PRESIDEN TERIMA SURAT KEPERCAYAAN DUBES MONGOLIA

PRESIDEN TERIMA SURAT KEPERCAYAAN DUBES MONGOLIA

Presiden Soeharto menyatakan keyakinannya kerjasama dan hubungan baik antara Indonesia dan Republik Rakyat Mongolia atas dasar persamaan, saling menghormati dan hidup berdampingan secara damai perlu dipelihara dan ditingkatkan.

Kepala Negara mengemukakan keyakinannya itu dalam pidato balasannya ketika menerima surat-surat kepercayaan Dubes Mongolia yang baru untuk Indonesia Denzengiin Tserendondov di Istana Merdeka, Sabtu pagi.

Presiden menyatakan bahwa prinsip-prinsip ini merupakan ciri penting dari politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.

Bangsa Indonesia yakin bahwa hubungan serta kerjasama yang demikian itu akan sangat bemanfaat dalam menciptakan kestabilan dan perdamaian dunia, khususnya di Asia terutama bagi rakyat yang sedang membangun di bagian dunia ini.

Kepala Negara mengemukakan pula bahwa bangsa Indonesia sekarang ini sedang bekerja keras melaksanakan pembangunan dalam usaha mencapai cita-cita kemerdekaannya. Sebagaimana semua bangsa yang sedang membangun, maka untuk kelancaran pembangunan itu, Indonesia membuka pintu untuk kerjasama dengan bangsa-bangsa lain dan dalam suasana damai.

Bangsa Indonesia berkeyakinan bahwa dengan kerjasama atas dasar persamaan dan saling memberikan manfaat itu, maka pembangunan bangsa-bangsa dapat terlaksana dengan lancar.

Ini akan dapat membebaskan umat manusia dari bahaya peperangan maupun keterbelakangan dan kemiskinan. Presiden menyatakan keyakinannya bahwa kedua negara akan selalu bergandengan tangan dalam mengembangkan semangat kerjasama dan perdamaian itu.

Upacara penyerahan surat-surat kepercayaan Dubes Mongolia yang baru itu dihadiri antara lain oleh Menlu Mochtar Kusumaatmadja, Mensesneg Sudharmono SH, Sekjen Deplu Dr. B.S. Arifin dan pejabat-pejabat tinggi negara lainnya. (DTS)

Jakarta, Antara

Sumber: ANTARA (21/10/1979)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 187-188.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.