PRIHATIN & HIDUP SEDERHANA DI TAHUN 1976

PRIHATIN & HIDUP SEDERHANA DI TAHUN 1976 [1]

 

Jakarta, Angkatan Bersenjata

Presiden Soeharto menilai 1975 sebagai tahun prihatin dan meminta keprihatinan dan kewaspadaan ditingkatkan tahun 1976.Pidato tutup tahun Presiden dimuat di lain bagian harian ini.

Kepala Negara mengingatkan betapa mutlaknya berhemat dalam pemakaian uang negara, hingga benar2 digunakan untuk kepentingan yang mendesak dan bermanfaat. Dalam kehidupan pribadi pun penghematan diperlukan, karena hidup mewah terang tidak akan terpikul oleh bangsa yang sedang membangun, yang hanya memiliki kemampuan yang  serba terbatas, sebaliknya dapat mengakibatkan kegagalan pembangunan itu sendiri.

Ini adalah peringatan yang ke sekian kalinya. Bahwa Kepala Negara perlu untuk menekankannya lagi dalam pidato tutup tahunnya, menunjukkan bahwa praktek hidup sederhana itu belum lagi sebagai yang diinginkan.

Disamping itu hidup sederhana adalah ethos yang perlu dimiliki oleh manusia pembangunan. Membina manusia pembangunan ini termasuk salah satu bagian dari Pelita kita.

Hendaknya golongan kecil yang berpengaruh yang dituju oleh Presiden dengan peringatannya itu wajib mencamkannya dan mengamalkannya. Dengan demikian mereka memberikan teladan yang berguna disamping menimbulkan kepastian atau timbang rasa terhadap saudara2nya yang masih miskin, yang selanjutnya dapat menimbulkan kerukunan hidup bermasyarakat.

Hidup sederhana diajarkan oleh semua agama dan dapat diteladani dariperi hidup nabi2 wali2,satu2 dan orang bijaksana. Justru kesederhanaan itu pula hikmah yang dipancarkan perayaan Natal minggu lalu.

Bahwa kesederhanaan merupakan syarat yang perlu dimiliki oleh bangsa2 yang kini merupakan negara besar, atau di saksikan dalam peri hidup bangsa2 kini yang beranjak besar.

Di masa lalu bangsa kita pernah mengalami kejayaannya dimana kesederhanaanhidup itu menonjol. Bahkan kesederhanaan itu pula yang berperanan besar di masa pergerakan kemerdekaan, dan di masa revolusi fisik, yang merupakan lem pemersatu yang membuat bangsakita mampu menghadapi pemenang Perang Dunia II yang ingin mengembalikan penjajahan ke negeri kita.

Penyakit hidup mewah itu sebenarnya adalah tiruan tanpa perhitungan belaka dari gaya hidup negara besar yang sukses setelah ratusan tahun membangun dengan hidup sederhana, ulet, tidak kenai menyerah dan setelah melewati pasang dan surut nasionalnya.

Ambillah sebagai umpama Amerika Serikat yangjadi kiblat bagi  sementara orang kita. Kalau mau mengambil contoh yang tepat dan benar, maka yang harus diteladani bukannya gaya hidup orang Amerika sekarang di puncak kejayaannya dalam dua ratus tahun sejarah nasionalnya, yang akan dirayakan tahun 1976 ini, tapi Amerika Serikat waktu seumur dengan negara kita, 30 tahun.

Bagaimanakah wajah Amerika Serikat di umur 30 tahun, yaitu di awal tahun 1800-an? Film2 cowboy, buku2 sejarah, novel2 sejarah memberikan gambaran yang mengasyikkan. Waktu itu Napoleon Bonaparte, Kaisar Prancis yang bangkrut karena peperangannya yang tidak habis2nya, mengobrali daerah jajahannya sebelah barat sungai Mississippi,yang luasnya separoh dari AS sekarang, dua juta kilometer persegi lebih, dengan harga $ 15 juta. Dalam sejarah AS ini disebut “Louisiana Purchase”. Daerah itu masih hutan belantara dan tidak masuk di akal Napoleon yang cerdik itu bisa dibangun. Karenanya ia merasa untung bisa menjualnya.

Dalam kamus orang Amerika memang tidak ada kata mustahil, dan dengan frontier spirit-nya yang terkenal, lewat kerja keras puluhan bahkan ratusan tahun, hutan belantara dirobahjadi daerah pertanian yang subur, daerah industri yang makmur, kota2 yang gemerlapan. Negara bagian California kemudian dijuluki sorga AS.

Semangat transmigrasi inilah yang hams di-kobar2kan dalam dada bangsa kita di zaman pembangunan ini, untuk merombak daerah hutan di luar Jawa menjadi “California Indonesia”. Mampukah kita menghadapi tantangan zaman ini? Inilah yang harus sama2 direnungkan diawal tahun ini, tahun prihatin sebagai dikatakan Presiden itu. (DTS)

Sumber: ANGKATAN BERSENJATA (02/01/1976)

 

 

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku III (1972-1975), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 5-6.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.