RAZAK SAMBUT BAIK USAHA INDONESIA BANTU SELESAIKAN SOAL SABAH

RAZAK SAMBUT BAIK USAHA INDONESIA BANTU SELESAIKAN SOAL SABAH [1]

 

Jakarta, Kompas

PM Malaysia Tun Abdul Razak menyatakan bahwa pemerintahnya tentu menyambut baik setiap usaha Indonesia sebagai pihak ketiga, untuk membantu penyelesaian soal Sabah Philipina.

Tanpa menjelaskan apakah pihak Indonesia secara resmi mengajukan jasa2 baiknya itu. Tun mengatakan tawaran, serupa itu adalah “baik sekali”.

Keterangan ini diberikannya di Palembang sesaat sebelum kembali ke Kuala Lumpur Senin pagi. la sebelumnya mengadakan pembicaraan dengan Presiden Soeharto dan Menlu Adam Malik di Ibukota Sumsel tsb.

Menjawab pertanyaan pers ia mengatakan, Sabah bagi Malaysia bukan merupakan persoalan. “tapi merupakan problem Philipina yang mengklaimnya”, katanya.

Menurut Tun dalam pembicaraan dengan Soeharto tidak disinggung soal kemungkinan pertemuan tingkat tinggi tiga negara RI-Malaysia-Philipina. Tak ada soal rumit. “Saya hanya tukar pikiran dengan Pak Harto dari saat ke saat. tapi tak ada bicara soal Sabah”, ujarnya.

Namun sementara itu dari Kuala Lumpur AP memberitakan, bahwa setibanya kembali ke sana, Tun Abdul Razak membenarkan pertemuan di Palembang juga menyinggung masalah muslim di Philipina Selatan. “Sebab soal itu mempengaruhi Malaysia, terutama Sabah”, katanya tanpa memberi keterangan lebih lanjut.

Minggu lalu, Aspri Presiden Mayjen Ali Moertopo mengatakan, dalam persoalan Sabah ini sebaiknya pihak Philipina melepaskan klaimnya. Dan Presiden Soeharto telah mengirim utusan khususnya. “Aspri / Sekmil Mayjen Tjokropranolo ke Manila. Namun sampai kini belum ada penjelasan terperinci mengenai misi khusus tersebut.”

Soal Pengakuan Terhadap RRC

Dalam keterangan pers hari Minggu di Palembang, kedua pihak menyatakan menyinggung pula masalah hubungan dengan RRC dan Menlu Adam Malik kemudian menjelaskan bahwa Indonesia tak keberatan jika Malaysia membuka hubungan dengan Peking, diduga kuat PM Tun membeberkan pada Presiden Soeharto mengenai maksud2 Malaysia untuk segera membuka hubungan dengan RRC.

Dubes Malaysia Zainal Abidin bin Sulong setibanya kembali di Jakarta dari Palembang Senin Sore, mengulang kembali pernyataan Tun Razak, bahwa bagi Malaysia soal pembukaan hubungan dengan RRC hanya soal waktu saja.

Namun ia tidak bersedia menegaskan, apakah pembukaan itu akan dilakukan dalam waktu dekat, atau mungkin tahun ini. Itu tidak dapat saya katakan. Soal itu adalah pemerintah yang punya hak”, katanya pada pers di Kemayoran.

Dubes Sulong menambahkan pihak Malaysia merasa puas dengan pertemuan Palembang. Tapi ia akan mengatakan tidak tahu kapan pembicaraan2 informil serupa antara kedua pemimpin akan diadakan lagi, Menurut keterangan, Tuan mengundang Soeharto untuk berkunjung ke Malaysia, yang diperkirakan akan diisi dengan pertemuan yang sifatnya seperti di Palembang. “Kita lihat sajalah nanti”, kata Dubes Sulong.

Masalah2 Ekonomi

Dalam keterangan pers yang juga disiarkan Deplu RI hari Senin diketengahkan bahwa kedua pemimpin bertukar pikiran tentang masalah kedua negara, sebagai akibat pelepasan stockpile karet dan timah dan masalah produksi karet sintetis oleh negara2 maju.

Setibanya kemarin, Tun Razak mengemukakan bahwa Malaysia dan Indonesia setuju mengajukan kecemasan2 mereka terhadap rencana pelepasan stockpile karet dan timah AS. Hal ini akan diajukan oleh kedua negara secara sendiri2 melalui para Dubes mereka di Washington.

Beberapa waktu yang lalu, Menteri Pertambangan RI Prof Dr. Sadli juga menegaskan, bahwa pemerintah RI melalui Deplu akan mengajukan keberatan terhadap rencana Pemerintah AS tersebut. Karena hal itu akan merugikan negara2 penghasil timah dan karet.

Mengenai soal karet sintetis, kedua pihak menunjukannya terutama pada Jepang, sebagaimana halnya pada waktu pertemuan Menlu2 ASEAN di Pataya bulan Ialu.

Produksi karet sintetis oleh Jepang dianggap merugikan negara2 penghasil karet alam, terutama karena Jepang mengekspor produksinya ke negara 2 lain.

Menurut catatan tahun 1972 Jepang menghasilkan 850.000 ton karet sintetis diantaranya 245.000 ton diekspornya ke pasaran tradisional karet alam Malaysia dan Muangthai.

Menurut dugaan Tun dan Soeharto membicarakan langkah2 untuk mewujudkan desakan pada Jepang, agar memperhatikan keluhan negara2 penghasil karet akan khususnya negara2 ASEAN. (DTS)

Sumber: KOMPAS (07/05/1973)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 117-119.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.