PRESIDEN TERIMA PETERNAK SAPI PERAH DARI JATIM

PRESIDEN TERIMA PETERNAK SAPI PERAH DARI JATIM

Presiden Soeharto Jum’ at kemarin menerima kunjungan 40 peternak sapi perah dari Kabupaten Malang dan Pasuruan, Jatim, di Pusat Peternakan Tapos, Bogor. Para peternak itu datang menemui Kepala Negara untuk mendapatkan penjelasan langsung mengenai pengelolaan peternakan dengan cara modern seperti telah dikembangkan di Tapos.

Pertemuan yang berlangsung sekitar 2 jam diwarnai dengan tanya jawab penuh keterbukaan dan santai. Berbagai masalah mulai dari susu sapi, madu sampai tanaman jeruk dan apeI tidak luput dari perhatian para peternak. Pak Harto yang berada di tengah-tengah tamunya menjawab setiap pertanyaan dengan gamblang, disertai humor yang mengundang tawa riang para peternak.

Tamunya dinasehatkan untuk tidak bercita-cita di luar kemampuan. Cita-cita memang boleh setinggi langit tetapi harus pula mengingat kemampuan. Kalau tampaknya bisa dicapai tapi tidak mungkin dilakukan sendiri lebih baik dengan cara koperasi.

Soal pemasaran juga harus sudah mulai masuk perhitungan para petani dan peternak. Jangan sekali-kali memproduksi melebihi pasaran. Sebab kalau dipaksakan, maka penawaran akan meningkat dan akibatnya harga akan turun.

Koperasi & Saham secara panjang lebar Kepala Negara juga menjelaskan rencananya untuk memasukkan koperasi peternak ke dalam perusahaan swasta dalarn pemilikan saham. Seperti misalnya pada pabrik susu bubuk.

Dengan demikian para peternak juga memiliki wewenang untuk memutuskan apa yang harus dijalankan oleh pabrik tersebut. “Saya sudah instruksikan kepada para pengusaha susu bubuk agar koperasi dapat memiliki saham. Selain untuk mempercepat pembangunan juga untuk keadilan rakyat. Tetapi tentu saja melalui pentahapan tidak bisa sekaligus” ujarnya.

Makanan ternak yang bermutu sebaiknya juga disediakan oleh koperasi. Dengan cara fermentasi limbah pertanian seperti jerami dan batang jagung dapat diolah menjadi makanan bergizi tinggi. Untuk keperluan tersebut Presiden Soeharto menghadiahkan 20 peti kemas, masing-masing kabupaten memperoleh 10 unit.

Sambil menunjukkan cara mempercepat proses fermentasi dengan menggunakan peti kemas seperti di Tapos diharapkan hadiah itu dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya sehingga Kab. Malang dan Pasuruan dapat mensuplai makanan ternak bermutu berasal dari limbah ke daerah lain di Jatirn.

Dari pengalaman yang diperoleh Pak Harto, dengan menggunakan makanan sapi bermutu tinggi ternyata pemberian konsentrat yang harganya cukup mahal bisa dikurangi.

Di masa mendatang pemerintah juga sudah merencanakan agar koperasi dapat turut memiliki pabrik konsentrat supaya harganya dapat lebih murah. Kendati berbagai usaha untuk meningkatkan kemampuan peternak tetap diusahakan tetapi Presiden mengingatkan kepada tamunya agar tidak terburu-buru. “Ojo nggege mongso,” katanya. Keinginan yang terburu-buru sering tidak membawa hasil dan malah gagal.

Larangan Impor

Menjelaskan tentang pemasaran buah apel, yang penting kualitas harus dijaga baik dan perlu kontak dengan koperasi di mana terdapat daerah pemasaran. Pemerintah telah melarang impor apel tidak lain agar perkebunan rakyat dapat meningkatkan pemasarannya. Tentang dihapuskannya impor jeruk, Pak Harto punya cerita yang menyenangkan.

Ada petani jeruk dari Kalbar begitu menerima keuntungan berlebihan akibat adanya larangan impor jeruk, ia memberanikan diri menemui Ibu Tien Soeharto untuk menyumbang uang Rp 5 juta kepada Yayasan Harapan Kita. “Bayangkan bakul jeruk berani menyumbang Rp 5 juta, kan hebat,” ujarnya sambil menasehatkan agar keuntungan yang berlebihan itu juga diinvestasikan supaya usahanya lebih luas.

Seorang peternak minta supaya pemerintah lebih banyak memberikan kredit. Terhadap hal itu Kepala Negara menjelaskan bahwa kredit hanya diberikan kepada peternak yang punya penguasaan teknik. Sebab kalau belum berpengalaman maka sapi dari perolehan kredit akan mati dan akibatnya utang tidak terbayar. Bagi yang belum punya ternak pemerintah akan memberi bantuan melalui Banpres.

Sangat Baik

Presiden menilai perkembangan peternakan di Jatim berjalan sangat baik dan dapat dijadikan modal untuk pengembangan lebih lanjut. Para peternak di Jatim memang punya rencana meningkatkan ternak kelinci, lebah, burung puyuh dan burung merpati.

Untuk itu dianjurkan agar pengembangan aneka ternakjuga mencapai daerah Madura dan Bojonegoro yang kering iklimnya. Di kedua daerah itu nilai ekonomis madu lebah sangat tinggi.

Untuk pengembangan ternak lebah pemerintah telah mendapatkan bantuan dari Rumania lewat Pramuka. Diharapkan di masa mendatang pengolahan madu dengan teknologi tinggi seperti di Rumania dapat diterapkan di Indonesia.

Selain itu, peternak di Jatim, kata Kepala Negara, tahun depan akan diberi tambahan kerbau liar yang dijinakkan dari Australia, sebanyak dua kali pengapalan. Demikian juga beberapa daerah seperti Lampung, Jambi, Riau. Jateng akan memperoleh masing-masing dua kali pengapalan. Biasanya sebanyak 600 ekor.

Anak Muda

Sambil melihat-lihat pengelolaan ternak yang baik, Presiden bercerita hobinya di bidang pertanian dan peternakan. “Tapi saya kemari hanya sekali tempo saja. Dari pada cari hiburan di kota lebih baik ke Tapos” katanya. Dikatakan, yang mengelola Tapos adalah anak-anak muda yang punya keinginan maju.

Kepada tamunya Presiden memperkenalkan Made sebagai koordinator, Sarwono dan Yanwar bagian kawin suntik dan Jumirin bag ian tanaman. Mereka itu lulusan Sekolah Menengah Pertanian dan Petemakan.

“Oo ya ini ada satu lagi petugas yang ngawasi namanya Oom William. Orang Australia tapi sudah 34 tahun di Indonesia. Dia tidak mau pulang ke negaranya karena lebih suka minum air di sini. Saya kenal dia sejak di Semarang”, ujarnya sambil memperkenalkan Oom William kepada tamunya.

Sebelum berpisah, Pak Harto mengundang para peternak untuk makan siang di Istana Bogor kemudian nonton film Imax di Taman Mini Indonesia Indah. (RA)

Jakarta, Suara Karya

Sumber : SUARA KARYA (11/08/1984)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VII (1983-1984), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 915-917.


Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.