“REKAMAN” SUARA MASYARAKAT LUAS TENTANG SEAG XIX

“REKAMAN” SUARA MASYARAKAT LUAS TENTANG SEAG XIX[1]

 

 

Jakarta, Antara

Pelaksanaan SEA Games (SEAG) XlX akan segera berakhir Minggu (19/10) dan event olahraga itu bukan saja “pesta” para atlet, namun bisa juga disebut “pesta” masyarakat.

Setelah dibuka Presiden Soeharto pada Sabtu (11/10) 1997, untuk mengetahui pandangan masyarakat luas tentang SEAG XlX, ANTARA “merekam” suara-suara masyarakat tentang event itu melalui serangkaian wawancara di Jakarta, Jumat malam dan Sabtu pagi.

Dari serangkaian wawancara itu,umumnya narasumber yang dihubungi punya apresiasi yang beragam mulai merasa terhibur, diuntungkan secara ekonomis, lebih banyak mengikuti di media massa, dan bahkan ada yang merasa “takut” dengan adanya SEAG XIX.

Menurut Ali Nurdin (27)  seorang pekerja swasta di salah satu Mal di Jakarta, SEAG XIX bisa menghibur dirinya, apalagi dengan adanya “penggratisan” semua event olahraga yang dipertandingkan.

“Karena gratis, saya bisa menonton pertandingan apa saja, jadi sepulang kerja saya langsung ke Gelora Senayan,” kata bapak seorang putra yang tinggal di kawasan Polda di Jl. Sudirman itu, saat ditemui sedang menonton final sepakbola putri di Stadion Utama Senayan, Jumat malam.

Sementara itu, mereka yang diuntungkan secara ekonomis hampir sebagian besar adalah kalangan pedagang, baik pedagang asongan, eceran maupun besar yang menggelar dagangannya di sekitar arena pertandingan.

Bagi Kodir (40) pedagang makanan kecil asal Bekasi, Jawa Barat, yang menjajakan makanan seperti tahu “Sumedang” goreng, pisang goreng, yang juga dilengkapi lontong ukuran kecil, event seperti SEAG selalu membawa keuntungan bagi dirinya.

“Jika ada ‘rame-rame’ (SEAG, red) seperti ini jualan saya banyak dibeli orang, sayangnya pada hari kedua penjual makanan kecil tidak bisa masuk ke dalam, tapi kita masih bisa untung,” katanya, saat ditemui berada di depan pagar pintu masuk Istora, Sabtu.

Jika tidak ada “rame-rame” dalam sehari Kodir hanya mendapat keuntungan sekitar Rp10.000, namun adanya event seperti SEAG, ia dalam sehari bisa mengantongi keuntungan sekitar Rp15.000 hingga Rp 20.000 sehari.

“Jadi keuntungan jika ada ‘rame-rame’ ini lebih lumayan,” kata Kodir yang pekerjaan menjual makanan kecil tersebut hanya “sampingan” saja, sementara pekerjaan utamanya adalah petani di Bekasi.

Pengakuan Aca (48) yang mengaku penduduk dari Bandung, Jawa Barat dan datang ke arena SEAG khusus menjual ikat kepala yang bertuliskan “Aku Cinta Indonesia” dan “Fans Indonesia,” juga diuntungkan dengan adanya event besar olahraga itu.

“Untungnya lumayanlah,” katanya, tanpa merinci berapa jumlah pasti keuntungan dalam sehari barang dagangan yang dijualnya itu.

Ditemui di pintu masuk Istora-tempat masyarakat akan masuk arena final olahraga paling digemari seperti bola voli dan sepakbola, Aca yang membawa segepok ikat kepala, menjelaskan bawah selain SEAG, pekerjaan “kagetan”menjual ikat kepala sudah dilakukan selama tiga tahun terakhir, khususnya jika ada event final olahraga di Senayan, seperti final sepakbola perserikatan maupun Liga Indonesia.

 

Lewat Media Massa

Jika masyarakat lapisan menengah-bawah seperti Ali Nurdin dan Kodir dan Aca, terhibur dengan SEAG dan harus datang ke lokasi secara fisik, tidak demikian halnya dengan masyatakat dari lapisan menengah atas.

“Kami sekeluarga memang terhibur dengan adanya SEAG XIX, tapi kami lebih senang mengikuti acara itu melalui media massa baik di surat kabar maupun televisi,” kata dr. Ati Kentar Arimadyo, warga Otista, Jakarta Timur.

Selain lebih leluasa, katanya, ia juga menghindari kejadian yang bisa melibatkan terjadi kekerasan yang melibatkan massa dalam jumlah besar sehingga bisa membahayakan.

 “Jadi pertimbangan tidak datang ke arena olahraga di SEAG lebih karena masalah kenyamanan dan menghindari gangguan seperti adanya kekerasan yang melibatkan massa dalam jumlah besar,” katanya.

Sementara itu, pengakuan salah seorang wartawan asing yang meliput SEAG, meski dinyatakan secara tersirat, bisa diklasifikasi ada nuansa “takut” setidaknya atas perilaku penonton di Indonesia.

Lebih khusus mengomentari penonton sepakbola, Wakil Kepala Editor harian “Guang Ming Daily”, Malaysia, U Chin Ong, ia menyatakan “agak takut” dengan para penonton sepakbola.

“Tim sepakbola pasti kalah dengan Indonesia karena ‘takut’ dengan penonton Indonesia,” katanya dalam nada “guyon”, saat mengomentari semifinal sepakbola Indonesia melawan Singapura yang berlangsung hari Kamis (16/10) lalu.

Wajar

Bagi pengamat masalah sosial dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indria Samego Ph.D, fenomena masyarakat dari kalangan menengah-bawah dan menengah-atas yang mengapresiasi secara berbeda SEAG adalah hal yang wajar.

“Perbedaan apresiasi itu sebagai gejala perilaku sosial memang wajar, dan hal itu sifatnya hanya teknis saja,” katanya ketika diwawancarai, Sabtu pagi.

Bagi lapis menengah-bawah, event itu memang bisa jadi menghibur dan menguntungkan dengan harus hadir secara fisik di arena pertandingan.

Akan tetapi, katanya, di lapis menengah-atas, perasaan terhibur itu bisa saja dirasakan dan hal itu cukup dilakukan dengan mengikuti perkembangan melalui me­dia massa yang ada.

Beberapa faktor kemungkinan kalangan menengah-atas agak enggan hadir secara fisik ke arena pertandingan, kata lndria Samego yang sehari-hari lebih dikenal sebagai “political science” itu, bisa karena kesibukan kerja, dan bisa pula demi masalah “keamanan” tersebut.

“Tapi, apresiasi yang berbeda itu sifatnya tetap hanya teknis saja,” katanya.

(T.PU16/DN02/RPS2/18/10/97  13:08/SR1)

Sumber: ANTARA(31/10/1997)

___________________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 634-636.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.