PWI HARAP SOEHARTO SEBAGAI PRESIDEN 1988/93

PWI HARAP SOEHARTO SEBAGAI PRESIDEN 1988/93

Jakarta, Antara

Pertemuan Besar pemimpin redaksi dan ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) se-Indonesia berakhir Minggu malam setelah mencapai permufakatan yang isinya mengharapkan kesediaan Jenderal TNI (Purnawirawan) Soeharto untuk dipilih kembali sebagai Presiden RI/Mandataris MPR peri ode 1988-1993.

Pertemuan besar yang berlangsung tiga hari di Jakarta tersebut selanjutnya juga berharap, serta akan sangat menghargai, Sidang Umum MPR hasil Pemilu 1987 menetapkan Soeharto untuk jabatan itu sesuai kehendak rakyat Indonesia.

Dalam rumusan permufakatan itu disebutkan bahwa harapan tersebut disampaikan karena Orde Baru dinilai berhasil melaksanakan pembangunan nasional di berbagai bidang secara berencana dan bertahap, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Pertemuan yang ditutup Menteri Penerangan Harmoko tersebut berpendapat pembangunan nasional yang kini berada di gerbang untuk memasuki tahap tinggal landas harus ditingkatkan, termasuk pembangunan bidang politik yang diarahkan untuk lebih memantapkan demokrasi Pancasila dalam rangka meningkatkan ketahanan nasional.

Dalam hubungan itu, Pemilu 1987 harus terselenggara dengan sukses guna menjamin kesinambungan Orde Baru dan pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto.

Mantapkan Pers Pancasila

Mufakat pertemuan yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Pers Nasional III 9 Februari 1987 itu menegaskan bahwa dalam rangka menyongsong tahap tinggal landas, semua lembaga kenegaraan dan kemasyarakatan termasuk pers nasional harus dimantapkan.

Pertemuan tersebut meneguhkan tekad untuk meningkatkan pers nasional sebagai pers Pancasila yang telah dikukuhkan, baik dalam perundang-undangan serta perangkatnya maupun dalam peraturan-peraturan dasar komponen pers nasional.

Diakui bahwa peran serta pers dalam meningkatkan pembangunan nasional mencapai tinggal landas memerlukan peningkatan interaksi positif antara pers, pemerintah dan masyarakat yang mempersyaratkan apresiasi peranan pers secara fungsional serta operasional.

Untuk itu, pers nasional perlu senantiasa mengkonsolidasikan dirinya dengan meningkatkan profesionalisme dalam pengelolaan usaha penerbitan, terutama di bidang redaksional, dan juga meningkatkan kepekaan terhadap berbagai masalah pembangunan nasional.

Sesuai prinsip kesinambungan, sistem pers Pancasila harus dikembangkan dan dilestarikan sebagai bagian dari sistem nasional.

Pengembangan dan pelestariannya adalah tugas dan tanggung jawab seluruh bangsa Indonesia, demikian permufakatan Pertemuan Besar Pemimpin Redaksi dan Ketua PWI se-Indonesia.

Menpen Harmoko dalam sambutannya menilai permufakatan tentang harapan kepada Jenderal TNI Soeharto dan SU MPR itu dinyatakan bukan karena latah, melainkan merupakan spontanitas berdasar kenyataan bahwa kepemimpinan Presiden Soeharto sejak awal Orba berhasil dan sesuai amanat rakyat serta konstitusi.

Sumber: ANTARA (08/02/1987)

 

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IX (1987), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 746-747

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.