PROMOSI BERSAMA ASEAN DI BIDANG PERTANIAN BELUM BERJALAN

PROMOSI BERSAMA ASEAN DI BIDANG PERTANIAN BELUM BERJALAN[1]

 

Jakarta, Antara

Promosi bersama pengusaha ASEAN di bidang pertanian yang meliputi sebelas komoditi pertanian hingga kini belum ada kemajuan berarti.

Penasihat Senior Kompartemen Pertanian dan Agroindustri Kadin Sigit Sunarto usai mengikuti pertemuan komite kerja Kadin ASEAN di Jakarta, Senin, mengatakan, dari 11 promosi bersama yang sudah ditandatangani itu baru satu yang sudah memberikan kemajuan, yaitu masalah ikan tuna.

Promosi bersama (join promotion) yang meliputi 11 komoditi pertanian itu ditandatangani sekitar empat tahun lalu. Promosi bersama itu bertujuan mempromosikan dan memperjuangkan kepentingan ASEAN, khususnya di bidang pertanian, yang akan dipasarkan ke luar ASEAN. Setiap negara ASEAN, katanya, bertugas menjadi penanggung jawab atas beberapa komoditi pertanian. Indonesia misalnya, kebagian tugas memperjuangkan dan mempromosikan minyak kelapa sawit mentah (CPO), lada dan produk-produk kehutanan, sedang Filipina bertanggungjawab atas kerajinan dan ikan tuna.

Dari ke-11 komoditi itu hanya Filipina yang sudah menjalankan tugasnya dengan baik, yaitu memperjuangkan agar ikan tuna dari negara ASEAN dapat masuk ke pasar Eropa.

Perjuangan Filipina itu, katanya, berkaitan dengan tingginya bea masuk ikan tuna ke Eropa yang mencapai sekitar 24 persen.

“Mereka telah membuat resolusi agar Eropa menurunkan bea masuknya menjadi sekitar 10 persen.” ucapnya.

Pertemuan komite kerja itu merupakan rangkaian drui pertemuan ke-53 Kadin ASEAN yang akan dilaksanakan pada Selasa (11/3). Setelah pertemuan Kadin ASEAN itu akan dilanjutkan dengan “ASEAN Business Summit” pada Rabu (12/3) yang akan dibuka Presiden Soeharto.

Gula dan sawit

Pada kesempatan itu Sigit juga mengatakan, pada pertemuan tersebut Indonesia mengusulkan kerja sama ASEAN dalam bidang perkebunan tebu dan pabrik gula, karena produktivitas tebu dan gula Indonesia masih rendah.

“Usul Indonesia itu mendapat dukungan dari Filipina.” ujar Sigit.

Namun pihak Thailand menanggapinya secara ragu-ragu. Thailand merupakan anggota ASEAN yang pengembangan pertaniannya, termasuk tebu dan gula, relatif lebih baik dibanding Indonesia.

Sektor tebu dan gula Indonesia sendiri memang masih perlu pengembangan. Akibat produktivitas yang rendah maka produksi gula nasional belum bisa memenuhi kebutuhan nasional.

Pada 1996 tercatat nilai impor gula Indonesia mencapai Rp.1 triliun. Padahal Indonesia pernah menjadi eksporter gula dahulu.

Sigit menjelaskan, pada pertemuan itu pihak Malaysia menanyakan kebijakan pemerintah Indonesia menutup investasi penanaman modal asing (PMA) di bidang kelapa sawit.

Baru-baru ini, Meninves/Ketua Badan Koorinasi Penanaman Modal (BKPM) Sanyoto Sastrowardoyo mengatakan, PMA di bidang kelapa sawit ditutup karena sudah cukup banyak. Selanjutnya pemerintah akan memberikan kesempatan yang lebih besar kepada Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Sigit mengatakan, Malaysia menginginkan agar PMA kelapa sawit tetap terus dibuka.

Malaysia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia, sementara itu Indonesia nomor dua. Namun kini areal perkebunan kelapa sawit di Malaysia sudah habis. Akibatnya pengusaha Malaysia banyak yang menanaman modal ke luar negri, terutama Indonesia.

Sumber : ANTARA (10/03/1997)

______________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 281-282.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.