PRESIDEN: TINGKATKAN EKSPOR HABIS-HABISAN 

PRESIDEN: TINGKATKAN EKSPOR HABIS-HABISAN [1]

 

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto menegaskan, peningkatan  ekspor harus menjadi perjuangan habis-habisan sehingga semua departemen, instansi dan lembaga yang bersangkutan harus mendukung sepenuhnya dan dengan rasa tanggung jawab yang sebesar­ besarnya. Dukungan itu pun, harus langsung diberikan, bukan menunggu terlebih dulu. “Marilah kita perkuat semangat untuk mencari dan memanfaatkan peluang pasar yang makin luas. Marilah kita teguhkan tekad untuk meningkatkan daya saing produk­ produk kita. Marilah kita perluas jalur-jalur pemasaran di dunia. Marilah kita perkukuh rasa percaya diri dalam menghadapi persaingan dunia,” ajak Presiden Soeharto usai menyerahkan penghargaan Primaniyarta 1994 kepada 59 eksportir Indonesia di Istana Negara, Kamis (24/11).

Presiden mengingatkan bahwa Indonesia bukan satu-satunya negara yang melaksanakan dan merasakan manfaat perdagangan dan investasi yang makin terbuka. Bangsa-bangsa lain juga memilih jalan yang sama. ,Bangsa lain pun bersedia berjuang dalam kancah persaingan yang lebih ketat. Mereka juga menikmati hasil-hasilnya berupa peningkatan produksi, meluasnya kesempatan kerja, bertambahnya kemakmuran dan kesejahteraan,” tutur Presiden.

ltulah sebabnya, sambungnya, banyak bangsa memilih mekanisme pasar, perdagangan terbuka dan kebebasan penanaman modal sebagai jalan yang paling baik untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masing-masing. Semuanya itu jelas membuat persaingan bertambah ketat.

Agar Berbagi Pengalaman

Ketatnya persaingan itu, menurut Presiden, sudah mulai dirasakan Indonesia. Pada tahun 1993, ekspor nonmigas hanya meningkat dengan 16,2 persen dari tahun sebelumnya. Pangsa berbagai produk mengalarni penurunan.

“Tapi bertambah kerasnya persaingan itu tidak boleh membuat kita berkecil hati. Kita harus menyambut persaingan tadi dengan hati yang terbuka dan semangat juang yang tinggi. Bertambah ketatnya persaingan tidak mungkin kita hindari. Tidak adajalan lain, kita harus menghadapinya. Dunia memang telah memasuki babak baru. Babak

perdagangan bebas,” demikian Kepala Negara. Untuk itu, katanya, satu-satunya jalan adalah terus meningkatkan ekspor nonmigas. Pengalaman telah memberi bekal berharga sehingga bangsa Indonesia tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

“Semua hambatan marilah kita teliti bersama secara jujur dari benar, untuk kemudian kita singkirkan. Hanya dengan jalan ini kita dapat mencapai harapan,” ujar Presiden.

Presiden melihat tidak sedikit pengusaha Indonesia- yang besar, menengah maupun kecil- telah berhasil menembus pasar negeri lain. Dari mereka inilah, yang lain dapat belajar.”Saya ajak Saudara-saudara yang berhasil ini untuk memberi informasi dari pengalaman kepada rekan-rekannya yang belum berhasil. Yang tidak kalah penting adalah agar para eksportir kita yang telah mempunyai nama di luar negeri memberi informasi kepada rekan-rekannya di sana mengenai kemampuan industri kita, yang memang makin banyak dan makin tinggi mutu barang yang kita hasilkan,”demikian harapan Presiden.

Jangan Buang Waktu

Presiden juga menjelaskan bahwa kawasan Asia Pasifik memiliki potensi besar untuk maju lebih pesat lagi. ltulah sebabnya, kerja sama ekonomi kawasan ini mendapat perhatian sebesar-besarnya dari semua negara di kawasan ini.

Semua percaya, katanya, bahwa dengan membangun forum kerja sama maka akan dipacu hubungan perdagangan yang terbuka dan ketja sama ekonomi, yang akan menghasilkan pertumbuhan dan kemakmuran di kawasan ini dan juga di seluruh dunia. Itulah, tutur Presiden, yang melahirkan Deklarasi Bogor sepuluh hari lalu. Deklarasi itu, ia menambahkan, menyatakan tekad bersama anggota APEC untuk memperkuat sistem perdagangan multilateral yang terbuka, meningkatkan pembebasan perdagangan dan investasi di Asia Pasifik, dan meningkatkan kerja sama pembangunan Asia Pasifik menuju ke tujuan jangka panjang perdagangan dan investasi yang terbuka dan bebas di kawasan ini.

“Kita tidak bisa membuang-buan g waktu dalam melaksanakan tekad Bogor itu, demi kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran sebesar-besarnya bagi bangsa kita,” demikian Kepala Negara.

Penerima Penghargaan

Mendag SB Joedono dalam laporannya menjelaskan, penghargaan Primaniyarta ini diberikan kepada para eksportir yang dinilai mempunyai prestasi terbaik dalam meningkatkan ekspor nonmigas selama periode tahun 1989-1993.

Penghargaan Primaniyarta diberikan kepada 16 pihak untuk tingkat nasional dan 43 pihak untuk tingkat propinsi. Mereka dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok eksportir produsen dan kelompok eksportir non-produsen. Mereka dibagi lagi ke dalam empat kelompok, yaitu kelompok eksportir produsen kecil, menengah, menengah-besar dan besar.

Untuk tingkat nasional dari kelompok produsen kecil adalah PT Banua Lima Sejurus (Kalsel), PT Sumber Kalimantan Abadi (Kaltim), PT Oesaha Sandang Batoenoenggal (Jabar) dan PT Chubb Lipa Indonesia (DKI Jaya).  Produsen Menengah: PT Eveready Battery Co Ltd (DKI Jaya), PT Roda Vivatex (DKI Jaya), PT Busana Perkasa Garment (DKI Jaya) dan PT Kanigara Gelas Industrial (Jateng). Produsen menengah-besar: PT Musim Mas (Sumut), PT Ivo Mas Tunggal (Sumut), PT Gunung Lintong (Sumut) dan PT Indomachine (DKI Jaya).

Produsen besar: PT Freeport Indonesia Inc (DKI Jaya). Ada juga yang dimasukkan ke dalam kelompok non-produsen kecil, yaitu PT Satguru Dewa (DKI Jaya), PT Candi Mas Citra (DKI Jaya), non-produsen menengah-besar PT Astra Export Coy (DKI Jaya).

Di tingkat propinsi, yang menerima adalah PT Semen Andalas (DIAceh), PT Putri Anemon Sakti (DIAceh), PT Riza Mitra (Sumut), PT Biola Jaya (Sumut), PT Semen Padang (Sumbar), PT Natraco Padang (Sumbar), PT Panca Eka Bina Plywood Industry (Riau), PT Budi Daya Perkasa (Riau), PT Tanjung Johor Wood Ind. (Jambi), PT Sumber Laut Utama (Jambi), PT Nanwa Inti Indonesia Co (Sumsel), PT Prasida Aneka Niaga (Sumsel), PT Perkebunan XXIII (Bengkulu), CV Bengkulu Jaya (Bengkulu), CV Bumi Waras (Lampung), PT Elyana & Co (Lampung), PT Great Giant Pineapple (DKI Jaya), PT Hasil Karsa Perdana (DKI Jaya), PT Maknawi Jaya Kencana (Jabar), PT Dharma Niaga Cab. Bandung (Jabar), PT Daya Manunggal (Jateng), CV Santosa (Jateng), PT Budi Makmur Jayamumi (DIYogyakarta), CV Bener Setyo (DIYogyakarta), PT Aneka Regalindo (Jatim), PT Dharma Niaga Cab. Surabaya (Jatim), PT Kumia Kapuas Plywood (Kalbar), PT Sehati Barito (Kalteng), PTWana Rimba Kencana (Kaltim), PT Balintara Central Minatama (Kaltim), PT Tunggal Pamenang (Kalsel), PT Alfa Indo, Karya Kartika (Kalsel), PT United Coconut Tina (Sulut), PT Sari Cakalang (Sulut), PT Katingan Timber Company (Sulsel), PT Megah Putra Sejahtera (Sulsel), PT Dharma Samudra Fishing Industries (Sultra), PT DianatinaAyu (Bali), PT Pacific Express (Bali), CV Nusa Tenggara Trading Co Ltd (NTT), PT Mangole Timber Producers (Maluku), PT Coklat Ransiki (Irja) dan PT Mina Pura Maya (Irja).

Tuan Rumah IDB

Sementara itu, Menkeu Mari ‘e Muhammad usai melapor kepada Presiden di Istana Merdeka menjelaskan, SidangTahunan XIX EDB (Bank Pembangunan Islam) di Jeddah baru-baru ini telah memilih Indonesia menjadi tuan rumah Sidang Tahunan XXI DB 1995, yang kemungkinan diselenggarakan pada November. Menkeu Indo­nesia juga dipilih untuk kedua kalinya sebagai Ketua Dewan Gubernur IDB. IDB kini beranggota 48 negara dengan masuknya Turkmenistan.

Menurut studi sementara, katanya, beberapa negara anggota IDB, terutama yang berada di Afrika, akan mengalami kesulitan dalam jangka pendek dengan adanya WTO nanti. “Tapi diharapkan dalam jangka panjang, mereka dapat mengatasi masalah ini dengan syarat mereka harus dapat meningkatkan daya saing,” katanya.

Untuk ini, mereka harus menyelesaikan “PR”masing masing, yaitu reformasi ekonomi atau penyesuaian penyesuaian struktural seperti yang dilaksanakan Indonesia dengan debirokratisasi dan deregulasinya.

Dalam sidang ini, IDB juga membentuk perusahaan yang akan memberikan jaminan untuk ekspor dan investasi. Perusahaan ini akan efektif bekerja 1 Juli 1995. Dari Jeddah, Menkeu mengunjungi Singapura untuk bertemu Menkeu Singapura. Dalam pembicaraan mereka disepekati bahwa para Menkeu ASEAN perlu lebih sering bertemu untuk berdialog menghadapi pelaksanaan perjanjian Putaran Uruguay itu.

Sumber: KOMPAS ( 25/11/1994)

___________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVI (1994), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 506-509.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.