PRESIDEN TIBA KEMBALI DI TANAH AIR

PRESIDEN TIBA KEMBALI DI TANAH AIR

Presiden dan Nyonya Tien Soeharto tiba kembali di tanah air hari Kamis malam, setelah menyelesaikan kunjungan kenegaraan 7 hari ke Pakistan dan India. Tepat pukul 18.30 WIB, pesawat DC-10 Garuda "Irian jaya" yang membawa rombongan Kepala Negara mendarat di Lapangan internasional Halim Perdanakusuma Jakarta.

Di tangga pesawat Presiden dan Nyonya Tien Soeharto disambut Wakil Presiden dan Nyonya Nelly Adam Malik, para Menteri Kabinet dan pimpinan tertinggi Lembaga negara, anggota korps diplomatik, dan putera-puteri Kepala Negara serta cucu-cucu.

Tidak ketinggalan adalah masyarakat pelajar Pakistan dan India di Jakarta. Mereka membawa spanduk-spanduk dalam bahasa Inggris dan Indonesia yang bertuliskan,

"Selamat suksesnya kunjungan Bapak Presiden di Pakistan", "Hidup terus Persahabatan Indonesia-Pakistan" dan "Hidup terus Persahabatan Indonesia-India".

Dengan membawa bendera negaranya masing-masing dan bendera merah putih ditangannya, para pelajar itu melambai-lambai menyambut kedatangan kembali Kepala Negara.

Berhasil Baik

Secara keseluruhan, kunjungan Presiden Soeharto ke Pakistan dan India dapat dikatakan berhasil baik, terutama dalam memperbaharui dasar-dasar persahabatan dan kerjasama yang sudah ada antara RI dengan kedua negara itu.

Di satu pihak, kunjungan telah menciptakan suasana yang baik untuk meningkatkan tali persahabatan dan persaudaraan yang sudah ada. Dan di lain pihak kunjungan ini juga telah memberikan kesempatan untuk mengenal dan mengidentifisir bidang-bidang kerjasama yang dapat ditingkatkan.

"Berhasil baik, terutama dalam menciptakan suasana untuk meningkatkan persahabatan dan kerjasama antara RI dengan kedua negara," kata Menteri Negara Sudharmono.

"Suatu kemajuan dalam rangka memberikan isi kepada konsep kerjasama ekonomi dan teknik antara negara berkembang," kata Menko EKUIN Prof. Widjojo Nitisastro.

Kunjungan muhibah Presiden Soeharto kali ini, kecuali sebagai kunjungan balasan memang dimaksudkan untuk meningkatkan persahabatan antara RI dengan India dan Pakistan.

Selama berada di kedua negara itu, Presiden Soeharto telah mengadakan pembicaraan dengan kepala pemerintahan masing-masing negara. Demikian pula para Menteri yang ikut, Prof. Widjojo Nitisastro, Prof. Mochtar Kusumaatmadja dan Sudharmono telah mengadakan pembicaraan dengan para menteri serta pejabat­pejabat pemerintahan kedua negara.

Dari hasil pertemuan dan pembicaraan-pembicaraan tersebut dengan kedua negara dikeluarkan Komunike Bersama. Kedua Komunike secara umum menekankan peningkatan persahabatan dan kerjasama baik di bidang politik maupun di bidang ekonomi.

Komunike Bersama RI-India

Dalam Komunike Bersama Rl-India, kedua kepala pemerintahan menyatakan rasa khawatirnya mengenai situasi dunia yang memburuk, terutama di wilayah Asia.

Mereka juga melihat intensifikasi dari kehadiran militer Negara-negara Besar di Samudera Hindia akhir-akhir ini. Mereka sepakat perlunya diadakan penyelesaian damai mengenai pertikaian serta perbedaan pendapat yang ada.

Mengingat peranan masing-masing negara sebagai pendiri gerakan Non Blok, Presiden RI dan PM India menyatakan kembali keyakinannya akan politik Non Blok dan mengharapkan bahwa dengan berpegang teguh pada prinsip prinsip Non Blok yang semula serta persatuan negara-negara anggota, gerakan tersebut dapat membentuk strategi bersama untuk memperkuat perdamaian dankeamanan dunia, dan untuk menciptakan tata dunia yang lebih adil.

Untuk ini,kedua negara sepakat untuk bekerjasama guna mensukseskan konperensi Non Blok tingkat Menlu yang akan diselenggarakan di New Delhi, bulan Februari yang akan datang.

Kedua kepala pemerintahan juga menyatakan kekhawatirannya mengenai konfrontasi kekuatan-kekuatan besar yang makin meningkat di sekitar mereka dan meningkatnya kehadiran serta persaingan militer di Samudera Hindia.

Mereka sepakat agar perundingan bilateral antara AS dan Uni Soviet tentang pembatasan di Samudera Hindia dilanjutkan. Mereka menganggap penting konferensi PBB tentang Samudera Hindia yang akan diselenggarakan di Sri Lanka dalam tahun 1981, dan mendesak agar semua negara berusaha melaksanakan Deklarasi PBB tahun 1971 untuk membuat Samudera Hindia menjadi wilayah damai.

Kedua kepala pemerintahan meninjau situasi di Asia Tenggara, dan Presiden Indonesia dalam hal ini memberikan penilaiannya tentang situasi dan usaha-usaha yang sedang dilakukan oleh negara-negara ASEAN untuk mencari penyelesaian damai bagi masalah Kampuchea.

Mereka melihat perlunya diadakan dialog di antara negara-negara di wilayah ini untuk menciptakan suasana yang melindungi kedaulatan, integritas dan kemerdekaan semua negara.

Dalam hubungan menjadikan Samudera Hindia menjadi wilayah bebas, campur tangan dan intervensi dari negara-negara besar harus dicegah.

Kedua kepala Pemerintahan menyerukan penarikan mundur semua pasukan Israel dari wilayah Arab yang diduduki sejak Juni 1967. Mengenai situasi di Asia Barat, mereka mengharapkan agar dapat diambil langkah-langkah untuk menghindari berkembangnya konfrontasi dari kekuatan-kekuatan besar di wilayah itu.

Mengenai konflik Irak-Iran, kedua kepala pemerintahan mengharapkan agar masalah tersebut dapat dipecahkan secara damai. Sedangkan tentang situasi di Afghanistan, mereka mendukung kemerdekaan, kedaulatan, integritas teritorial dan status Non Blok dari Afghanistan serta negara-negara lain di wilayah itu. Mereka mendesak agar pihak-pihak yang bersangkutan mencari penyelesaian yang akan menjamin rakyat Afghanistan untuk menentukan nasib sendiri, lepas dari segala intervensi dan campur tangan.

Di bidang ekonomi dunia, kedua kepala pemerintahan menekankan bahaya dari proteksionisme dan mendesak diambilnya tindakan-tindakan untuk meningkat kaniklim ekonomi dunia serta tercapainya tata ekonomi internasional baru.

Mereka juga menekankan makin pentingnya arti kerjasama ekonomi dan teknik antara negara­negara berkembang. Mereka mengharapkan agar negosiasi global mengenai kerja sama ekonomi internasional untuk pembangunan dapat segera dilaksanakan.

Kedua kepala pemerintahan menyatakan rasa puas mereka mengenai kerjasama bilateral antara kedua negara di bidang ekonomi dan industri. Mereka bertekad untuk memperluas lebih lanjut bidang-bidang kerjasama ekonomi dan teknik antara kedua negara. Juga disepakati untuk mengadakan pertemuan antara pejabat-pejabat kedua negara, guna mengindentifikasi lebih lanjut bidang-bidang kerjasama.

Perbedaan Dalam Sambutan

Satu hal menyolok dalam sambutan Kepala Negara di kedua negara. Jika di Pakistan Presiden Soeharto beserta rombongan disambut dengan hangat sekali, maka di India Presiden disambut secara formal sesuai dengan kebiasaan negara itu dalam menyambut seorang tamu negara.

Jika di Pakistan, Presiden dan Begum Zia Ul Haq selalu mendampingi Presiden dan Nyonya Tien Soeharto dalam semua acara mereka, maka di India, Presiden Sanjiva Reddy serta PM Indira Gandhi hanya mendampingi tamu negara pada upacara-upacara resmi saja. Sedangkan pada acara-acara peninjauan ke tempat­tempat tertentu dan lain-lain, Presiden serta Nyonya Tien didampingi oleh seorang menteri pendamping. (DTS)

Jakarta, Kompas

Sumber: KOMPAS (15/12/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 739-742.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.