PRESIDEN TERIMA PENGHARGAAN WHO: PEMBANGUNAN KESEHATAN AGAR LEBIH DIARAHKAN KE DAERAH TERPENCIL

PRESIDEN TERIMA PENGHARGAAN WHO: PEMBANGUNAN KESEHATAN AGAR LEBIH DIARAHKAN KE DAERAH TERPENCIL

 

 

Jakarta, Pelita

Presiden Soeharto mengingatkan, pembangunan kesehatan. harus lebih diarahkah pada masyarakat di daerah-daerah terpencil dan daerah, kumuh perkotaan yang belurn menikmati pelayanan kesehatan memadai. Bersamaan dengan itu harus terus diperbaiki mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Dalam sambutannya ketika membuka Rapat kerja Kesehatan Nasional 1991 di Istana Negara, Senin 19/2, Kepala Negara menyatakan berkaitan dengan hal itu harus pula ditingkatkan kemampuan teknis dan kemampuan manajemen tenaga-tenaga.

“GBHN menekankan pentingnya peningkatan pelayanan kesehatan secara Jebih Iuas dan merata. GBHN juga memberi petunjuk agar pembangunan kesehatan terutama ditujukan kepada golongan masyarakat berpenghasilan rendah baik dipedesaan maupun perkotaan”, kata Presiden.

Menurut Kepala Negara, sejak bangsa Indonesia mulai membangun lebih dua dasawarsa lalu, perhatian yang besar selalu diberikan kepada bidang kesehatan. Melalui pembangunan kesehatan ini lah derajat kesehatan masyarakat dapat ditingkatkan, sebab derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu ukuran kebehasilan pembangunan. “Puskesmas dan sarana kesehatan masyarakat lainnya telah dapat dilipat gandakan jumlahnya. Dengan membangtm Puskesmas, pelayanan kesehatan kita tempatkan langsung di tengah-tengah masyarakat.”

 

Meningkat

Pemerataan pelayanan kesehatan pun, kata Presiden makin tampak dengan kian banyaknya obat-obatan bermutu, dengan harga yang terjangkau oleh daya beli masyarakat. Tenaga-tenaga bidan juga mulai ditempatkan di desa-desa dan secara bertahap makin banyak tenaga spesialis yang ditempatkan di daerah. Keadaan gizi masyarakat pun makin membaik. Berbagai penyakit menular terutama yang menyerang anak-anak berhasil dicegah melalui program Imunisasi.

Kepala Negara berpendapat, partisipasi masyarakat dalam pembangunan bidang kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak juga meningkat. Hal itu antara lain tercermin dengan makin bertambahnya jumlah Posyandu yang tersebar di desa-desa di seluruh wilayah tanah air.

Berkat kemajuan kesehatan yang dicapai itu, angka kematian bayi terns menurun, umur rata-rata anggota masyarakat bertarnbah panjang dan angka kesakitan menurun.

 

Penghargaan

Keberhasilan yang dicapai Indonesia di bidang kesehatan menarik perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Karena itu kemarin pagi di Istana Merdeka, Dirjen WHO, Dr Hiroshi Nakajima atas nama organisasi dunia itu menyerahkan penghargaan berupa “Health forM Gold Medal Award” kepada Presiden Soeharto. “Saya menganggap penghargaan yang tinggi itu merupakan penghargaan kepada saudara-saudara semua yang bertanggungjawab terhadap pembangunan kesehatan di Indonesia,”kata Presiden ketika membuka Rakemas Depkes itu.Juga merupakan penghargaan bagi semua orang yang mengabdi kepada pelaksanaan pembangunan kesehatan di negeri inidan bagi seluruh rakyat Indonesia pada umurnnya.

Dalam sambutannya ketika memberikan penghargaan, Dirjen WHO mengatakan, penghargaan itu menunjukkan dengan sebenarnya setiap aspek dan pelayanan kesehatan di Indonesia telah mendapat manfaat. Hal itu berkat kebijakan, semangat dan sifat Presiden Soeharto dalam mengupayakan perbaikan fisik, mental, dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Berbagai Kebijaksanaan

Dalam laporannya, Menkes Dr. Adhyatma, MPH menyebutkan, rapat kerja nasional Depkes diselenggarakan untuk membahas serta mendapatkan kesepakatan mengenai berbagai kebijaksanaan dan langkah-langkah yang perlu dipersiapkan dalam rangka pembangunan kesehatan di tahun mendatang. Rapat yang akan berlangsung hingga 22 Februari mendatang itu diikuti 200 peseita yang terdiri para pejabat eselon I dan II, Kepala Kanwil dan Dinas, para kepala rumah sakit, pimpinan BUMN di lingkungan. Depkes, serta wakil-wakil dari departemen/non departemen terkait.

Selain beberapa menteri, dalam raker yang dilanjutkan di Ciloto itu akan pula berbicara. Dirjen WHO, yang kini tengah berada di Indonesia. Masalah yang akan elibahas antara lain menyangkut pendayagunaan tenaga-tenaga kesehatan, penempatan dokter sebagai pegawai tidak tetap, penyempurnaan penempatan bidan di desa. Juga persiapan penyempurnaan rumah umum pemerintah sebagai lembaga swadana, lebih memasyarakatkan obat generik, pola pelayanan kesehatan di daerah terpencil terutama di wilayah Indonesia bagian timur, serta daerah kumuh.

Menkes Dr. Adhyatma MPH iuga menyampaikan ucapan selamat atas penghargaan “Health for All Gold Medal Award” yang diterima Presiden Soeharto dari Dirjen WHO. “Penghargaan tersebut sangat membanggakan, danjuga sekaligus akan memacu jajaran kesehatan dalam rangka meningkatkan taraf kesehatan masyarakat indonesia,” katanya.

 

 

Sumber : PELITA (19/02/1991)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XIII (1991), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 591-593.

 

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.