Radinal Moochtar: Pak Harto Bekerja Untuk Rakyat

Bekerja Untuk Rakyat

Ir. Radinal Moochtar (Menteri Pekerjaan Umum dalam Kabinet Pembangunan V)

Awal perkenalan saya secara pribadi dengan Pak Harto terjadi .pada tahun 1969. Waktu itu beliau bersama lbu Tien dan rombongan mengunjungi kompleks Werdhapura, suatu proyek percontohan cottage wisata yang dikembangkan oleh Departemen Pekerjaan Umum dan berlokasi di pantai Sanur, Bali. Proyek ini diharapkan dapat ditiru dan dapat dibangun oleh masyarakat sendiri dalam rangka keikutsertaan masyarakat dalam perkembangan kepariwisataan di Bali. Kunjungan beliau bersama rombongan dilakukan setelah meresmikan pembukaan bandar udara internasional Ngurah Rai. Kesediaan beliau meluangkan waktu untuk melihat proyek kecil yang diharapkan dapat membantu masyarakat tersebut sangat membesarkan hati.
Di kompleks Werdhapura, Pak Harto dan Ibu Tien mengunjuhgi beberapa unit prototip cottage yang ada dan beliau sampai pada suatu tempat yang namanya “Bale Bengong”. Mendengar nama tempat itu begitu aneh, beliau tertarik untuk mengetahui mengapa dinamakan demikian. Sebagai seorang yang ditugasi memberikan laporan, saya menerangkan bahwa dari tempat itu kita dapat menikmati dan mengagumi keagungan dan keindahan Gunung Agung sebagai gunung tertinggi di Pulau Bali dan sekaligus menyadarkan kita betapa besar kekuasaan Tuhan Sang Maha Pencipta dan betapa kecilnya kemampuan manusia. Dalam percakapan inipun beliau memberikan perhatian sepenuhnya terhadap seluruh penjelasan yang saya sampaikan sehingga baik kesediaan maupun kesabaran beliau mendengarkan laporan menimbulkan kesan saya yang mendalam terhadap beliau.
Pertemuan saya dengan Pak Harto selanjutnya berlangsung pada tahun yang sama yaitu pada waktu beliau mengadakan kunjungan inspeksi ke Departemen Pekerjaan Umum. Waktu itu saya menjabat sebagai Direktur Tata Kota dan Daerah. Kepada beliau saya menceritakan kegiatan “Puskopo” yaitu “Pusat Koordinasi Perencanaan Operasi” sebagai upaya untuk mengkoordinasi kegiatan-kegiatan Departemen PU serta pemecahan masalah-masalah yang dihadapinya. Pada pertemuan itu Pak Harto banyak mengajukan pertanyaan mengenai berbagai hal yang menyangkut pelaksanaan tugas di lingkungan Departemen PU baik yang teknis maupun yang menyangkut kepentingan umum. Ini menunjukkan bahwa beliau memberikan perhatian yang besar sekali terutama terhadap masalah-masalah yang dihadapi maupun pengalaman yang berkembang di lingkungan Departemen PU untuk digunakan sebagai bahan pembanding dalam pelaksanaan pembangunan nasional yang baru kita mulai. Di sini pun Pak Harto memberikan perhatian yang penuh padahal yang memberikan penjelasan hanyalah saya sebagai salah seorang Direktur di lingkungan Departemen PU. Hal itu membuat saya merasa mendapat dorongan, binaan dan kepercayaan dalam mengemban tugas.
Pertemuan berikutnya ialah pada waktu saya ditugasi menjadi Direktur Utama Perum Perumnas. Saya ikut mendampingi beliau dalam peresmian proyek pembangunan massal perumahan rakyat yang berpenghasilan rendah di Depok dan di berbagai daerah lain-nya. Perhatian beliau terhadap keterjangkauan masyarakat maupun mengenai kelengkapan fasilitas lingkungan sebagai usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat selalu tergambar dari petunjuk-petunjuk penyempurnaan yang beliau berikan. •
Selama saya menjadi Direktur Jenderal Cipta Karya dan kemudian sebagai Sekretaris Jenderal Departemen PU saya jarang sekali dapat bertemu langsung dengan Pak Harto. Paling paling pertemuan tidak Iangsung itu terjadi kalau ada sidang pleno kabinet yang berlangsung setiap akhir tahun untuk mendengarkan evaluasi pelaksanaan Pelita. Para pejabat eselon I umumnya dibenarkan turut hadir dalam sidang ini untuk mendengarkan petunjuk-petunjuk beliau dalam rangka penyusunan anggaran belanja tahunan dan pelaksanaan pembangunan nasional.
Pada suatu kesempatan Pak Harto memanggil Menteri PU, dan Direktur Jenderal Bina Marga di Bina Graha; saya sebagai Sekretaris Jenderal Departemen PU ikut pula dalam pertemuan ini. Pada kesempatan itu beliau sempat menyampaikan saran-saran mengenai pemeliharaan jalan tol. Beliau pun menyarankan supaya kiri-kanan jalan tol ditanami tanaman covercrop yang dapat melindungi tanah pinggir jalan tol. Cara ini tidak hanya berguna sebagai cara pemeliharaan tepi jalan yang murah, tetapi sekaligus dapat pula memperindah jalan tol dengan adanya tanaman tersebut sebagai suatu hamparan hijau. Dari pertemuan itu timbul lagi kekaguman saya terhadap Pak Harto. Karena tidak terpikir oleh saya bahwa Pak Harto sebagai pemimpin bangsa bukan hanya memikirkan masalah-masalah yang besar-besar baik nasional maupun tingkat internasional, tetapi juga masalah yang tampaknya kecil, namun manfaat dan pengaruhnya sangat besar terhadap keindahan lingkungan maupun pengurangan biaya pemeliharaan.
Pada suatu hari dalam bulan Maret 1988 Pak Suyono, Menteri PU ketika itu, mengajak saya untuk menghadap Pak Harto di kediaman beliau di Jalan Cendana. Sebetulnya dalam hati, saya masih bertanya-tanya mengenai acara pertemuan dengan Pak Harto itu. Selain itu saya diperintahkan untuk membawa berkas-berkas mengenai proyek tambak. Hal ini membuat saya menjadi lebih bertanya tanya, sebab mengapa yang diajak oleh Pak Suyono itu bukan pejabat dari Direktorat Jenderal Pengairan yang menangani proyek tetsebut, melainkan saya sebagai Sekretaris Jenderal. Jadi saya tidak mempunyai bayangan apa yang akan terjadi pada waktu itu. Pada kesempatan ini Pak Suyono memulai dengan menerangkan mengenai proyek tambak yang merupakan salah satu fokus perhatian pemerintah sebagai salah satu bidang usaha masyarakat yang akan lebih dikembangkan pada masa yang akan datang. Pak Harto mendengarkan dengan penuh perhatian dan memberikan beberapa petunjuk bagi penyelesaiannya.
Kemudian Pak Harto mengatakan bahwa saya sebagai Sekretaris Jenderal supaya diganti dengan orang lain, dan saya dipercayai menjadi Menteri PU yang baru. Karena tidak ada persiapan apapun pada waktu itu, saya hanya terdiam saja, tidak bisa mengatakan sesuatu apapun. Tetapi kemudian yang dapat saya ucapkan hanya terima kasih kepada Pak Harto atas kepercayaan ini. Apa yang membesarkan hati saya dalam pertemuan itu ialah adanya petunjuk-petunjuk dari beliau yang disampaikan dengan tenang dan jelas, sehingga menjadi bekal dalam pelaksanaan tugas saya. Kebetulan setelah saya diangkat menjadi Menteri PU yang baru memang ada masalah-masalah yang perlu segera ditangani untuk mendukung proyek TIR (Tambak Inti Rakyat).
Dalam menjalankan tugas-tugas yang dipercayakan kepada saya sebagai pembantu Pak Harto, banyak timbul kesan-kesan dan pengalaman yang menarik. Misalnya naiknya air laut melimpah ke dalam tambak proyek percontohan TIR yang belum selesai pembangunannya di Krawang, sehingga mengakibatkan tertutupnya sebagian tambak dan menyebabkan kerugian yang cukup besar. Dari laporan yang disampaikan oleh staf yang kami teruskan ke Bina Graha, tanpa dilakukan pengecekan setempat terlebih dahulu, ternyata ada masalah-masalah yang masih harus dibenahi namun dilaporkan telah selesai ditangani.
Saya dipanggil oleh Pak Harto untuk menjelaskan masalah tersebut. Pada kesempatan itu saya tidak mengira sama sekali bahwa Pak Harto dapat menjelaskan secara lengkap, rinci dan jelas mengenai masalah pemeliharaan udang, benur, pakan, pola pemeliharaan serta biaya-biayanya. Juga apa yang terjadi terhadap tambak kalau air laut sedang pasang. Selain itu beliau juga dapat memberikan jalan keluar untuk menanggulanginya.
Penjelasan Pak Harto mengenai pertambakan tersebut kepada saya meliputi berbagai segi dan masalah yang saling terkait dengan pengelolaan proyek pertambakan itu, termasuk pengaturan dan penyediaan air baku dari laut maupun dari sungai. Beliau sangat menguasai bidang pembangunan pertambakan, yang direncanakan akan diperuntukkan sebagai proyek panduan bagi rakyat itu, baik yang menyangkut bidang teknis, bidang pengorganisasian secara koperatif, maupun menyangkut bidang perkreditannya. Setelah saya mendengarkan penjelasan beliau yang begitu sabar, jelas, lengkap, dan tidak marah atas laporan yang kurang cermat tersebut, saya mengerti dan merasa perlu cepat-cepat melihat sendiri ke lapangan. Cara beliau mengingatkan kesalahan saya sungguh merupakan suatu cara yang patut ditiru, namun tidak semua atasan dapat melaksanakannya sebagaimana beliau lakukan. Beliau juga memperingatkan saya agar lebih hati-hati, mengingat bahwa terjangan air pasang ke tambak walaupun sudah tinggi, tapi belum apa-apa pada bulan September ini. Tetapi nanti pada bulan Desember dan biasanya bertepatan dengan hari raya Imlek air pasang tersebut akan lebih tinggi lagi.
Waktu saya sampai di lapangan saya melihat sebagian areal tambak telah tertutup oleh lumpur karena tanggul pantai yang dibuat tidak cukup tinggi untuk menahan lumpur masuk ke dalam tambak yang terbawa oleh air pasang. Padahal data yang digunakan untuk pembangunan tanggul adalah dari Hidral (Dinas Hidrologi Angkatan Laut) dan pengamatan setempat selama setengah tahun.
Kemudian dikerahkan tenaga secara bersama dan lebih terpadu untuk mengeluarkan lumpur dari dalam tambak. Selanjutnya kepada Pak Harto saya laporkan secara periodik dengan lebih akurat mengenai kemajuan pekerjaan. Setelah semua pekerjaan penanggulangan darurat selesai, saya melaporkan kembali kepada beliau bahwa pekerjaan tersebut telah selesai. Pekerjaan selanjutnya yang masih perlu ditangani adalah penyelesaian pembangunan saluran air laut berbentuk konstruksi beton tipis, di sebelah kanan dan kiri sepanjang 1500 meter dari pantai, serta berfungsi juga semacam penahan air laut. Suatu pelaksanaan pekerjaan yang baru pertama kali dilakukan di Indonesia, yaitu mengalirkan air laut dari jarak 1500 meter ke suatu danau kecil (kolam tando) yang dapat digunakan sebagai tempat pengendapan lumpur dan setelah dicampur dengan air sungai lalu baru masuk ke petak-petak tambak. Saya tidak dapat membayangkan jangkauan pikiran Pak Harto yang begitu jauh, karena ini merupakan pengalaman yang baru untuk kita. Belum lagi tenaga ahli yang kita perlukan untuk itu, yakni rekayasa pantai (coastal engineering) masih agak kurang.
Pak Harto yang mempunyai daya pikir yang kuat, rasional dan mendalam terhadap sesuatu masalah, kembali memberikan petunjuk kepada saya. Sewaktu saya melaporkan mengenai penanganan pekerjaan yang telah berangsur selesai, beliau minta supaya diperiksa lagi apakah konstruksi dinding penahan yang ada telah cukup kuat untuk menahan gelombang air laut yang lebih besar lagi. Saya katakan kepada beliau bahwa konstruksi itu rasanya telah cukup kuat dan telah diperiksa oleh para ahli kita dalam bidang ini baik dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Masalah Air di Bandung maupun Direktorat Jenderal Pengairan Depanemen PU. Tetapi Pak Harto tetap menyarankan saya untuk memeriksa kembali jangan-jangan masih kurang kuat dan kalau perlu akan didatangkan seorang pakar dari proyek Asahan.
Apa yang dikhawatirkan oleh Pak Harto betul-betul terjadi. Dinding beton saluran pengambilan air laut yang telah diperkuat itu agak miring lagi kena hantaman gelombang yang sangat kuat pada hari Imlek di bulan Februari 1989, malahan ponton alat pancang dua-duanya hanyut terbawa gelombang pasang. Padahal beliau telah memperingatkan bahwa pada waktu tersebut gelombang akan besar sekali dan kita harus berhati-hati karena dapat merobohkan bangunan air yang ada di sekitarnya. Kadang-kadang saya menyadari bahwa apa yang telah beliau ingatkan kepada kitasebagai tanda-tanda yang kita harus perhatikan, tetapi kita masih kurang jeli untuk memperhatikannya.
Suatu hari saya memberanikan diri untuk menanyakan mengapa. Pak Harto mengetahui bahwa justru pada masa-masa itu akan terjadi gelombang yang besar. Sambil tertawa beliau menjawab bahwa hal itu diketahuinya karena selalu melihat, mengamati dan menarik pelajaran dari pengalaman yang sekian lama dialaminya. Lalu beliau; pelajari serta mengambil manfaat dari pengalaman itu.
Pak Harto selalu memperhatikan masalah-masalah yang kelihatannya kecil, tetapi dapat mengakibatkan pengaruh yang besar terhadap kita. Misalnya soal ombak yang besar itu biasanya datang, pada akhir tahun dan sekitar perayaan Imlek. Mungkin juga ;kita tahu gejala itu, tetapi kita tidak memperhatikan begitu teliti seperti, Pak Harto. Suatu pengalaman yang sangat menarik terjadi kira-kira sebulan setelah kejadian ombak yang menghantam saluran pengambil air laut. Ketika itu Pak Harto menerima delapan dari sebelas Executive Governors Bank Dunia. Dalam pertemuan itu, menurut ceritera para governors tersebut, beliau mulai menjelaskan mengenai falsafah negara Pancasila lalu dilanjutkan dengan GBHN dan strategi yang dijalankan untuk mencapai tujuan yang terkandung didalamnya. Kemudian beliau juga secara teliti memberikan contoh-contoh yang sangat detail dalam berbagai bidang seperti pertanian (swasembada beras), koperasi dan lain-lainnya.
Cara Pak Harto menerangkan suatu masalah yang dimulai dengan masalah umum dan dilanjutkan dengan pemecahan masalah secara terperinci, benar-benar membuat kagum para pejabat Bank Dunia tersebut. Padahal mereka adalah pakar-pakar di bidang masing-masing dan mewakili negara masing-masing dalam badan dunia tersebut. Mereka mengira bahwa Kepala Negara kita, sebagaimana banyak kepala negara pada umumnya, hanya mengetahui dan menyampaikan suatu masalah secara politis dan umum saja. Kekaguman ini mereka kemukakan kepada kami yang hadir sewaktu jamuan makan malam yang diadakan oleh Menteri Keuangan untuk menghormati mereka. Pengakuan jujur itu datangnya dari pejabat tinggi organisasi dunia yaitu Bank Dunia terhadap Pak Harto. Beliau tidak hanya menguasai masalah pembangunan secara makro saja, tetapi perhatian beliau sampai pada bidang teknis ekonomis sekaligus penanganannya dan pengaruhnya pada usaha peningkatan kesejahteraan rakyat.
Pengalaman lainnya ialah sewaktu saya mengusulkan kepada PaK Harto untuk memanfaatkan bendungan-bendungan guna dipergunakan masyarakat setempat sebagai tempat pemeliharaan ikan. Beliau memberi komentar, bahwa tidak semua ikan bisa hidup di dalam bendungan yang dalamnya puluhan meter. Untuk itu agar diadakan penyelidikan seperlunya. Dengan menggunakan pola keramba/jaring apung ada kemungkinan untuk itu, tergantung dari kulitas air bendungan dan lain-lain. Hal ini berbeda dengan keadaan di laut dimana sudah terdapat keseimbangan alami dan dengan rumpo-rumpon dapat diusahakan pemanfaatannya. Secara diam-diam saya berpikir bahwa beliau begitu menguasai secara terperinci mengenai apa saja yang diusulkan, padahal beliau memberikan tanggapan secara spontan, tanpa persiapan. Ini menunjukkan bahwa beliau mempunyai pengetahuan luas tentang berbagai bidang sampai yang sekecil-kecilnya.
Pengalaman lainnya ialah sewaktu saya melaporkan kepada beliau mengenai rencana untuk menanam pohon bakau di lokasi tambak. Beliau memberi tanggapan terhadap rencana saya itu dengan menyarankan untuk menanam pohon bakau itu di pinggir pantai untuk tempat plankton berbiak, jangan jauh dari pantai. Hal ini membuat saya menjadi lebih hati-hati dalam memberikan saran ataupun laporan kepada beliau. Sebab dalam urusan menanam bakau juga beliau sangat menguasainya. Jadi kita harus siap dan menguasai sekali, apa yang hendak kita sarankan atau laporkan kepada beliau.
Pak Harto sama sekali tidak mau mengecewakan rakyat. Ini terbukti antara lain dalam suatu kunjungan kerja beliau beserta lbu Tien ke Muko-Muko dan Bengkulu tahun 1989. Ketika hendak mendarat di Bengkulu ternyata pesawat yang ditumpangi tidak dapat mendarat karena lapangan terbang diselimuti kabut. Setelah berputar-putar beberapa lama, Pak Try Sutrisno menanyakan kepada Pak Harto apakah sebaiknya pulang saja ke Jakarta. Pak Harto memutuskan untuk mendarat sementara di Palembang menunggu cuaca menjadi cerah kembali. Dalam hal ini beliau memikirkan rakyat dari berbagai pelosok Bengkulu yang telah berkumpul dan menunggu di sana. Apabila beliau tidak jadi mendarat di Bengkulu, dan meneruskan peijalanan ke Muko-Muko, tentunya, rakyat yang telah menunggu beliau sekian lama akan menjadi sangat kecewa. Cuaca di Bengkulu baru cerah kembali hampir empat jam kemudian, tetapi beliau tetap sabar menunggu. Beliau dan lbu Tien mengatakan supaya dalam menghadapi masyarakat, kita harus selalu sabar. Selama menunggu di Palembang, beliau menerima laporan perkembangan pembangunan Sumatera Selatan dari Gubernur Sumatera Selatan. Sementara itu juga terus dimonitor laporan keadaan cuaca. Akhirnya pertemuan dengan masyarakat di Muko-Muko tetap dapat terlaksana.
Di sini kita juga dapat melihat bahwa Pak Harto sangat menghormati orang lain termasuk rakyat jelata, misalnya sewaktu menerima laporan dan dalam memberikan jawaban-jawaban dalam temu-wicara dengan rakyat di Muko-Muko, Bengkulu, tersebut sehingga mereka merasa puas semuanya walaupun telah menunggu sekian lama.
Sebagai orang yang dipercayai menjadi pembantu beliau selaku menteri, saya banyak sekali mendapat input dari beliau mengenai berbagai hal. Misalnya, saran beliau agar di kiri dan kanan jalan tol seperti Jagorawi, yang memungkinkan, agar ditanami pohon sengon. Kata beliau, selain untuk contoh, juga dalam waktu lima sampai tujuh tahun nanti, rakyat akan dapat memanfaatkan kayunya. Lalu saya katakan kepada beliau bahwa nanti pohon sengon jadi tinggi dan akan membahayakan jalan. Dengan bekal pengetahuan yang begitu mendalam mengenai kehutanan, beliau memberikan jalan keluarnya. Beliau menyarankan pula agar dicoba ditanam pohon lainnya seperti pohon kayu manis yang juga dapat bermanfaat untuk rakyat. Petunjuk semacam ini banyak sekali, terutama apabila kita mengikuti perjalanan bersama beliau. Dalam hal yang demikian percakapan selalu mengarah kepada kegiatan yang dapat menguntungkan dan meningkatkan pendapatan rakyat.
Pertemuan-pertemuan dengan Pak Harto tidak selalu formal, kadang kala dapat berlangsung dalam suasana yang agak santai dan tidak terlalu formal. Biasanya pembicaraan dengan Pak Harto secara tidak begitu formal berlangsung antara lain selama dalam perjalanan. Misalnya kalau kita mendampingi beliau dan Ibu Tien dalam pesawat terbang atau kendaraan, maka beliau sering menanyakan berbagai macam masalah. Tentu saja kita harus dapat menjawab pertanyaan beliau yang kadang kadang kita tidak begitu siap untuk menjawabnya, apalagi dengan angka-angka yang tepat. Oleh karena itu, daripada salah menjawab, maka ingin rasanya untuk sementara menghindar dari Pak Harto dalam keadaan yang demikian.
Tetapi kalau beliau membuka pembicaraan dengan menceriterakan sesuatu kepada kita, maka cerita-cerita beliau sangat menarik. Bagaimana tidak, beliau dapat berceritera misalnya mengenai sashimi, makanan Jepang, yang dapat dipenuhi kebutuhannya dari Indonesia, ikan tongkol atau ikan cakalang, sampai kepada hal sekecil kecilnya. Sashimi, kata beliau, jangan dicuci nanti bisa amis rasanya. Dalam hal ini beliau tidak hanya bicara, melainkan juga tahu bagaimana cara membersihkannya.
Banyak sekali pengetahuan beliau mengenai ikan; misalnya beliau tahu benar bahwa banyak orang membuat ikan jambal dari ikan hiu. Jadi jangan dikira bahwa beliau tidak tahu bahwa ikan asin jambal yang di pasar kadang kala bukan jambal asli. Atau ikan gurita yang banyak dimakan oleh orang Jepang dan banyak juga terdapat di beberapa perairan di Indonesia ..Hal itu dapat dikembangkan di masa yang akan datang. Jadi khazanah pengetahuan beliau menjadi universal jika kita lihat dari jumlah atau masalahnya.
Pada kesempatan yang lain, Pak Harto dapat juga berceritera mengenai candi yang ada di daerah Yogyakarta. Suatu hari, selesai melapor mengenai peresmian Monumen Yogya Kembali dengan Taman Wisata Borobudur, beliau berbicara mengenai Candi Sewu dan Candi Borobudur. Pengetahuan beliau mengenai candi begitu luas, mulai dari adanya Gunung Merapi sampai sejarah Candi Borobudur dibangun. Beliau hafal betul berapa kali Gunung Merapi meletus serta akibat yang ada dari letusan tersebut. Lalu beliau hubungkan juga dengan kerusakan Candi Sewu atau Candi Borobudur sebagai akibat letusan tersebut. Dari ceritera yang sangat menarik itu memang menyenangkan buat kit a untuk didengar, tapi kita juga harus siap untuk menerima pertanyaan. Kalau pengetahuan kita biasanya hanya menyangkut bidang kita sendiri, misalnya saja hanya tahu mengenai bidang PU, maka kita harus hati-hati, sebab beliau bisa ceritera dan meminta input mengenai segala hal. Akan tetapi saya akui bahwa bila kita dekat dengan beliau, maka pengetahuan kita akan bertambah tanpa perlu membaca buku lagi.
Hubungan yang formal umumnya terjadi apabila saya melaporkan pelaksanaan sesuatu tugas kedinasan kepada beliau dan memohon petunjuk/pengarahan beliau. Selain itu juga terjadi dalam sidang-sidang kabinet, dimana beliau memberikan petunjuk¬petunjuk yang jelas dan tegas. Petunjuk itu bukan hanya diarahkan kepada seorang menteri yang bertanggungjawab terhadap suatu program saja seperti perdagangan, industri, koperasi atau lainnya, tetapi juga berlaku untuk rekan-rekan menteri yang terkait lainnya. Walaupun saya melaporkan mengenai tugas atau masalah yang ada dalam penugasan Departemen PU, beliau memberikan petunjuk yang mengaitkan bidang-bidang lainnya. Misalnya soal penggunaan kendaraan yang berlebihan muatan di jalan raya. Beliau memberi petunjuk agar didalam menjalankan tugas untuk menangani masalah ini, saya juga bekerjasama dengan instansi lainnya seperti Departemen Perhubungan, Perindustrian, Dalam Negeri dan Kepolisian.
Petunjuk yang diberikan oleh Pak Harto kepada saya selalu menekankan kepada perlunya koordinasi dan kerjasama dengan berbagai instansi lainnya, sehingga hal ini merupakan suatu keharusan dalam pelaksanaan tugas. Misalnya dalam menangani jalan yang rusak atau pembangunan jembatan baru, petunjuk beliau tidak hanya mengenai soal teknis saja, tetapi meliputi juga kaitan dengan bidang-bidang tugas instansi lain, termasuk pengaturan, pemanfaatan, pemeliharaan dan lain-lain. Dalam penanganan kasus pengurasan pasir dari dasar sungai oleh masyarakat, beliau juga memberikan petunjuk sekiranya membahayakan supaya diusahakan pengalihan pekerjaan yang lain untuk mereka. Jadi hendaknya tidak hanya melarang mereka untuk mengambil pasir yang dapat dijual sebagai mata pencaharian mereka, tetapi juga supaya memikirkan kegiatan pengganti sebagai sumber pendapatan mereka.
Petunjuk lainnya yang diberikan kepada saya misalnya mengenai pemanfaatan alat-alat berat milik Departemen PU yang selama ini belum digunakan secara optimal dan banyak komentar dan pendapat mengenai hal itu dalam beberapa media. Pak Harto menyarankan supaya alat-alat berat tersebut diusahakan untuk dapat disewakan juga kepada yang memerlukan, seperti pihak swasta. Beliau juga memberikan petunjuk terhadap pelaksanaan pekerjaan yang mengalami keterlambatan. Kadang-kadang kaitan pembangunan itu bukan menyangkut berbagai departemen saja, tetapi juga memanfaatkan potensi ABRI. Misalnya pembangurtan Monumen Yogya Kembali banyak sekali mendapat petunjuk teknis dari beliau. Jadi yang penting, beliau menekankan supaya dalam pelaksanaan peketjaan jangan hanya memikirkan penyelesaian masalah masing-masing saja secara sendiri-sendiri, tetapi jalan keluar supaya diusahakan bersama-sama dengan mengikutsertakan berbagai instansi terkait lainnya.
Pak Harto mempunyai daya ingat yang sangat kuat. Setiap laporan yang kita sampaikan sebagai langkah-langkah yang akan kita laksanakan, beliau baca dengan teliti terutama yang menyangkut angka-angka yang kita sampaikan. Dari laporan tersebut beliau dapat menanyakan kembali kepada kita baik dalam rapat kabinet maupun pada waktu lainnya.
Misalnya setelah kunjungan misi salah satu negara di Afrika yang membicarakan mengenai kemungkinan bantuan Indonesia di bidang pertanian bagi negara tersebut, pernah beliau menanyakan mengenai kemampuan pompa air yang sudah mampu dibuat di Indonesia untuk mengairi sawah. Dalam pertanyaan tersebut beliau ingin mengetahui kemampuan pompa air yang memompakan air setiap detiknya dan luas sawah yang dapat diairi. Karena ketelitian Pak Harto dalam mengolah informasi begitu cermat, maka kita harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan laporan kita juga secara cermat dan akurat mengenai hal-hal yang beliau mintakan informasinya. Tetapi kalau kita membuat kesalahan memberikan informasi, maka kita harus cepat-cepat memperbaiki laporan tersebut, supaya kesalahan informasi itu tidak terus berlanjut.
Pak Harto dapat memberikan petunjuk-petunjuk kepada kita begitu lengkap, karena beliau mempunyai pengetahuan yang sangat luas dalam berbagai bidang. Misalnya beliau memberi petunjuk kepada saya supaya Departemen PU menanam pohon melinjo, atau sirsak dalam rangka penghijauan di pinggir jalan, daerah sabuk hijau bendungan-bendungan dan lain-lain. Alasannya ialah kalau ditanam pohon-pohon tersebut, maka masyarakat tidak akan menebang pohonnya tetapi mengambil daun atau buahnya. Dengan demikian penghijauan yang dilaksanakan itu bukan semata-mata untuk penghijauan saja, tetapi penghijauan yang mampu menghasilkan dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Beliau juga menambahkan bahwa menanam pohon melinjo itu tidak mudah, sebab pohon melinjo itu ada yang perempuan dan ada yang laki-laki, sehingga besar kemungkinan ada yang tidak berbuah. Perhatian dan pengetahuan Pak Harto menjangkau sampai ke soal-soal yang begitu kecil; saya sendiri tidak pernah mengetahui hal-hal semacam itu.
Suasana hubungan antara rakyat dengan Pak Harto tidak selalu nampak amat resmi. Dalam hubungan kemasyarakatan, Pak Harto maupun Ibu Tien tampak begitu dekat dengan rakyat. Ini terlihat bilamana beliau mengadakan kunjungan ke daerah-daerah dan menanyakan mengenai berbagai hal kepada masyarakat yang dikunjunginya. Misalnya beliau-beliau menanyakan soal keikutsertaan mereka dalam program KB, berapa anaknya dan pendidikannya serta bagaimana keadaan keluarga mereka. Pertanyaan yang diarahkan Pak Harto kepada rakyat tersebut bukannya hanya sekadar menanyakan, tetapi dengan penuh rasa ingin tahu secara tepat apa yang dirasakan oleh rakyat dan bagaimana dapat memberikan bantuan yang diperlukan. Dalam kesempatan semacam ini beliau sangat dekat dengan rakyat kecil, dapat menghayati aspirasi mereka, dan hal semacam ini tidak senantiasa dapat dilakukan oleh banyak pejabat. Pak Harto bisa secara akrab bercakap-cakap baik dengan para transmigran, petani maupun nelayan; dan ini berfungsi sebagai curahan sambung rasa dengan rakyat kecil.
Memang beliau dapat berhubungan dan bertukar pikiran dengan semua lapisan masyarakat mengenai berbagai masalah yang menyangkut kehidupan rakyat. Dalam percakapan itu beliau dapat menghubungkan satu masalah dengan masalah lainnya. Misalnya. soal perikanan, beliau dapat mengaitkannya dengan perkoperasian. Yang lebih mengesankan lagi adalah kebiasaan beliau mendiskusikan masalah yang ada dengan masyarakat itu tanpa menggunakan teks, akan tetapi diskusi itu selalu berlangsung dengan sistematis. Disini pun tampak dengan jelas bahwa Pak Harto memang betul-betul menguasai berbagai permasalahan.
Berbagai petunjuk dan pengarahan yang senantiasa beliau berikan, baik yang formal maupun yang tidak terlalu formal, sangat membantu penyelesaian pelaksanaan tugas yang dipercayakan kepada seluruh jajaran pembantu beliau. Pak Harto dalam kesibukannya mau dan dapat memahami masalah yang dihadapi oleh para pembantu beliau, sebagaimana beliau sepenuhnya memahami hasrat dan harapan rakyat Indonesia, untuk siapa Pak Harto mendarmabaktikan seluruh hidup beliau: Bekerja untuk Rakyat.

 

***

 

_________________________

Ir. Radinal Mooch tar, “Bekerja Untuk Rakyat”, dikutip dari buku “Di Antara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun” (Jakarta: PT. Citra Kharisma Bunda, 2009), hal 171-190

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.