PRESIDEN TERSENYUM SAAT DIISUKAN WAFAT

PRESIDEN TERSENYUM SAAT DIISUKAN WAFAT[1]

 

Jakarta, Kompas

Presiden Soeharto tersenyum saat banyak pihak mengisukan Kepala Negara saat ini dalam kondisi sakit berat, bahkan wafat. Tim Dokter Kepresidenan memang menasihatkan Kepala Negara untuk beristirahat selama sekitar 10 hari, setelah melakukan perjalanan panjang ke beberapa negara. Namun, secara umum, kondisi kesehatan Presiden baik.

“Isu itu ada, justru pada jam-jam saya berada di Cendana. Dan Bapak Presiden tersenyum ketika saya laporkan bahwa hari ini diisukan wafat.” kata Mensesneg Moerdiono kepada wartawan di Gedung Utama Sekretariat Negara, Jakarta, Selasa (9/12) usai diterima Presiden Soeharto di kediaman Jalan Cendana.

Mensesneg Moerdiono sekaligus menggunakan kesempatan itu untuk membantah berbagai isu yang beredar. Ia mengatakan,

“Saya ingin membantah secara katagoris isu-isu yang beredar. Misalnya bahwa Bapak Presiden telah wafat, demikian juga isu yang mengatakan bahwa Bapak Presiden telah dipindahkan dari kediaman ke rumah sakit, dan berbagai isu lainnya yang sama sekali tidak berdasar.”

Bantahan tentang isu yang beredar juga disampaikan oleh putra ketiga Presiden, Bambang Trihatmodjo.

“Bapak dalam kondisi baik. Ia sedang beristirahat. Ia memanfaatkan waktunya untuk bermain-main dengan para cucu.” ujar Bambang kepada para wartawan di sela pertemuan dengan MPR.

Isu memburuknya kondisi kesehatan Presiden ini pertama kali muncul di Tokyo dan Singapura sempat mendorong rupiah anjlok hingga Rp.4.600/dollar atau sekitar 450 poin di pasar valas Singapura, Selasa. Bantahan ini membuat rupiah sedikit pulih ke level Rp.4.530-Rp.4.560/dollar.

Indeks Bursa Efek Jakarta (BEJ) juga sempat anjlok lebih dari 1,5 persen ke angka 416,34 poin, sebelum pulih ke 422,68 poin pada sesi perdagangan petang. Spekulasi tentang kesehatan Presiden yang membuat goyah pasar modal dan rupiah sebelumnya juga pernah muncul ketika Presiden melakukan general check up ke Jerman pertengahan tahun lalu.

Dalam keadaan sehat

Mensesneg sekali lagi mengulangi penjelasan bahwa tim dokter kepresidenan menasihatkan Kepala Negara untuk beristirahat selama sekitar 10 hari. Terutama setelah melakukan perjalanan cukup panjang ke beberapa negara, selama 12 hari dan 65 jam terbang, 18-29 November 1997.

“Seperti yang saya terangkan, menurut keterangan para dokter ahli, Presiden dalam keadaan sehat, tapi bahwa beliau perlu istirahat, itu, ya. Saya kira banyak Kepala Pemerintahan lain yang secara teratur, apa seminggu sekali, dua minggu sekali beristirahat. Terus terang, saya kira Anda semua yang mengikuti perjalanan Bapak Presiden kemarin, juga banyak yang mengalami kelelahan.” lanjutnya.

Jadwal Istirahat

Mensesneg mengakui, di masa istirahat ini, memang tidak ada jadwal resmi.

“Karena Presiden dalam keadaan istirahat, tentu saja dalam jadwal, tentu akan istirahat, namanya saja istirahat. Tapi seperti tadi saya katakan, Bapak Presiden meminta kepada Menteri Sekretaris Negara untuk selalu menemui beliau.” Ujar Moerdiono.

Bahkan, kata Mensesneg,

“Saya ingin kemukakan lagi bahwa Bapak Presiden meminta saya untuk setiap hari menghadap beliau untuk menerima instruksi dari beliau ataupun untuk melaporkan hal-hal yang dianggap perlu.”

Untuk itu, hari Selasa (9/12), Presiden Soeharto meminta kehadiran Mensesneg Moerdiono. Kepala Negara, lanjut Mensesneg, menerima kehadirannya seperti biasa dan dalam suasana yang lebih santai.

Menurut Mensesneg, Presiden Soeharto tetap memperhatikan dan mengikuti perkembangan terakhir gejolak moneter. Untuk itu, Kepala Negara meminta Dewan Moneter dan seluruh menteri terkait untuk lebih realistis dalam mempersiapkan RAPBN 1998/1999, sehubungan dengan adanya gejolak moneter tersebut.

Pada kesempatan itu, Kepala Negara juga menandatangani Keppres yang berisi pemberhentian Kepala Bepeka Prof. Dr. JB Sumarlin, karena telah memasuki usia 65 tahun.

“Bapak Presiden menanyakan pada saya soal kebakaran gedung Bank Indonesia. Bukan saya yang melaporkan, tapi beliau yang menanyakan. Dan, secara kebetulan, pagi-pagi tadi saya telah menelepon Kapolri menanyakan hal tersebut dan saya juga telah menelepon rekan saya Gubernur Bank Sentral. Sampai sekarang penjelasan dari Kapolri mengatakan, sampai sekarang sebab-sebab yang pasti dari kebakaran itu sedang diteliti.” ujarnya.

Sumber : KOMPAS (10/12/1997)

____________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 718-720.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.