Presiden Tetap Sehat KEMBALI LAKSANAKAN TUGAS KENEGARAAN

Presiden Tetap Sehat

KEMBALI LAKSANAKAN TUGAS KENEGARAAN[1]

 

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto hari Sabtu (13/7) sekitar pukul 08.00 WIB tiba di Bandara Halim Perdanakusuma dalam keadaan sehat walafiat. Menurut Menteri Negara Sekretaris Negara (Mensesneg) Moerdiono, Kepala Negara akan secepatnya kembali aktif bekerja. Dari hasil pemeriksaan kesehatan di Jerman yang disampaikan para tim dokter ahli kePresidenan ,jantung Presiden dalam keadaan baik sekali, sehingga tidak perlu mengurangi kegiatan. Presiden Soeharto dinilai bisa melakukan tugasnya dengan baik.

Kepala Negara disambut dalam pesawat MD-11 Garuda oleh Mensesneg Moerdiono, Panglima ABRI Jenderal TNT Feisal Tanjung dan Indra Rukmana. Di bawah tangga pesawat, dengan senyum khasnya, Presiden menerima jabatan tangan dari kapten pesawat dan para pramugari. Kemudian Presiden berjabatan dengan beberapa Menteri Kabinet Pembangunan VI, KSAD Jenderal TNI Hartono yang mengenakan setelan jas, Pangdam Jaya Mayjen TNI Sutiyoso serta para pejabat sipil dan militer lainnya.

Setelah Presiden meninggalkan Bandara Halim Perdanakusuma, Mensesneg Moerdiono bersama enam dokter yang tergabung dalam tim dokter ahli kePresidenan memberi penjelasan tentang laporan kesehatan Presiden kepada para wartawan , di ruang tunggu VIP.

Tim dokter tersebut mendampingi Kepala Negara dalam pelaksanaan pemeriksaan medik lanjutan di Jerman. Mereka adalah dr. Djoko Rahardjo (ahli bedah saluran kencing), Prof dr. Ari Haryanto (ahli penyakit dalam), Prof dr. Yose Rosma (ahli penyakit dalam/ginjal), dr. Hadi Kusnan (ahli THT), dr. Hendarmin (ahli jantung) dan dr. Hasmoro (ahli anastesi). Sedangkan dr. Harry Sabardi, dokter pribadi Presiden tidak ikut dalam jumpa pers itu, karena mengikuti Kepala Negara kembali ke tempat kediaman. Penjelasan medis kepada para wartawan disampaikan oleh Prof dr. Ari Haryanto dan dr. Djoko Rahardjo.

Laporan Tertulis

Selain diberi penjelasan lisan, para wartawan juga menerima laporan keadaan kesehatan Presiden secara tertulis. Laporan itu antara lain mengatakan, dari basil medical check-up di Jerman menunjukkan, meskipun jantung agak membesar tetapi fungsi jantung ternyata masih sangat baik, tidak ada penyempitan koroner.

Fungsi ginjal Presiden untuk orang seusianya masih sangat baik, walaupun masih terdapat batu di ginjal kiri. Kemudian disebutkan, Presiden memerlukan program penurunan berat badan dan pengawasan kadar kolesterol.

Laporan tertulis juga mengatakan, sebelum berangkat ke Jerman, pada tanggal 29 Juni 1996 di Jakarta telah dilakukan pemeriksaan medik oleh tim dokter ahli kePresidenan. Kesimpulan pemeriksaan tersebut ialah ditemukan adanya pembesaran jantung yang dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan.

Kesimpulan lainnya mengatakan, pengukuran fungsi ginjal dengan pemeriksaan nuklir ditemukan adanya penurunan fungsi yang sebabnya belum jelas. Juga ditemukan adanya batu ginjal sebelah kiri yang sudah diketahui sejak lama dan dalam keadaan stabil.

Berdasarkan basil pemeriksaan di Jakarta tersebut disimpulkan bahwa harus dapat ditentukan penyebab pembesaran jantung tersebut dengan tepat agar dapat direncanakan pengawasan selanjutnya. Selanjutnya, harus diusahakan mencari penyebab penurunan fungsi ginjal.

Sebab itu, menurut laporan tertulis yang dibagikan kepada para wartawan, tim dokter ahli Presiden mengusulkan kepada Kepala Negara agar dapat dilakukan pemeriksaan kesehatan lanjutan di Herz Zentmm Nordhein Westfalen, Bad Oeyenhausen, Jerman , yang mempakan pusat unggulan dan telah mempunyai pengalaman luasdan peralatan mutakhir.

Selanjutnya dikatakan, usulan tersebut disetujui Presiden dan kemudian Kepala Negara menugaskan kepada Prof. BJ Habibie beserta tim dokter ahli. Presiden mempersiapkan pelaksanaannya. Pelaksana pemeriksaan di Bad Oeyenhausen itu dilakukan tanggal 9, 10 dan 11 Juli 1996.

Menurut dr. Ari, hasil pemeriksaan di Jerman menyimpulkan hasilnya sangat baik. Katanya, jantung yang semula kelihatan agak membesar ternyata normal sama sekali, bahwa keadaannya agak prima

“Pembuluh darahnya juga baik, sementara ginjalnya juga berfungsi normal. Yang diperlukan hanya pengaturan berat badan dan pengaturan olahraga.” tutur  dr. Ari.

Sedangkan dr.Djoko Rahardjo mengatakan, hasil pemeriksaan di Jerman sangat menggembirakan. Dikatakan, keadaan ginjal yang semula diperkirakan agak ke luar fungsi, ternyata menunjukkan fungsi super, artinya sangat normal.

“Jantung beliau juga baik. Malah salah seorang dokter yang memeriksa di sana mengatakan, andaikan saya berusia seperti ini, maka saya akan bersyukur kepada Allah.”

“Jadi ini menyatakan, hasil pemeriksaan di Bad Oeyenhausen jauh lebih dari yang diperkirakan kita.” kata dr. Djoko.

Akan Aktif Secepatnya

Ditanya kapan Presiden mulai bekerja, Moerdiono mengatakan,

“Saya kira secepatnya Bapak Presiden akan aktif bekerja.”

Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa sebaiknya para dokter dari luar negeri di datangkan ke Indonesia untuk pemeriksaan kesehatan Presiden, Prof. Ari Haryanto mengatakan, hal itu sulit dilakukan karena pemeriksaan kesehatan yang canggih dan pemeriksaannya saling kait-mengait.

“Tidak bisa satu orang saja. Di samping itu diperlukan wawasan, pengalaman dari beberapa dokter untuk dapat menilai apa yang dipermasalahkan.” kata dr. Ari.

Menurut dr. Ari Haryanto, tidak ada saran dari dokter di Jerman agar Presiden melakukan pemeriksaan secara periodik. Juga dijelaskan tidak ada perbedaan prinsip antara hasil pemeriksaan terhadap Presiden di Indonesia dan di Jerman.

“Oleh karena itu saya katakan, pemeriksaan kelanjutan.” ujarnya.

Ditanya apakah ada saran dari dokter di Jerman agar Presiden mengurangi kegiatan dr. Ari mengatakan tidak dan justru Presiden bisa melakukan tugasnya dengan baik karena jantungnya baik sekali.

Lalu dr. Djoko menambahkan, anjuran yang disampaikan untuk Presiden adalah berkaitan dengan berat badan.

“Berat badan Bapak Presiden melebihi dari yang seharusnya. Juga kadar kolesterolnya lebih tinggi dari seharusnya, sehingga dianjurkan pengaturan diet dan juga olahraga beliau. Aktivitas sebagai Kepala Negara bisa dikerjakan dengan sebaik-baiknya.” kata dr. Djoko.

“Jadi disarankan oleh dokter di Jerman, kalau beliau bisa menurunkan lima kilogram berat badan, semua penyakitnya akan hilang.” lanjut dr. Djoko.

Soeharto-Helmut Kohl

Moerdiono mengemukakan, selama di Jerman, Presiden sempat mengadakan pembicaraan masalah bilateral dan internasional dengan Kanselir Helmut Kohl. Di bidang bilateral, Kanselir Jerman akan datang ke Indonesia bulan Oktober mendatang dengan membawa rombongan pengusaha dalam jumlah besar. Hal lain yang dibicarakan adalah peningkatan kerja sama di bidang kesehatan, yakni kerja sama antara Rumah Sakit Harapan Kita dan pusat-pusat kesehatan jantung Jerman. Juga akan diadakan kerja sama bidang penyakit kanker.

Selain itu, katanya, selama di Jerman, Presiden sempat menerima Sekjen Himpunan Pengusaha Indonesia-Jerman yang akan menyertai perjalanan Kanselir Jerman ke Indonesia bulan Oktober mendatang.

Sumber :  KOMPAS (13/07/1996)

__________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 181-184.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.