PRINSIP MUSYAWARAH UNTUK MUFAKAT JANGAN JADI PENGHAMBAT

PRESIDEN SOEHARTO:

PRINSIP MUSYAWARAH UNTUK MUFAKAT JANGAN JADI PENGHAMBAT

Presiden Soeharto mengingatkan, prinsip musyawarah untuk mufakat tidak boleh dijadikan hambatan bagi pengambilan keputusan yang mutlak perlu, hanya karena ada segolongan kecil yang tidak setuju dengan mengorbankan golongan yang mewakili sebagian besar aspirasi masyarakat.

Hal tersebut, dikemukakan oleh Presiden, pada upacara penutupan penataran P4 tingkat nasional di Balai Sidang Senayan, Selasa pagi.

Menurut Kepala Negara, asas kekeluargaan yang dimiliki Pancasila adalah asas musyawarah untuk mufakat yang berarti bahwa setiap keputusan hendaknya sejauh mungkin dimusyawarahkan lebih dulu dengan semua pihak.

lsi dan pelaksanaan dari keputusan itu; sekalipun diambil dengah pemungutan suara, hendaknya juga memperhatikan aspirasi dari semua pihak yang ada dalam masyarakat.

Presiden sependapat, musyawarah lebih sesuai dengan cita kekeluargaan, karena kepentingan dan keinginan semua pihak diperhatikan. Melalui musyawarah, akan diperoleh hikmat kebijaksanaan, dapat diambil keputusan bagi kebaikan bersama, tanpa ada rasa kalah atau menang.

Mengenai penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), Presiden menganggap perlu agar masyarakat mengenal hak-hak dan kewajiban­kewajiban politiknya, memahami benar dasar negara dan tujuan nasional, mengerti strategi pembangunan nasional serta tahap-tahapnya.

Bangunan politik, ekonomi dan sosial harus benar-benar diwarnai oleh cita kekeluargaan yang merupakan ciri dan corak budaya bangsa lndonesia. Karena itu, ia mengingatkan kerangka Pancasila tidak memberi tempat bagi faham individualisme dan liberalisme maupun diktatorisme.

Cita kekeluargaan akan membimbing untuk lebih mementingkan kesejahteraan bersama daripada kesenangan pribadi, lebih memperhatikan kewajiban daripada menuntut hak, lebih mengutamakan memadu pendapat melalui musyawarah daripada mengadu suara untuk mencari menang.

"Cita kekeluargaan menuntun kita menumbuhkan semangat kerukunan dan keutuhan semangat persatuan dan kebersamaan, sikap tenggang rasa dan setiakawan, sikap tolong menolong dan gotong royong," kata Presiden.

Jangan Hembuskan Sikap Sinis

Dikatakannya, karena P4 itu bertolak dari kesadaran dalam jiwa sendiri, maka dalam pelaksanaannya jangan bertanya-tanya apakah orang lain telah melaksanakan P4 itu atau belum. Marilah kita mulai dari diri kita sendiri, ajak Presiden.

Ia mengatakan, keadaan masyarakat memang masih jauh dari wujud yang dicita­citakan yaitu adil makmur berdasarkan Pancasila.

"Kita harus melatih diri mengendalikan diri dan harus lebih banyak lagi mengamalkan Pancasila dalam rangka mewujudkan masyarakat yang kita cita-citakan itu," ujarnya.

"Kita tidak perlu berkecil hati melihat kekurangan kita, lebih-lebih lagi, jangan kita lalu menghembus-hembuskan sikap sinis kemana-mana karena kekurangan itu," tambahnya.

Diingatkan pula, denganmengikuti penataran, belum merupakan jaminan bahwa seseorang telah menjadi Pancasilawan sejati. Dengan penataran memang telah berarti diperkaya pengetahuan akan Pancasila, UUD 45 dan GBHN.

"Tetapi kesetiaan kepada Pancasila, ketaatan kita pada UUD 45 dan ketepatan kita dalam melaksanakan GBHN tidak bisa diukur hanya dengan mengikuti penataran saja, melainkan harus diukur dengan perbuatan dan perilaku kita," demikian Presiden Soeharto.

Penataran Tingkat Nasional

Sementara itu, Pembina Penataran Tingkat Nasional, Mendagri Amirmachmud melaporkan, hingga 19 Februari kemarin, jumlah pegawai negeri yang sudah mengikuti penataran mencapai 171.477 orang. Dari jumlah itu, tingkat nasional ada 4.188 orang, instansi pusat tipe A berjumlah 27.771 orang, tingkat propinsi tipe A sebanyak 38.319 orang dan tingkat kabupaten/kotamadya tipe A 101.201 orang.

Ada juga pendengar penataran sejumlah 4.682 orang, terdiri paling banyak ibu­ibu anggota Dharma Wanita, juga penataran bagi para pemuka agama sebanyak 485 orang, wartawan 212 orang dan pemuda 290 orang.

Dewasa ini, di daerah sedang giat dilakukan penataran P4 tipe B dan dalam waktu dekat akan dilakukan penataran tipe C. Dilaporkan pula bahwa dalam menyebarluaskan P4 ke segenap lapisan masyarakat, telah dilakukan penataran Manggala P7 (Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan P4) angkatan ke-I sebanyak 129 orang.

Upacara penutupan penataran tingkat nasional itu dihadiri pula oleh Wakil Presiden Adam Malik dan Nyonya, menteri-menteri Kabinet Pembangunan Ill dan Ketua DPR Daryatmo serta beberapa wakil Ketua DPR RI.

Pada kesempatan itu, Presiden Soeharto telah menyematkan tanda peserta BP7 diwakili oleh Drs. H. Subroto Brotodirjo SH dan Drs. Hatta Albanik, serta menyerahkan tanda selesai mengikuti penataran tingkat nasional angkatan ke-19 kepada Dr.R. Suprono dan Ny. Ita Gambiro SH. (DTS)

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (20/02/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 543-545.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.