PROBOSOETEDJO : SAYA SEDIH, PENGHINAAN SUDAH KETERLALUAN

PROBOSOETEDJO : SAYA SEDIH, PENGHINAAN SUDAH KETERLALUAN[1]

 

 

Jakarta, Republika

Berhentinya HM Soeharto dari jabatan presiden ditanggapi dengan enteng oleh HR Probosoetedjo. Menurut adik Pak Harto ini, penyerahan mandat itu tak membuat anggota keluarga Pak Harto, mulai dari anak dan cucu-cucu, merasa shock.

“Tak ada sedikit pun (shock), kita semua tenang-tenang saja. Di mana-mana kami sudah diberitakan lari ke luar negeri.” kata Probosutedjo.

“Lagipula, ‘lari untuk apa?’..” tanya Probo lebih lanjut.

Menurut Probo, yang ditemui Republika di kediamannya di Jalan Diponegoro, Jakarta, usai makan siang, kemarin, Pak Harto seusai acara pembacaan surat pengunduran dirinya langsung pulang kerumahnya di Jl. Cendana No.8, bersama putrinya Siti Hardiyanti Rukmana menggunakan sedan pribadi, Mercedes Benz nopol B 2044 AR. Pak Harto langsung berkumpul bersama keluarga, anak cucu dan teman-teman dekatnya.

Probo menyesalkan banyak masyarakat yang percaya pada berita-berita luar negeri tentang kabar larinya keluarga Pak Harto ke luar negeri. Jika memang ada kesalahan, Probo menyatakan keluarganya siap diperiksa dan diadili.

“Negara kita kan negara hukum,” katanya.

“Tapi kenapa nggak diteliti, tapi percaya pada berita-berita di luar negeri.”

Walau tak lagi mengurus negara, Probo yakin Pak Harto tak bakal menjadi pengangguran. Ada banyak kegiatan yang telah menunggu sentuhan tangannya. Misalnya, mengurus peternakan di Tapos dan mengawasi Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

“Beliau juga akan menjadi pepunden (yang dituakan) keluarga.” ujarnya.

Probo sendiri kecewa dengan mundurnya Pak Harto itu.

“Saya sendiri ya sakit hati. Kenapa presiden negara yang begitu besar kok seakan-akan tidak ada manfaatnya sama sekali. Yang diingat itu kok kejelekannya saja. Kok, kebaikannya sedikit pun tidak diingat.” kata bos Grup Mercu Buana itu.

Probo berpendapat, negara ini bisa berkembang begini, dan juga maju, adalah hasil kerja Pak Harto.

“Saya sedih sekali, penghinaan sudah keterlaluan. Saya pikir berhenti menjadi presiden itu jalan terbaik bagi keluarga dan Pak Harto.”

Dalam keadaan seperti sekarang ini, katanya, pihak keluarga pun berpikir, memang sebaiknya Pak Harto mundur ketimbang jadi bulan-bulanan.

“Nanti seakan­akan dia menjadi penghalang bagi reformasi.” tuturnya.

Secara tak langsung Probo juga menyesalkan sikap Harmoko selaku ketua DPR maupun sebagai ketua umum DPP Golkar.

“Kalau memang betul dia orang yang cinta pada bangsa, ya mestinya diingatkanlah sebelum itu, kenapa sih kok terjadi seperti ini.” Probo menilai, Harmoko semestinya juga mengecek apakah permintaan turun itu kehendak rakyat.

“Ya kalau terus menerus Pak Harto diminta turun, disidangkan lalu diadili, ya sudahlah lebih baik berhenti saja.” katanya.

Sebenarnya, tutur Probo, dia pribadi sejak dulu sudah menyarankan agar Pak Harto tak usah menerima pencalonannya sebagai presiden lagi. Pihak keluarga, para anak-anaknya pun juga berpendapat demikian.

“Tapi kan memang dikehendaki oleh Golkar. Tapi kalau diminta dan tidak sanggup itu namanya tinggal glanggang colong playu, tidak bertanggungjawab.”

Ketika kepemimpinan Pak Harto, baru berlangsung dua bulan Pak Harto sudah disudutkan dengan berbagai krisis. Dalam Sidang Umum MPR terdahulu, Probo sebenarnya sudah mengingatkan agar masalah krisis itu dibicarakan dengan serius.

“Saya sudah mengingatkan kalau ini tidak diantisipasi, begitu nanti pembantu Presiden tersusun, akan terjadi gejolak. Dan benar saja.” kata Probo yang berpakaian biru tua dilapis safari kain tenun ikat itu menerima wartawan di ruang keluarga selama sekitar 15 menit.

Probo mengaku dia memang ikut menyarankan Tutut (panggilan akrab Siti Hardiyanti Rukmana) menjadi Mensos. Sambung Probo, agar bisa membantu dan mendampingi bapaknya dalam urusan kenegaraan.

“Saya yang nyuruh biar Pak Harto tidak sendirian. Tutut sendiri dari dulu juga nggak mau.” ujarnya.

Terhadap kepemimpinan Habibie, Probo hanya berharap agar terwujud sebuah pemerintahan yang bebas dari KKN sesuai harapan mahasiswa.

“Mudah-mudahan bisa lebih baik. Bisa menyusun pemerintah yang baik, tidak ada nepotisme, dan nanti krisis moneter bisa diatasi.”

Putra-putri Pak Harto kemarin sulit dihubungi. Kawasan yang ditinggali keluarga mantan Presiden Soeharto kemarin dijaga ketat. Kedua ujung jalan Tandjung tampak dijaga aparat berbaret merah.

“Maaf yang boleh masuk kawasan ini hanya keluarga.” kata salah seorang petugas yang berdiri di dekat pagar kawat berduri yang dipasang di ujung persimpangan jalan Tanjung dan Teuku Umar, Jakarta.

Rumah Bambang Trihatmodjo memang ada di Jl. Tanjung, bertolak ke belakang dengan kediaman orang tuanya, Jl. Cendana. Sedang rumah Tutut, ada di Jl. Yusuf Adiwinata yang memotong Jalan Tanjung dan berujung di Jl. Cendana, tak bisa dilalui umum.

Aparat baret merah juga tampak berjaga-jaga di kawasan Bappenas, dekat Taman Suropati. Beberapa panser berjaga-jaga di beberapa sudut kawasan itu.

Sumber : REPUBLIKA (22/05/1998)

____________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XX (1998), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 509-511.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.