PRESIDEN : TNI AL HARUS MAMPU MENJAMIN KEPENTINGAN NASIONAL

PRESIDEN : TNI AL HARUS MAMPU MENJAMIN KEPENTINGAN NASIONAL[1]

 

Surabaya, Kompas

Presiden Soeharto menegaskan, TNI Angkatan Laut (AL) harus mampu menjamin kepentingan nasional di laut, dalam rangka mengamankan pelaksanaan pembangunan nasional, dan membina potensi kekuatan pertahanan keamanan negara di bidang maritim. Selain itu, TNI AL harus mampu melindungi bangsa dan negara terhadap setiap bentuk ancaman yang datang melalui jalur laut.

Penegasan Kepala Negara itu disampaikan saat memperingati Hari Armada RI Ke-51 Tahun 1996, dan peresmian Monumen Jalesveva Jayamahe, di Dermaga Ujung, Surabaya, Kamis (5/12). Acara itu antara lain dihadiri Wapres Try Sutrisno,  Menko Polkam Soesilo Soedarman, Mensesneg Moerdiono, Menag Tarmizi Taher, Menparpostel Joop Ave, Pangab Jenderal TNI Feisal Tanjung, KSAL Laksamana Madya Arief Kushariadi, Kapolri Letnan Jenderal (Pol) Dibyo Widodo, KSAU Marsekal Madya TNI Sutria Tubagus, serta Danjen Kopassus Mayjen TNI Prabowo Soebianto.

Pada kesempatan itu, Presiden menyerahkan tanda kehormatan Bintang Jalasena Nararia kepada Mayor (Mar) Noer Khamid, Lettu (Laut) Idraptono, Senna Wisno dan Kopka (Mar) Paul Monika.

Hari Armada ke-51 ini dihadiri para mantan KSAL, antara lain Soedomo, Soebiyakto, M Romli, M Arifin, Kasenda, dan Waluyo Soegito.

Perlu AL Kuat

Presiden mengatakan, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan gugusan pulau terbesar di dunia. Karena itu, bangsa Indonesia yang berjumlah besar, mendiami ribuan pulau besar dan kecil, yang dihubungkan oleh laut dan selat.

“Karena itu, kita memerlukan angkatan laut yang kuat. Hanya dengan angkatan laut yang kuatlah bangsa kita akan menjadi satu kesatuan politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan. Hanya dengan angkatan laut yang kuat, kita akan dapat dengan tenang dan mantap melanjutkan pembangunan.” kata Kepala Negara.

Presiden mengingatkan, tugas utama TNI AL adalah menjamin terwujudnya persatuan dan kesatuan Nusantara. Hal itu berarti TNI AL harus mampu menjamin kepentingan nasional di Iaut dalam rangka mengamankan pelaksanaan pembangunan nasional, serta membina potensi kekuatan pertahanan keamanan negara di bidang maritim. Selain itu, sebagai bagian ABRI, TNI-AL juga dituntut melaksanakan fungsi dan tugas sosial politik ABRI.

Ditegaskan, sebagai penegak kedaulatan dan hukum di laut, TNI AL harus mampu melindungi bangsa dan negara terhadap setiap bentuk ancaman yang datang melalui jalur laut, serta mengatasi setiap gangguan keamanan di laut dalam rangka mewujudkan stabilitas nasional yang mantap dan dinamis.

Untuk mencapai keinginan itu, lanjut Kepala Negara, TNI AL memerlukan kesatuan kuat dan modern.

“Karena itulah TNI AL kita bangun menjadi angkatan Iaut yang profesional, efektif, efisien, dan modern agar menjadi kekuatan penangkal yang andal.”  tegas Kepala Negara. Walau begitu, kata Presiden, pembangunan itu merupakan bagian nasional yang harus disesuaikan dengan kemampuan negara, prioritas, dan dinamika perkembangan zaman.

Berhasil

Kepala Negara mengakui pula keberhasilan TNI AL dalam membangun dan memperkuat diri. Hal itu di antaranya tercermin dalam penambahan sejumlah alat utama dengan teknologi tinggi, diimbangi dengan sumber daya manusia yang berkualitas, di segi mental kejuangan dan profesionalisme. Seluruh kemampuan itu, kata Presiden, akan menambah kemampuan TNI-AL dalam melindungi dan mengamankan seluruh perairan nasional.

Walau begitu, Kepala Negara mengingatkan, pentingnya TNI AL tetap mengutamakan unsur manusia dalam membentuk Prajurit Matra Laut yang memegang teguh Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, meyakini Trisula TNI AL sebagai hal terbaik, yaitu disiplin, hirarki, dan kehormatan prajurit, serta mengikuti perkembangan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi kelautan.

“Penerapan teknologi kelautan bukan saja ditentukan oleh tinggi atau rendahnya teknologi yang diterapkan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana teknologi kelautan dapat menjawab permasalahan pembangunan. Penerapan teknologi dalam memanfaatkan kekayaan laut harus dapat ikut memeratakan pembangunan yang menunjang peningkatan pertumbuhan serta dapat membuat rakyat lebih sejahtera.” pesan Kepala Negara.

Namun, sebagai kekuatan pertahanan keamanan dan kekuatan sosial politik ABRI, menurut Presiden, TNI AL akan berhasil baik, bila seluruh Prajurit Matra Laut tetap mencerminkan diri sebagai bagian ABRI. Untuk itu, Kepala Negara berpesan, agar TNI AL selalu memperdalam kemanunggalan dengan rakyat, karena kemanunggalan ABRI dengan rakyat merupakan kekuatan bangsa paling andal dalam suka duka perjalanan bangsa Indonesia.

“Para Perwira, Bintara, dan Tamtama..” kata Kepala Negara.

“Peringatan Hari Armada RI kali ini ditandai dengan peresmian Monumen Jalesveva Jaya mahe. Jika kita menatap patung yang megah ini, maka yang tampil sosok Prajurit Matra laut yang siap berjuang mengemban tugas dalam rangka memberikan yang terbaik kepada bangsa dan negara tercinta.” lanjut Presiden.

“Tahun 1996 adalah Tahun Bahari dan Dirgantara. Monumen ini hendaknya ikut mendorong bangkitnya jiwa dan semangat bahari bangsa kita, menjadi lambang tekad bulat setiap prajurit TNI-AL melanjutkan perjuangan bangsanya dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional melalui pembangunan nasional.” tegas Kepala Negara.

Monumen

Patung sebagai bagian dari monumen yang baru diresmikan, menggambarkan sosok manusia berpakaian seragam TNI AL berpangkat kolonel. Figur ini tampil dengan dada membusung, tangan kiri memegang pedang komando sementara tangan kanan (bukan tangan kiri seperti diberitakan Kompas, 5/12), berkacak pinggang, mengesankan sikap percaya diri seorang prajurit.

Empat kapal melatarbelakangi pasukan upacara yakni KRI Yos Sudarso, KRI Teluk Mandar, KRI Oswala Siahaan dan KRI Malahayati.

Di belakangnya legojangkar di laut KRI Sutanto, KRI Teluk Cendrawasih, KRI Ajak dan Barakuda (keduanya buatan PT PAL), KRI Nala, KRI Martha Christiana, KRI Teluk Ende, KRI Ciptadi dan Kapal Selam Nanggala. Dari Satuan Udara Maritim TNI-AL menerbangkan pesawat jenis CASA, Nomad dan Helikopter.

Selain defile pasukan upacara, ditampilkan defile Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut/Tentara Keamanan Laut (TKR) Laut cikal bakal TNI-AL, Operasi Nyamukan (operasi pertama TNI-AL),EkSpedisi Tegal ke Kalimantan Barat, Operasi Trikora tahun 1961 dengan kapal selam Candrasa.

Sumber : Kompas (05/12/1996)

___________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 578-581.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.