PRESIDEN : TIDAK MERATANYA KESEMPATAN BERUSAHA, SALAH SATU SUMBER ANCAMAN

PRESIDEN : TIDAK MERATANYA KESEMPATAN BERUSAHA, SALAH SATU SUMBER ANCAMAN[1]

 

Jakarta, Suara Pembaruan

Presiden Soeharto mengatakan, membangun koperasi yang maju, kuat dan mandiri tidak terlepas dari gagasan tentang persatuan dan kesatuan. Peranan dan kesatuan bukanlah semata-mata persoalan politik, sosial dan budaya, tetapi juga persoalan dibidang ekonomi. Kita tidak akan dapat mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa, jika kehidupan ekonomi kita memiliki kepincangan. Hal itu dikatakan Kepala Negara ketika membuka Musyawarah Nasional Koperasi di Istana Negara, hari Jumat (11/7).

Dikatakan, kepincangan-kepincangan ekonomi yang disebabkan oleh tidak meratanya kesempatan berusaha dan kesenjangan pendapatan, adalah salah satu sumber ancaman bagi persatuan dan kesatuan. Gerakan Koperasi yang merupakan gerakan ekonomi bersifat kerakyatan, akan mendorong bertambah kuatnya sektor­sektor perekonomian rakyat, terutama di pedesaan.

Ini merupakan salah satu cara untuk mengatasi kesenjangan pendapatan di tengah­tengah masyarakat. Pemerataan pendapatan masyarakat akan memberi dukungan yang kuat bagi makin kukuhnya persatuan dan kesatuan bangsa.

Karena itu, Gerakan Koperasi perlu mendapat dukungan semua pihak, bukan semata-mata dari pemerintah. Dukungan itu harus terus-menerus ditingkatkan dari tahun ke tahun. Masyarakat perlu dibangkitkan kesadarannya untuk berkoperasi. Usaha yang terus-menerus dan tidak mengenal lelah ini, suatu ketika pasti akan membuahkan hasil. Koperasi akan benar-benar menjadi salah satu penyangga utama kekuatan ekonomi nasional yang sejajar dengan badan usaha milik negara dankalangan dunia usaha swasta.

Gerakan Rakyat

Kita menyadari bahwa untuk membangun koperasi diperlukan kesungguhan, tekad dan kerja keras. Lebih-lebih dalam perkembangan kehidupan perekonomian yang penuh persaingan dewasa ini. Sejak semula, para pendiri negara kita telah menggariskan bahwa koperasi merupakan salah satu pilar utama kehidupan ekonomi bangsa dan negara kita, sejajar dengan perusahaan negara dan perusahaan swasta.

Melalui Koperasi, kita harapkan akan tumbuh dan tersalur kesadaran dan kemampuan ekonomi rakyat. Dengan demikian kita berharap pertumbuhan dan pemerataan ekonomi akan berjalan seimbang dan saling mendukung.

“Untuk itu kita berusaha agar koperasi tumbuh dan berkembang sebagai gerakan rakyat. Koperasi adalah gerakan dari rakyat. Koperasi adalah gerakan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.” ujar Kepala Negara.

Dalam melaksanakan pembangunan, kita memang perlu belajar dan bersabar. Tidak akan banyak kemajuan yang dapat kita raih jika kita tidak berupaya untuk terus memeras pikiran guna mendapatkan cara-cara yang lebih baik dan kerja keras. Kita harus mau belajar, bukan saja dari keberhasilan-keberhasilan, tetapi juga dari kegagalan-kegagalan yang kita buat.

Kesejahteraan Bersama

Dalam bagian lain, Presiden Soeharto mengatakan, dalam memasuki usia Gerakan Koperasi yang ke-50 ini, telah banyak kemajuan yang dicapai dalam dunia perkoperasian. Rakyat kita makin menyadari betapa pentingnya koperasi sebagai kegiatan bersama di bidang ekonomi untuk mencapai kesejahteraan bersama. Pertumbuhan koperasi secara bertahap telah menyebar ke seluruh pelosok Tanah Air.

Meskipun banyak hasil yang telah dicapai, tetapi masih banyak kelemahan­kelemahan yang kita hadapi. Kelemahan itu bersumber pada masih lemahnya manajemen usaha dan sumber daya manusianya.

“Untuk itu, koperasi harus mampu meningkatkan manajemen usahanya menjadi lebih profesional. Koperasi juga harus mampu menyediakan sumber daya manusia yang tangguh dan memiliki semangat pengabdian tinggi dalam memajukan usaha.” ujarnya Kepala Negara.

Koperasi juga harus meluaskan usahanya ke sektor usaha yang baru, lebih-lebih karena kesempatan dan peluang untuk bersaing kini makin terbuka. Melalui pengelolaan yang lebih profesional, koperasi akan mampu meningkatkan efisiennya. Semuanya ini akan membuka peluang makin kukuhnya koperasi di tengah-tengah persaingan yang mak:in ketat. Gerakan Koperasi juga perlu menjalin kemitraan usaha dengan badan usaha milik negara dan swasta. Kerja sama yang saling menguntungkan ini akan membuat koperasi menjadi tumbuh. kuat dan mandiri.

Perubahan

Sementara itu Ketua Umum Dekopin Sri Mulyono Herlambang mengatakan Munas ini diselenggarak:an menjelang hari koperasi ke-50 yang dirayakan bersamaan dengan puncak acara Pertasi Kencana ke-10 besok (1217) di Jakarta.

Munas sekaligus sebagai tindak lanjut dari perubahan AD/ART Dekopin yang telah disahkan melalui Keppres No.21 tahun 1997. Gerakan Koperasi Indonesia saat ini sedang menghadapi perubahan lingkungan yang sangat mendasar. Sesuai dengan UU No. 25 tahun 1992 tentang perkoperasian telah berhasil disesuaikan AD/ART sebagaimana yang telah disahkan. Dengan pedoman AD/ART itu diharapkan seluruh gerakan koperasi lebih mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terus berkembang pesat.

Disadari tugas dan tantangan yang dihadapi oleh gerakan koperasi di masa mendatang akan semakin berat. Apalagi bila dilihat dari anggota gerakan koperasi yang sebagian besar masih merupakan pengusaha-pengusaha kecil. Dari segi jumlah memang sangat besar tapi dari segi kekuatan ekonomi dan daya adaptasinya terhadap perubahan-perubahan itu dirasak:an masih perlu mendapat dorongan yang lebih intensif baik dari pemerintah maupun pengusaha yang lebih kuat.

“Kami sangat berbangga dan berbesar hati bahwa Bapak Presiden senantiasa memperhatikan perkembangan koperasi dan merasakan Bapak Presiden selalu berpihak kepada gerakan koperasi.” kata Sri Mulyono Herlambang.

Melalui kemitraan usaha nasional yang telah dicanangkan tanggal 15 Mei 1996 koperasi merasa mendapat “darah segar” yang mengalir diseluruh tubuh gerakan koperasi yang selama ini sering mengalami “kekurangan darah” dalam menghadapi persaingan. Munas ini diikuti 300 peserta yang berasal dari seluruh Indonesia.

Sumber : SUARA PEMBARUAN (11/7/1997)

______________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 400-403.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.