RAPBN 1987-1988 PENERIMAAN DEVISA TURUN 30 %

RAPBN 1987-1988 PENERIMAAN DEVISA TURUN 30 %

 

 

Presiden Soeharto mengemukakan, penerimaan devisa Indonesia dari ekspor migas dan nonmigas 1987/88 akan turun menjadi 13,1 miliar dolar AS dari 16,6 miliar dalam tahun 1985/86, suatu penurunan sebesar 30 persen.

Sementara itu anjloknya harga minyak bumi 1986 mengakibatkan kemerosotan penerimaan devisa dari minyak bumi sebesar 47 persen, dari 12,4 miliar dolar 1985/ 1986 menjadi 6,6 miliar dolar 1986/87.

Kepala Negara mengemukakan hal itu dalam pidato pengantar Nota Keuangan dan RAPBN 1987/1988 di depan Sidang Paripurna DPR, Selasa.

Presiden menyebutkan sebagai suatu keadaan yang luar biasa yang diakibatkan merosotnya penerimaan devisa sebesar 30 persen dalam waktu satu tahun anggaran tanpa adanya tanda tanda pemulihan dalam waktu dekat. Karenanya harus dijawab dengan tindakan luar biasa, kata Presiden ketika menjelaskan tindakan devaluasi.

“Sebab itu, neraca pembayaran dan penerimaan negara merupakan dua masalah berat yang harus kita tanggulangi dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam tahun anggaran 1987/88, yang merupakan pelaksanaan tahun ke empat Repelita IV,” katanya.

Penerimaan negara dari sektor minyak bumi dan gas alam tahun anggaran 1987/88 akan mencapai Rp 6,9 triliun lebih atau turun 28,7 persen dari rencana penerimaan 1986/87.

Sementara itu dalam Nota Keuangan dan RAPBN 1987/’88, Pemerintah mengemukakan berbagai upaya peningkatan dan penganekaragaman hasil tambang.

Sebagai akibat perkembangan yang terjadi dalam pasaran minyak dunia, maka produksi minyak bumi Indonesia dalam tahun kedua Pelita IV hanya mencapai 488 juta barel. Dari jumlah tersebut, 436 juta barel berupa minyak mentah dan 52 juta barel berupa kondensat.

Apabila dibandingkan dengan produksi tahun pertama Pelita IV sebanyak 507 juta barel, maka produksi minyak dalam tahun kedua tersebut mengalami penurunan 19 juta barel atau 3,7 persen.

Penurunan tersebut terjadi karena rendahnya permintaan di pasaran internasional, yang selanjutnya berakibat pada penurunan dalam jumlah ekspor yaitu dari 400,3 juta barel/tahun 1984/85 menjadi 338,7 juta barel/tahun 1985/86 atau turun 15,4 persen.

Sementara itu gas alam cair (LNG) yang dihasilkan di Badak, Kaltim dan Arun, Aceh tahun 1985/86 mencapai 15.198 ribu ton (sama dengan 785,7 juta MMBTU), yang berarti naik 30 ribu ton dibanding produksi 1984/1985 yang mencapai 15.168 ribu ton (783,7 MMBTU).

Walaupun volume ekspor LNG 1985/86 mengalami penurunan 0,2 persen dibanding tahun sebelumnya, namun nilai ekspornya naik 7,2 persen dari 3.574, 1 juta dolar AS 1984/85 menjadi 3.832,4 juta dolar 1985/86.

Sedang gas minyak cair (LPG) yang berasal dari kilang minyak Plaju, Sungai Gerong, Rantau, Mundu, Lex Plant Union Oil Santan dan Arco, dalam waktu yang sama mengalami penurunan produksi, serta volume dan nilai ekspornya.

Apabila produksi, volume dan nilai ekspor 1984/85 masing-masing telah mencapai 871.657 metrik ton, 742.317 metrik ton dan 104,8 juta dolar AS, maka tahun 1985/86 masing masing hanya mencapai 806.408 metrik ton, 580.323 metrik ton dan 102,8 juta dolar, atau produksinya turun 7,5 persen, volume ekspsor turun 21,8 persen dan nilai ekspor turun 27 persen dalam tahun 1985/1986. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (06/01/1987)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 347-348.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.