RANGKUMAN PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN RI 87

RANGKUMAN PIDATO KENEGARAAN PRESIDEN RI 87

 

Presiden Soeharto hari Sabtu menyerukan agar semua kekuatan politik dan organisasi kemasyarakatan menyiapkan diri di bidang masing-masing dengan program-­program yang akan diperjuangkan dalam Sidang Umum MPR mendatang dan selanjutnya melaksanakan program umum nasional berupa GBHN hasil sidang umum itu.

“Untuk itu semua kekuatan sosial politik dan organisasi kemasyarakatan pada waktunya perlu menyusun kembali program masing-masing dalam rangka melaksanakan GBHN yang akan ditetapkan nanti,” demikian Presiden dalam pidato kenegaraan pada rapat paripurna terbuka DPR RI di Senayan Jakarta, Sabtu.

Ia mengatakan, di bidang ideologi dan politik bangsa Indonesia telah berhasil meletakkan kerangka landasan yang diperlukan dan hal tersebut didasarkan pada hasil sukses Pemilihan Umum 1987 setelah semua kekuatan sosial-politik menerima Pancasila sebagai satu-satunya azas.

Tentang Pemilu yang baru lalu itu Presiden menilainya berjalan lebih tertib dan lebih aman dibanding dengan Pemilu tahun 1982 dan itu menunjukkan kualitas makin tinggi dari pesta demokrasi Indonesia.

Pengalaman juga mengajarkan bahwa kampanye Pemilu yang menitik-beratkan pada program nyata ternyata tidak kalah menarik dibanding kampanye berbau ideologi golongan atau azas ciri golongan yang hanya menimbulkan ketegangan dan keretakan.

Dengan Pemilu 1987 itu, menurut Kepala Negara, berarti bangsa Indonesia telah meninggalkan budaya politik lama, yang menganggap politik sebagai adu kekuatan, pembentukan dan pengerahan kekuatan untuk berhadapan dengan golongan lain.

“Tingkah laku dan budaya politik baru bersuasana kekeluargaan dan lebih bermartabat itu ak:an kita kembangkan terus. Kita berharap agar dalam Sidang Umum MPR mendatang, terutama dalam menetapkan GBHN 1988, arah dan ciri budaya politik demikian makin jelas terwujud,” demikian Presiden.

Di bidang ekonomi, Presiden mengingatkan lagi bahwa Indonesia masih tetap menghadapi tantangan dan ujian berat, meskipun dalam tahun 1987 ini ada tanda-tanda bahwa keadaan ekonomi Indonesia tidak seberat tahun lalu.

Tantangan pokok dalam jangka pendek adalah mengusahakan penerimaan devisa sebesar-besarnya dan harus menggunakan devisa itu setepat-tepatnya untuk mendukung pembangunan, khususnya menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya, kata Presiden.

Ia mengakui, harga minyak bumi di pasaran dunia akhir-akhir ini membaik dan berada di atas 18 dolar/barel, namun tingkat harga itu tampaknya disebabkan oleh faktor-faktor bersifat sementara, sehingga perlu waktu untuk mengamati lebih lanjut.

Dalam pada itu harga berbagai komoditi ekspor lain di pasaran dunia masih tetap lemah, walaupun ada tanda-tanda cenderung membaik.

Rapat paripurna DPR yang mendengarkan pidato kenegaraan Presiden itu dipimpin oleh Ketua DPR/MPR H. Amir Machmud. Tampak hadir pula Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah, para Ketua Lembaga Tinggi Negara, para Menteri Kabinet dan Pejabat Tinggi Sipil dan Militer. (RA)

 

 

Jakarta, Antara

Sumber : ANTARA (15/08/1987)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 186-187.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.