PRESIDEN: WANITA TIDAK BOLEH KETINGGALAN DALAM PEMBANGUNAN

PRESIDEN: WANITA TIDAK BOLEH KETINGGALAN DALAM PEMBANGUNAN

Balai Pendidikan Kewanitaan "Ria Pembangunan" Diresmikan

Pembangunan hanya akan berhasil jika seluruh lapisan dan kalangan masyarakat ikut serta secara aktif dengan penuh kesadaran. Karena itu, sangat jelas bahwa dalam gerakan pembangunan besar-besaran itu kaum wanita tidak boleh ketinggalan.

Demikian ditegaskan Presiden Soeharto, hari Rabu, ketika meresmikan pemakaian gedung Balai Pendidikan Kewanitaan "Ria Pembangunan" di Kampung Kramat Jati, Pasar Rebo (Jakarta Timur). Turut menyaksikan Wakil Presiden serta Ny. Nelly Adam Malik, para menteri dan isteri para pejabat tinggi yang tergabung dalam organisasi "Ria Pembangunan".

Menurut Presiden Soeharto, potensi kaum wanita yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan itu sangat besar, karena paling tidak jumlah kaum wanita setengah dari 47 juta penduduk Indonesia dewasa ini. Jika dapat disatu padukan dan dibangkitkan kesadaran serta kemampuannya, maka puluhan juta kaum wanita ini pasti akan merupakan kekuatan yang dahsyat.

"Untuk memungkinkan segenap kaum wanita turut serta dalam gerakan pembangunan secara optimal, maka pendidikannya, pengetahuannya dan keterampilannya perlu ditingkatkan. Terutama bagi kaum wanita di pedesaaan yang belum berkesempatan mendapatkan pendidikan yang minimal sekalipun".

"Karena itu," kata Presiden Soeharto selanjutnya, "memberi keterampilan dan memberi bekal keahlian kepada kaum wanita sungguh merupakan jawaban yang paling tepat.

"Jika kaum wanita memperoleh pendidikan yang memadai, memperoleh keterampilan atau keahlian yang diperlukan, maka bukan saja mereka akan mernperoleh penghasilan yang berguna bagi dirinya sendiri atau menambah penghasilan keluarga, akan tetapi mereka juga akan dapat melaksanakan tugasnya yang mulia sebagai ibu rumah tangga yang baik, ujar Presiden Soeharto.”

Ia menambahkan, adalah sulit bagi kaum wanita untuk rnendidik putra-putrinya tanpa mempunyai pengetahuan yang memadai. Sedang pendidikan untuk putra-putri tersebut merupakan salah satu tugas penting kaum wanita.

"Sadar akan pentingnya peranan kaum wanita dalam pembangunan, maka dalam Repelita III ini kita buka lebar-lebar kesempatan berpartisipasi bagi kaum wanita dalam pembangunan, yang merupakan satu di antara delapan jalur pemerataan. Karena itu pula dalam pembangunan itu perhatian kita kepada pendidikan dalam arti yang luas serta perluasan kesempatan pendidikan bagi kaum wanita terus-menerus mendapat perhatian yang besar".

Kepala Negara menekankan, daJam hal ini Pemerintah sendiri terus berusaha keras dalam memajukan pendidikan yang terbukti dengan meningkatnya anggaran belanja negara dibidang pendidikan dari tahun ke tahun.

Dalam tahun ketiga Repelita III yang akan dimasuki bulan depan, anggaran pembangunan bidang pendidikan adalah nomor tiga besarnya setelah anggaran pembangunan bidang pertanian dan bidang perhubungan.

Pipit dan Merpati

Peresmian gedung Balai Pendidikan Kewanitaan itu ditandai dengan penekanan tomboll oleh Presiden Soeharto sebagai pembukaan pintu kurungan burung pipit dan merpati. Begitu pintu terbuka, ratusan burung pipit dan merpati beterbangan ke alam bebas. Kemudian Ny. Tien Soeharto menarik tali selubung papan nama yang disusul dengan penandatanganan batu prasasti oleh Presiden Soeharto. Turut memberikan sambutan Menteri P dan K Daoed Joesoef dan Gubernur DKI Tjokropranolo.

Gagasan pendidikan kewanitaan ini tercetus pada tahun 1975. Atas petunjuk Ketua Umum "Ria Pembangunan" dan wakilnya Ny. Tien Soeharto serta Ny. Nelly Adam Malik, maka 6 Mei 1976 diadakan malam dana di Bogor yang berhasil mengumpulkan Rp 70 juta. Kemudian 26 April 1978 lahirlah Yayasan Karya Bakti ”Ria Pembangunan” untuk melaksanakan gagasan tersebut.

Balai pendidikan Kewanitaan "Ria Pembangunan" ini dibangun dengan biaya Rp 400 juta di atas tanah seluas 1,5 hektar. Luas bangunan seluruhnya 2.718 meter persegi terdiri dari kantor, tempat penjualan, rumah staf pengajar, asrama, bengkel kegiatan, dapur utama, dapur asrama dan rumah karyawan lengkap dengan fasilitas menara air, sumur dan instalasi listrik.

Kegiatan pertama di balai pendidikan kewanitaan ini telah dididik 40 siswi dan 40 anak-anak dari Kelurahan Rambutan dan Dukuh, Kecamatan Pasar Reba.

Lama pendidikan tiga bulan berupa pendidikan kegiatan konveksi dan masak-memasak. Pilihan ini adalah agar anak-anak didik segera mendapat ketrampilan guna dijadikan alat dalam mempertahankan keberadaannya sebagai manusia yang berbudaya.

Setelah pendidikan angkatan khusus ini tamat 2 Mei 1981 nanti, maka segera dibuka pendidikan angkatan pertama dengan murid 80 orang terutama untuk gadis umur 16- 25 tahun putus sekolah SLTP/SLTA dari keluarga yang berpenghasilan rendah. (DTS)

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (12/03/1981)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 594-596.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.