PRESIDEN : TERUS TEKAN ANGKA INFLASI

PRESIDEN : TERUS TEKAN ANGKA INFLASI[1]

 

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto memerintahkan para menteri serta pejabat tinggi bidang ekonomi untuk terns menekan angka inflasi yang pada bulan April hanya 0,78 persen dan bulan Mei 0,06 persen.

“Para pejabat itu diminta untuk: terus memperhatikan permintaan dan pemasokan berbagai kebutuhan barang termasuk masalah angkutannya.” kata Menpen Harmoko kepada pers di Bina Graha, Rabu.

Ketika menjelaskan hasil Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekku, Prodis dan Wasbang yang dipimpin Kepala Negara dan dihadiri Wapres Try Sutrisno, juga dibahas masalah perekonomian pada umumnya.

Harmoko mengatakan, karena inflasi bulan April adalah 0,78 persen dan bulan Mei 0,06 persen maka angka inflasi pada tahun terakhir 96 adalah 4, 10 persen dan pada tahun anggaran 96/97 adalah 0,84 persen.

Ketika mengomentari angka-angka inflasi yang cukup rendah itu, Kepala Negara mengatakan, ternyata berbagai langkah yang ditempuh pemerintah selama ini menunjukkan bahwa tingginya angka inflasi itu bisa dicegah.

“Jika ada masalah, misalnya muncul kesulitan dalam transportasi maka ABRI bisa dimintai tolong.” kata Kepala Negara pada sidang kabinet yang juga dihadiri Pangab Jenderal TNI Feisal Tanjung.

Ketika menjelaskan perkembangan ekpor dan impor baik komoditi migas maupun nonmigas, Harmoko menyebutkan, ekspor bulan Maret adalah 3,950 miliar dolar AS yang terdiri atas migas 986 juta dolar AS dan nonmigas 2,964 miliar dolar AS.

Sementara itu, impor mencapai 3,473 miliar dolar AS yang terdiri atas migas 307 juta dolar dan nonmigas 3,165 miliar dolar AS. Dengan demikian tercapai surplus 477,5 juta dolar AS.

Harmoko mengatakan, selama periode April 95 hingga Maret 96, ekspor mencapai 46,479 miliar dolar AS dibanding impor 41,213 miliar dolar AS sehingga selama satu tahun itu, Indonesia menikmati surplus 5,266 miliar dolar AS.

Dalam sidang yang berlangsung sekitar tiga jam itu, juga dibahas keinginan seorang pengusaha untuk membangun pabrik semen di Gombong, Jawa Tengah.

Ketika mengomentari keinginan itu, Kepala Negara, memerintahkan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja untuk meneliti kemungkinan munculnya dampak negative jika pabrik itu jadi dibangun.

Sidang yang dihadiri pula Menhankam Edi Sudradjat, serta Menlu Ali Alatas juga membicarakan kedatangan para wisatawan asing serta musim tanam tahun 96 ini.

Sumber : ANTARA (05/06/1996)

______________________________________________________
[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 316-317.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.