PRESIDEN TETAPKAN 13 KAPET DI KAWASAN TIMUR INDONESIA

PRESIDEN TETAPKAN 13 KAPET DI KAWASAN TIMUR INDONESIA[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto telah menetapkan 13 Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu (Kapet) di 13 provinsi di Kawasan Timur lndonesia (KTI) guna mempercepat pembangunan ekonomi disana.

Masalah itu dijelaskan Menristek BJ Habibie kepada pers di Bina Graha, Selasa selaku Ketua Harian Dewan Pengembangan KTI setelah berlangsungnya Sidang Paripurna Dewan Pengembangan KTI yang dipimpin Kepala Negara.

Ke-13 provinsi itu adalah Timtim, Maluku, Irja, NTB, NTT, Kalbar, Kalteng, Kaltim, Kalsel, Sulsel, Sulteng, Sultra, serta Sulut.

Presiden selaku Ketua Dewan Pengembangan KTI, pada sidang itu, didampingi beberapa anggota antara lain Mendagri Yogie SM, Menhut Djamaloeddin Soeryohadikoesoemo, Menhub Haryanto Dhanutirto, Menkeu Mar’ie Muhammad serta Mentamben IB Sudjana.

Sementara itu, Habibie didampingi beberapa penasehatnya seperti Barnabas Suebu (mantan Gubernur Irja), AchmadAmiruddin (mantan Gubernur Sulsel), Alala (mantan Gubernur Sultra), serta J Muskita (tokoh dari Maluku yang pernah menjadi Sekretaris Wakil Presiden).

Kepala Negara memutuskan pula bahwa kapet-kapet itu harus bekerja sama di antara mereka sendiri dan dengan kawasan barat serta dengan negara lain misalnya dalam kaitan Sijori (Singapura-Johor-Riau).

Habibie menyebutkan pembangunan di kawasan barat yaitu Pulau Jawa dan Sumatera sampai sekarang lebih cepat dibandingkan dengan di KTI. Hal itu disebabkan lebih banyaknya manusia di barat serta lebih tersedianya prasarana ekonomi.

Pembangunan di KTI, kata Habibie, juga berlangsung walau tidak secepat di barat. Dicontohkannya, jika laju pertumbuhan di barat delapan persen/tahun, di KTI mungkin rata-rata sekitar enam persen, atau tertinggal dua persen.

Pada sidang itu, Kepala Negara menetapkan bahwa setiap provinsi yang memiliki kapet harus memiliki satu kawasan andalan.

Daerah andalan itu antara lain adalah Biak (Irja), Seram (Maluku), Bima (NTB), Bitung (Sulut), serta Pare-Pare (Sulsel). Habibie mendefinisikan kawasan andalan itu sebagai sebuah daerah yang diarahkan untuk dikembangkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dengan pengorbanan materi yang serendah-rendahnya guna mencapai pertumbuhan pembangunan yang tinggi.

Sekalipun definisi itu memiliki pengertian membangun dalam waktu secepat­-cepatnya, Habibie menolak menjelaskan kapan KTI bisa mengejar ketertinggalannya dari kawasan barat.

“Nanti rakyat kecewa.” katanya.

Habibie mengatakan dalam waktu dekat, akan dilakukan pertemuan antara anggota dewan dengan para pengusaha nasional dan negara-negara tetangga untuk menjelaskan konsep ini. (T.Eu02/EU05/23/04/96 15:29/RUl).

Sumber : ANTARA (25/04/1996)

__________________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 308-309.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.