PRODUKSI BERAS INDONESIA NAIK JADI 7,4 TON PER HA 1988

PRODUKSI BERAS INDONESIA NAIK JADI 7,4 TON PER HA 1988

 

Washington, Antara

Penanggulangan hama secara terpadu dengan memperhatikan kelestarian lingkungan telah berhasil meningkatkan produksi beras di Indonesia, sekaligus menghemat pengeluaran anggaran baik oleh petani maupun Pemerintah. demikian menurut seorang pakar di bidang pertanian dari Amerika Serikat.

Peter Kenmore, Koordinator Program Penanggulangan Hama Terpadu untuk kawasan Asia Tenggara, dalam konperensi persnya di Washington hari Kamis menyatakan, program penanggulangan hama secara terpadu (Integrated Pest Management/IPM) yang dilakukan di Indonesia sejak 18 bulan yang lalu (tahun 1986) telah berhasil dengan baik.

IPM dilakukan setelah disadari bahwa pemakaian pestisida secara berlebihan tidak berhasil mengatasi serangan hama yang menyerang laban pertaruan.

Menurut Kenmore, dengan dilaksanakannya IPM produksi beras per hektarnya di Indonesia telah meningkat, dari 6,1 ton tahun 1986 menjadi 7,4 ton pada panen pertama tahun 1988.

“Pemakaian pestisida maupun kerusakan tanaman akibat serangan hama telah berkurang, sedangkan produksi beras meningkat dengan biaya yang dikeluarkan pihak petani menjadi lebih kecil,” katanya pula.

Menurut ilmuwan tersebut, penghapusan subsidi bagi pemakaian pestisida di Indonesia telah menghemat pengeluaran dana sebesar 50 juta dolar AS dan pencemaran lingkungan juga berkurang 60 persen.

“Pemakaian pestisida di Indonesia berkurang hampir dua pertiga sejak program pengendalian hama terpadu (IPM) dilaksanakan,” kata Kenmore yang dikutip Reuters Washington.

 

Pengawasan FAO

Pengembangan IPM dilakukan di bawah pengawasan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Metode ini selain menganjurkan pemakaian varietas tanaman padi tahan hama, juga dipertahankannya eksistensi predator (musuh alami hama perusak tanaman) pada tanaman padi, dan pemakaian pestisida untuk menjaga perimbangan eksistensi antara predator dan hama pada tanaman.

Indonesia mulai berusaha mengendalikan pemakaian pestisida setelah serangan hama wereng coklat yang mengkibatkan jutaan ton padi tidak dapat dipanen antara tahun 1975 sampai 1979.

Hama ini muncul kembali tahun 1985 dan para petani menemui kenyataan bahwa pemakaian pestis ida dalam dosis tinggi tidak berhasil mengatasi serangan hama tersebut.

“Dari pengamatan di lapangan akhimya kami simpulkan bahwa serangan beberapa jenis hama bahkan makin mengganas, karena musuh alami (predator) hama tersebut ikut mati oleh pemakaian pestisida,” ucapnya.

Dan pada bulan Nopember 1985, Presiden Soeharto melarang pemakaian 57 jenis pestisida dan memerintahkan penggalakan program penanggulangan hama terpadu IPM.

 

 

Sumber : ANTARA(10/06/1988)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 552-553.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.