencana pembangunan Taman Mini mendapat tantangan dari sebagian warga masyarakat.

Kita menyadari bahwa waktu itu sebagian warga yang menentang pembangunan Taman Mini belum mampu membaca wawasan jauh ke depan sang penggagas. Kini semuanya terbukti bahwa Taman Mini didirikan bukan sebagai proyek “mercusuar” melainkan untuk menyatukan khazanah budaya bangsa dalam satu wadah di ibu kota negara.

Kini dua museum bernuansa Islami itu bersama sejumlah museum lain berdiri megah di Taman Mini. Bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa di dunia akan terus mengalir mendatangi dan mengambil manfaat dari bangunan-bangunan monumental itu.

Di sisi lain, Taman Mini kini menjadi salah satu pusat rekreasi dan tempat masyarakat Jakarta dan sekitarnya menghirup udara segar sepuas-puasnya. Taman Mini menjadi salah satu “paru-paru” Kota Jakarta.

Taman Mini kini menunjukkan sosok dengan berbagai dimensinya. Adalah menjadi tugas kita untuk terus memelihara dan mendayagunakan semua itu dengan penuh tanggungjawab. Peninggalan monumental itu tidak hanya kita lihat dari segi fisiknya, tapi kekayaan muatan yang ada di dalamnya.

Sumber : MEDIA INDONESIA (21/04/1997)

_________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 757-758.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.