RABU INI, SOEHARTO – MULDOON RUNDINGAN

RABU INI, SOEHARTO – MULDOON RUNDINGAN

Presiden Soeharto mengingatkan, keterbelakangan ekonomi dan rendahnya mutu kehidupan sosial, tidak dapat dianggap kurang berbahaya terhadap perdamaian dunia, dibanding dengan bahaya-bahaya konflik fisik yang banyak terjadi di berbagai kawasan dunia.

Hal itu dikatakan Presiden Soeharto dalamjamuan santap malam kenegaraan menghormati Perdana Menteri Selandia Baru, Robert Muldoon dan Nyonya di Istana Negara malam ini. PM Muldoon bersama rombongan tiba di Jakarta Selasa pagi, setelah terlebih dahulu mengunjungi Bali.

Pada kesempatan itu Muldoon dalam pidato balasannya mengatakan, pemerintah Selandia Baru mendukung usaha usaha ASEAN untuk mengadakan dialog dengan Vietnam dan melibatkan kekuatan-kekuatan besar untuk menciptakan suatu kondisi di mana penyelesaian secara damai bisa terwujud.

Pembicaraan resmi antara kedua kepala pemerintahan ini akan dilakukan Rabu pagi ini. Sedang Kamis besok, PM Muldoon akan meninjau proyek Geothermal di Kemojang, Jawa Barat, yang merupakan proyek yang mendapat bantuan dari Selandia Baru.

Presiden Soeharto selanjutnya mengatakan, tidak jarang kesulitan ekonomi suatu negara, berkembang menjadi sumber keresahan sosial politik, yang kemudian mengundang campur tangan kekuatan kekuatan asing dari luar.

Terhadap berbagai ketegangan dunia yang berkecamuk di berbagai kawasan, Presiden menekankan perlu adanya penyelesaian politik dan kemauan politik dari semua pihak.

Dalam rangka ini,kiranya akan dapat dilaksanakan apabila semua pihak pada asas-asas atau prinsip internasional yang ada, berdasarkan piagam dan keputusan PBB.

Dalam usaha menghindarkan konflik-konflik yang gawat atau untuk menyelesaikannya, Presiden Soeharto menyebut bahwa Dasa Sila Bandung yang dihasilkan Konferensi AA 25 tahun lalu, merupakan landasan pedoman yang ampuh.

Dalam Dasa Sila itu didapat berbagai asas yang justru makin cocok untuk menyelesaikan masalah-masalah dunia sekarang, antara lain menghormati kedaulatan dan integritas wilayah semua bangsa, tidak mencampuri atau mengadakan intervensi atas masalah dalam negara-negara lain, menahan diri terhadap perbuatan atau penggunaan kekerasan terhadap integritas territorial atau kemerdekaan politik suatu negara, dan prinsip penyelesaian sengketa intemasional secara damai.

PM Muldoon dalam pidato balasannya mengatakan, keinginan negaranya untuk memperluas hubungan ekonomi dengan Indonesia, melalui jalur dagang dua arah, misalnya dengan kerjasama dalam bentuk join venture.

Menyinggung masalah perkembangan dunia akhir-akhir ini, PM Muldoon menegaskan, pertempuran yang masih berlangsung di Kamboja, yang jelas akan bisa merusak dan mengancam keamanan wilayah ini apabila tidak ada penyelesaian politik.

Tragedi di Kamboja itu, bagaimanapun telah menyebabkan rakyat jadi korban. (DTS)

Jakarta, Merdeka

Sumber: MERDEKA (28/05/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 586-587.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.