PRESIDEN TERIMA SURAT MANDELA SOAL PEMBEBASAN XANANA

PRESIDEN TERIMA SURAT MANDELA SOAL PEMBEBASAN XANANA[1]

 

Jakarta, Antara

Presiden Soeharto pada Jumat siang menerima surat Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, yang minta pembebasan terpidana Xanana Gusmao yang sedang menjalani hukuman penjara 20 tahun akibat kejahatan yang dilakukannya.

“Presiden Soeharto akan memandang isi surat itu sebagai salah satu unsur sebelum mengambil keputusan final. Apakah akan diumumkan atau tidak, itu soal lain.” kata Mensesneg Moerdiono di lstana Merdeka, Jumat malam, ketika ditanya wartawan sebelum berlangsung jamuan kenegaraan untuk Presiden Namibia Sam Nujoma.

Sam Nujoma tiba di Jakarta pada Kamis petang untuk mengadakan kunjungan kenegaraan di Indonesia hingga 4 Agustus 1997.

Menurut Moerdiono, surat itu berisikan pertimbangan Mandela kepada Presiden Soeharto tentang kemungkinan pembebasan Xanana dari status hukumannya.

“Tentu saja Presiden Soeharto melihat pertimbangan ini dalam konteks Presiden Mandela membantu penyelesaian masalah Timor Timur dalam forum internasional.” tambah Moerdiono.

Ia kemudian berkata, “Tentu kita mempunyai pertimbangan sendiri. Perlu kita ingat bahwa Xanana dan kekuatan bersenjata telah menimbulkan korban tidak kecil pada masyarakat Timor Timur sendiri.”

Sehari sebelumnya Moerdiono mengatakan Xanana dipenjara bukan karena keyakinan politiknya tetapi karena kejahatan yang dilakukannya.

Ketika ditanya pada Jumat malam, apakah Presiden Soeharto akan memberikan jawaban, ia mengatakan,

“Saya belum sempat bertanya kepada Presiden tentang apa yang beliau (Pak Harto) pikirkan.”

Moerdiono mengatakan bahwa pada Jumat siang, ia telah menerima laporan dari Kepala Protokol Negara Dadang Iskandar tentang telah diterimanya surat dari Mandela itu.

“Surat itu betul-betul terlambat tiba pada Kedubes kita di Pretoria. Saya telah minta Kedubes kita mencari informasi akurat tentang keterlambatan itu. Keterlambatan itu bukan salah Kedubes kita di Afsel.” kata Moerdiono.

Ketika ditanya rnengapa persoalan surat Mandela itu sampai muncul ke permukaan, Mensesneg mengatakan,

“Saya tidak tahu mengapa hal ini terjadi. Sejak semula, bukankah pertemuan Presiden Soeharto dan Presiden Mandela seperti dikatakan Presiden Mandela sendiri tidak akan diumumkan kepada publik, tapi hanya untuk Presiden Soeharto.”

Sumber: ANTARA (02/08/1997)

_______________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 509.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.