PRESIDEN : WALAU INFLASI RENDAH, TETAP SEDIAKAN BARANG

PRESIDEN : WALAU INFLASI RENDAH, TETAP SEDIAKAN BARANG[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto memerintahkan para pejabat di bidang ekonomi untuk tetap menyediakan barang kebutuhan rakyat secukupnya, walaupun inflasi bulan Januari 1997 hanya 1,03 persen.

“Sekalipun inflasi terkendali, Presiden minta para pejabat menyediakan suplai barang yang cukup.” kata Menpen Harmoko kepada pers di Bina Graha, ketika menjelaskan hasil Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekku, Wasbang dan Prodis yang dipimpin langsung Kepala Negara.

Harmoko menyebutkan inflasi bulan Januari’97 sebesar 1,03 persen lebih rendah dibanding periode yang sama tahun’96 sebesar 2,16 persen. Inflasi selama tahun anggaran 1996-97 adalah 4,24 persen dibanding periode yang sama tahun anggaran’95/96 sebesar 7,76 persen.

Inflasi 1,03 persen itu disebabkan kenaikan pada kelompok makanan 1,85 persen, perumahan 0,25 persen, serta sandang 0,58 persen. Kenaikan harga pada kelompok makanan itu antara lain disebabkan kenaikan harga ikan segar 3,3 persen, telur dan susu 4,7 persen, daging 3,12 persen, serta sayur 2,73 persen.

Ketika menjelaskan neraca perdagangan, Harmoko mengatakan ekspor pada November’96 adalah 4,409 miliar dolar AS yang terdiri atas migas 1,062 miliar dolar AS serta komoditi nonmigas 3,346 miliar dolar AS.

Sementara itu, impor pada bulan yang sama mencapai 3,644 miliar dolar AS yang terdiri atas migas 471,5 juta dolar AS dan nonmigas 3,173 miliar dolar AS. Karena itu, untuk bulan November’96, Indonesia menikmati surplus 764 juta dolar AS.

Menurut Harmoko, jika ditinjau selama periode Januari-November’96 itu, ekspor mencapai 45,085 miliar dolar yang terdiri atas migas 10,455 miliar dolar AS dan komoditi nonmigas 34,629 miliar dolar AS.

Sementara itu, impor pada periode yang sama mencapai 39,094 miliar dolar AS yang terdiri atas migas 3,2 miliar dolar AS dan nonmigas 35,8 miliar dolar AS. Dengan demikian terdapat surplus 5,99 miliar dolar.

Ketika mengomentari masalah neraca perdagangan itu, Kepala Negara memerintahkan Mentan Syarifuddin Baharsyah untuk membantu pengusaha-pengusaha besar yang ingin menanamkan modal pada perkebunan besar kacang kedelai.

Menurut Presiden, pembukaan perkebunan besar kacang kedelai itu perlu dilakukan untuk menekan angka impor yang tiap tahun sekitar 600.000 ton.

Sumber : ANTARA (05/02/1997)

__________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 242.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.