PROSES “TUMBUH KEMBANG” PERLU JAWABAN TEPAT

PROSES “TUMBUH KEMBANG” PERLU JAWABAN TEPAT [1]

 

Jakarta, Berita Buana

Presiden Soeharto merasa berbesar hati karena Dokter Anak tidak hanya memikirkan soal2 pelik spesialisasi untuk kepandaiannya sendiri, dan juga bukan untuk memuaskan diri sendiri ataupun memperkaya diri, melainkan mampu berkongres untuk memperbincangkan masalah pembangunan manusia dan kemanusiaan serta masalah pengembangan generasi yang akan datang.

Hal itu dinyatakan oleh Kepala Negara dalam sambutannya pada pembukaan kongres Dokter Anak se-Asia ke II, Rabu pagi kemarin, yang dilangsungkan di Balai Sidang Jakarta. Kongres itu mengambil tema: Tumbuh Kembang di Asia Tenggara”.

“Saya tentulah orang awam saja dalam bidang kedokteran anak yang pelik. Namun apa yang ingin saja kemukakan adalah, bahwa proses ”tumbuh kembang” yang akan menjadi pusat perbincangan anda semua dalam kongres ini sungguh menjangkau masalah yang sangat luas, masalah kemasyarakatan, atau lebih tepatnya masalah pembangunan masyarakat” kata Presiden dengan rendah hati.

Presiden mengharapkan kongres dapat memberi jawaban yang tepat terhadap masalah proses ”tumbuh kembang” dalam gerak besar pembangunan dunia baru, suatu dunia yang lebih damai, lebih maju, lebih sejahtera dan lebih berpengertian dari pada yang kita rasakan sampai saat ini.

“Akhirnya saya mengharapkan kiranya selama anda berada ditengah2 kami anda akan lebih mengenal kami, masalah2 kami, usaha2 kami dan cita2 kami,” kata Presiden.

Pengenalan demikian mudah2an dapat menjadi penguat ikatan batin antara manusia dengan manusia, antara bangsa dengan bangsa. Dan dengan ikatan batin yang demikian berarti kita telah mulai menaburkan benih yang baik bagi proses “tumbuh kembang di Asia Tenggara” yang menjadi tema Kongres ini.

Angka2 Kematian Anak2 Masih Cukup Tinggi

Menteri Kesehatan menyatakan bahwa 44,3% penduduk di Indonesia adalah anak2 yang berumur antara 0 – 14 thn. Mereka adalah generasi penerus yang akan mewujudkan masyarakat adil makmur.

Tetapi gambaran dari anak2 Indonesia tahun 1972 sampai sekarang ini dalam masalah kesehatannya adalah bahwa angka kematian pada anak2 berumur 0 – 4 tahun cukup tinggi ialah 8,4%, pada umur 45 -49 tahun 7,5% dan yang berumur 50 tahun keatas sekitar 11,4% sementara angka kematian terendah adalah pada umur 10 – 14 tahun 2% dan 15 s/d 19 tahun 2, 1%.

Sebagian besar anak2 umur 1 – 4 tahun pada umumnya menderita penyakit infeksi saluran pernapasan akut, infeksi dan penjalaran di kulit atau infeksi dibawah kulit dan penyakit mencret.

Penyebab utama dari kematian anak adalah bronchopneumonia, mencret dan kekurangan gizi.

Demikian Menteri Kesehatan Prof. Siwabessy pada upacara pembukaan Kongres ke-II dokter anak se Asia, yang dibuka oleh Presiden Soeharto, Selasa kemarin di balai Sidang Senayan. Kekurangan gizi adalah masalah yang terjadi dinegara2 berkembang termasuk Asia Tenggara.

Anak2 yang kurang gizi sangat lemah dalam hidupnya badannya tumbuh tak semestinya (tak normal), pincang daya berpikirnya. Kita semua tahu bahwa selama masa pertumbuhan yang kritis, otak dipengaruhi oleh kekurangan gizi dapat menyebabkan kelemahan kecakapan dari ukuran normal.

Kejadian2 ini dikarenakan angka tinggi dari kelahiran dan kepadatan penduduk.

Padahal setiap anak yang lahir kedunia itu tidak hanya perlu mendapat makan saja tetapi juga pakaian, papan, kesehatan dan minimal memperoleh pendidikan. Ini semua sebenarnya adalah dilemma yang kejam dan agak abadi yang harus ditanggung oleh pemerintah maupun negara dalam jangka panjang karena angka kelahiran yang tinggi.

Karenanya menteri mengharap bahwa konggres ini tidak hanya membahas masalah makan dan pakaian saja, tetapi problim yang komplek dari masa janin, menjelang lahir, bayi, pra sekolah-sekolah remaja, menjelang dewasa, menjelang nikah, sampai menjadi orang tua adalah lingkaran rantai “proses tumbuh kembang” yang tak bisa diputuskan. Demikian Siwabessy. (DTS).

Sumber:  BERITA BUANA (04/08/1976)

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku IV (1976-1978), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 207-208.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.