RAKYAT TEROMBANG-AMBING JIKA TAK SETIA PADA PANCASILA

RAKYAT TEROMBANG-AMBING JIKA TAK SETIA PADA PANCASILA[1]

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto minta rakyat untuk tetap setia sepenuhnya terhadap ideologi Pancasila agar tidak terombang-ambing akibat perubahan yang terjadi dalam dunia yang penuh dinamika ini.

“Di tengah-tengah kehidupan yang dinamis ini terjadi perubahan-perubahan besar yang penuh dengan dinarnika. Menghadapi situasi yang demikian itu, kita harus terus memantapkan kesetiaan. terhadap Pancasila, “kata Presiden di Srengseng Sawah, Depok, Kamis.

Tanpa kesetiaan, kata Kepala Negara ,bangsa Indonesia akan terombang-ambing dalam perubahan yang penuh dinamika itu.

Ketika meresmikan kampus Universitas Pancasila, Kepala Negara mem beri contoh jika rakyat tidak menerapkan nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, maka bangsa ini akan kehilangan nilai-nilai etik, moral, dan spiritual.

“Tanpa nilai kemanusia an yang adil dan beradab,kemajuan ekonomi dan ilmu pengetahuan yang dicapai manusia justru dapat memerosotkan nilai-nilai kemanusiaan itu,”kata Presiden pada acara yang dihadiri pula lbu Tien.

Tanpa nilai persatuan dan kesatuan, bangsa Indonesia akan tercabik-cabik dari dalarn seperti yang diderita oleh sejumlah negara, kata Presiden.

Presiden kemudian memberi contoh jika rakyat tidak mau menerapkan nilai-nilai Pancasila maka akan tumbuh kekuatan otoriter, yang akhirnya hanya akan membawa keruntuhan.

Tanpa nilai-nilai sosial, maka kemajuan ekonomi akan membuka kesenjangan sosial dan menirnbulkan keresahan, kata Presiden.

Acara peresmian ini dihadiri pula Menteri P dan K Wardiman Djojonegoro, Mentrans dan PPH Siswono Yudohusodo yang juga Bendahara Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Universitas Pancasila, dan beberapa mantan menteri yang duduk dalam yayasan itu seperti Sudomo, Bustanil Arifin, dan Cosmas Batubara.

Perguruan tinggi itu, menurut laporan Rektor Awaloedin Djamin, mempunyai empat fakultas yaitu ekonorni, farmasi, hukum, dan teknik.

Universitas Pancasila dibentuk pada 28 Oktober 1966 yang merupakan penggabungan Universitas Pancasila yang lama dan Universitas Bung Karno. Rektor pertamanya Letkol Amir Murtono yang kemudian dikenal sebagai Ketua Umum Golkar.

Pedoman Perjalanan

Ketika berbicara tentang penerapan Pancasila yang merupakan ideologi negara, Presiden yang didampingi Ketua Yayasan, Achmad Tahir, menyatakan Pancasila harus tetap dijadikan pedoman dalam perjalanan sejarah dan pembangunan bangsa Indonesia.

“Dengan demikian, di satu pihak kita dapat terhindar dari akibat-akibat buruk yang dibawa oleh kemajuan zaman dan di lain pi hak kita dapat tetap membangun masyarakat yang menjadi cita-cita kemerdekaan kita,” kata Presiden.

Bangsa ini di masa mendatang akan menghadapi banyak sekali tantangan, masalah, dan harapan-harapan baru yang sebagian di antaranya belum dikenal ataupun bahkan belurn terbayangkan pada masa kini. Semuanya itu, memerlukan jawaban yang setepat-tepatnya dan sebaik-baiknya.

“Jawaban yang kita berikan harus tepat dilihat dari sudut ekonomi dan sosial, serta harus masuk akal secara politis dan harus kuat secara ideologis. Itulah yang kita maksudkan dengan menegaskan bahwa pembangunan kita merupakan pengamalan Pancasila,” kata Kepala Negara.

Karena  adanya berbagai perkembangan baru di masa mendatang, maka perguruan tinggi harus memainkan peranan yang pen ting. Perguruan tinggi merupakan salah satu wahana untuk meningkatkan sumber daya manusia yang kuat bekal ilmu pengetahuannya dan sadar akan ideologi nasionalnya.

Ketika berbicara tentang pembangunan di masa mendatang, Kepala Negara mengatakan proses industrialisasi harus dipercepat sebab industrialisasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kemakmuran dan kemajuan sutau bangsa.

“Sejarah pembangunan bangsa-bangsa menunjukkan bahwa hanya bangsa yang memiliki industri yang maju sajalah yang rakyatnya dapat hidup makmur,”ucap Presiden. “Namun, kita tidak boleh salah langkah. Kita tidak boleh memperlakukan manusia hanya sebagai faktor produksi sebab hal ini bertentangan dengan cita-cita pembangunan nasional, bertentangan dengan falsafah hidup kita,” kata Kepala Negara.

Sebelumnya Ketua Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Universitas Pancasila Achmad Tahir melaporkan pembangunan perguruan tinggi ini dilakukan untuk memenuhi berbagai tantangan di bidang pendidikan yaitu menyediakan berbagai perangkat lunak dan keras bagi para mahasiswa.

Kepada para undangan, mantan Menteri Parpostel itu menyebutkan pendirian universitas tersebut tidak bisa dilepaskan sedikitpun dari peranan Presiden yang pada tahun 1966 merupakan  Ketua Presidium Kabinet Ampera.

Tahir mengatakan Pak Harto lab yang mendorong pimpinan universitas itu untuk mencari laban bagi pembangunan kampus baru menggantikan yang lama di Jalan Borobudur, Jakarta Pusat.

Seusai meresmikan kampus itu, Kepala Negara yang didampingi Ibu Tien menanam pohon sebagai kenang-kenangan dan kemudian melakukan peninjauan . (T!EU02/DN-08/22/04/9315:18)

Sumber:ANTARA (22/04/1993)

_______________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XV (1993), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 876-878.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.