PRESIDEN: TERUS DIPERLUAS, KESEMPATAN KERJA WANITA

PRESIDEN: TERUS DIPERLUAS, KESEMPATAN KERJA WANITA[1]

 

Jakarta, Kompas

Upaya untuk terus memajukan kaum wanita dalam rangka meningkatkan mutu sumber daya insani pembangunan terasa semakin penting. Sejalan dengan kecepatan gerak pembangunan, angkatan kerja juga meningkat tajam, terutama tenaga kerja wanita. Pemerintah akan berusaha memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan kesejahteraan mereka, sehingga dapat meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan keluarganya.

Presiden Soeharto menegaskan hal ini dalam sambutannya pada pembukaan Konferensi Asia-Pasifik tingkat Menteri ke-II tentang Wanita dalam Pembangunan diistana negara jakarta, senin (13/6) hadir dan juga memberikan sambutanya dalam pembukaan itu adalah sekretaris eksekutif komisi sosial ekonomi pbb untuk asia pasifik (escap), rafeeuddin ahmed. Konfrensi dua hari (13-14 juni 1994) yang diikuti 53 negara anggota escap, 31 di antaranya menteri, akan meratifikasi plan of action dan jakarta declaration for the advencement of women in asia and the pasific yang pembahasan draftnya di selesaikan pada pertemuan tingkat pejabat senior (som) pada tanggal 7-11 juni.

“peningkatan kualitas tenaga kerja wanita di lakukan dengan memberikan perhatin khusus pada penigkatan keterampilan , produktivitas, kesejahteraan dan perlindunga tenaga kerja wanita, termasuk mereka yang bekerja di luar negri,” ujar presiden.

perlindungan itu terutama berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja, penegembangan karier serta jaminan pelayanan sosial. Ditambahkan, kebersamaan kemitraandan keselarusan antara pria dan wanita merupakan pegangan bagi upaya meningkatkan kedudukan dan peranan wanita dalam kehidupan keluarga, masyrakat maupun dalam proses pembangunan.

“pengalaman kami selama ini menunjukan dengan menggunakan prinsip tadi, sumbangan dan peranan kaum wanita dalam pembangunan berhasil kami tingkatkan, termasuk dalam usaha mengentaskan kemiskinan, “tutur presiden. Usai membuka konfrensi, presiden soeharto menandatangani prangko untuk memperingati pristiwa tersebut.

Makin penting

Kepala Negara mengharapkan, pertemuan tiga hari itu dapat menjadi forum yang tepat untuk bertukar pengalaman, memadukan pendapat dan meningkatkan kerja sama internasional dalam. upaya memajukan kaum wanita sebaggai mitra sejajar yang harmonis dengan kaum pria, baik sebagai warga negara maupun sebagai sumberdaya insani bagi

“Upaya untuk terus memajukan kaum wanita: dalam rangka meningkatkan mutu smnberdaya insani bagi pembangunan dewasa ini terasa makin penting, karena dunia sedang-bergerak menuju ke arab zaman baru,” Ianjut Kepala Negara.”Semua bangsa sedang mengerahkan kekuatannya untuk membangun dirinya dan bersama-sama membangun tata dunia baru yang lebih tenteram, lebih adil, lebih maju dan Iebih sejahtera”.

“Selanjutnya, “Saya mersa gembira mendengar bahwa hasil konferensi ini juga akan merupakan sumbangan pemikiran kita bersama bagi Konferensi Dunia tentang wanita di Beijing tahun 1995”.

Presiden melihat, konferensi dunia itu merupakan satu mata rantai dari rangkaian pemikiran yang berkembang dalam masa-masa terakhir ini menyongsong tibanya abad-21. Rangkaian itu dimulai dari KITtentangAnak , Konferensi Dunia mengenai Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro Juni 1992, diteruskan dengan Konferensi Dunia mengenai Kependudukan dan Pembangunan di Kairo, September 1994serta Konferensi Dunia mengenai Pembangunan Sosial di Kopenhagen ,Maret 1995.

Telah Berubah

Sementara itu, Sekjen ESCAP Rafeeuddin Ahmed mengemukakan, peran tradisional perempuan di kawasan Asia-Pasifik telah berubah. Sepuluh tahun terakhir ini tenaga kerja wanita membanjiri pasar kerja, dan sisi positif pembangunan terlihat jelas dari menurunnya angka kematian ibu dan anak. Kaum wanita juga mendapatkan keuntungan dari meningkatnya akses pendidikan, dan mulai memasuki sektor-sektor yang sebelumnya tidak pernah disentuh. Jumlah wanita yang menduduki posisi manajer dan teknisi meningkat.

Namun disayangkan, tingkat pencapaian kesetaraan gender dalam berbagai bidang pada berbagai tingkatan, masih belurn seperti yang diharapkan. “Ada dua hal penting yang harusdiperhatikan,” ujar Rafeeuddin. Pertama, tingginya jumlah wanita di kawasan ini yang bekerja dalam kondisi rentan

karena bekerja sebagai tenaga buruh lepas dan subkontrak atau buruh borongan yang aktivitasnya berada di rumah. Jenis pekerjaan ini hanya memberikan penghasilan kecil, tidak tetap dan tidak mendapatkan jaminan apa pun. Kedua, wanita pada berbagai tingkat sosial di kawasan ini, terutama kelompok termiskin, saat ini mengemban dua beban dari pekerjaan domestik maupun pekerjaan di luar sektor domestik. Hampir secara universal, wanita melakukan kegiatan pemeliharaan dan manajemen rumah,namun semua itu masih belum dilihat secara jernih dan secara ekonomi tidak dihitung. Dengan meningkatnya peran wan ita di berbagai sektor kehidupan yang dibutuhkan saat ini, menurut Raffeuddin, adalah, kehendak politik untuk memberikan pengakuan dan nilai yang sebenarnya terhadap peran perempuan dalam berbagai sektor kehidupan.

Intervensi

Sidang hari pertama yang mulai mendengarkan pemyataan dari negara-negara peserta ju ga diwamai dengan pernyataan dari kelompok yang menamakan dirinya Women of theAsia-Pacific Region. Selebaran yang dibagikan kepada para pengunjung konferensi itu memuat keprihatinan mereka atas intervensi dari negara-negara maju, seperti Inggris, Belanda, AS dan Perancis, terutama Perancis dalam soal hak wanita di kawasan Asia-Pasifik.

Dengan intervensi tersebut dirasakan bagairnana negara-negara maju masih terus berusaha mengawasi sesuai dengan sifat mereka sebagai penjajah. Mereka meminta agar keanggotaan dalam ESCAP ditinjau kembali. Menanggapi hal ini, Direktur Kerjasama Ekonomi Multilateral Deplu Dr Makarim Wibisono mengemukakan, AS, Inggris, Belanda dan Perancis merupakan anggota penuh ESCAP. “Benturan persepsi, nilai Barat dan Tirnur adalah sesuatu yang wajar. Dalam sidang kan keluar rumusan yang bisa diterima oleh kedua belah pihak,”katanya.

Menurut dia, apa pun yang terjadi dalam drafting merupakan hal yang biasa. “Konferensi ini merupakan tempat untuk saling bertukar pendapat, pikiran dan pengalaman, ” sambungnya. Ia malah mempertanyakan siapa pembuat pernyataan tersebut karena tidak jelas nama organisasinya. (vik/mh)

Sumber : KOMPAS ( 14/06/1994)

_____________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVI (1994), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 69-72.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.