PRESIDEN TENTANG PEMBERIAN NAMA JEMBATAN BARITO: “SAYA KHAWATIR TIMBULKAN KULTUS INDIVIDU”

PRESIDEN TENTANG PEMBERIAN NAMA JEMBATAN BARITO: “SAYA KHAWATIR TIMBULKAN KULTUS INDIVIDU”[1]

 

 

Banjarmasin, Kompas

Presiden Soeharto menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas usulan DPRD Tingkat I Kalimantan Selatan untuk memberi nama Jembatan Soeharto pada jembatan sepanjang 1.085 meter di atas Sungai Barito, Kalsel. Namun, Kepala Negara khawatir pemberian nama itu justru akan menimbulkan kultus individu. Karena itu, Presiden memilih memberi nama Jembatan Barito.

“Saya telah dilapori bahwa DPRD Tingkat I Kalimantan Selatan telah mengambil keputusan pemberian nama Jembatan Soeharto kepada jembatan ini. Saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehormatan itu. Tetapi, pemberian nama jembatan dengan nama saya, saya khawatir dapat menimbulkan sikap kultus individu. Karena itu, pada peresmian sekarang, jembatan ini saya beri nama Jembatan Barito,” kata Kepala Negara.

Presiden menyampaikan hal itu saat meresmikan Jembatan Barito dan Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh untuk Banjarmasin, Pontianak, dan Surabaya dalam rangka Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional Tahun 1996 di Desa Beringin, Kabupaten Barito Kuala, Banjarmasin, Kalsel, Rabu (23/4).

Sebelum meresmikan Jembatan Barito, Kepala Negara meninjau proyek pengembangan lahan gambut di Lamunti, Kalteng dengan helikopter. Pada kesempatan itu, Kepala Negara menyinggung pentingnya mengembangkan sejuta hektar lahan gambut menjadi sawah di Kalteng. Pengembangan lahan gambut menjadi sawah itu sangat diperlukan, karena kebutuhan beras di Indonesia terus meningkat.

Seperti dalam kunjungan ke daerah lain sebelum menutup acara, Kepala Negara mengadakan temu wicara dengan wakil penerima bantuan Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh, petani, kelompok masyarakat penerima bantuan dana IDT, dan kelompok pekerja Jembatan Barito.

Acara itu antara lain juga dihadiri Mensesneg Moerdiono, Menteri PU Radinal Moochtar, Menneg PPN/Ketua Bappenas Ginandjar Kartasasmita, Mentrans/PPH Siswono Yudohusodo, Menristek BJ Habibie, Mendagri Yogie SM, Mensos Nyonya Inten Soeweno, dan Menseskab Saadillah Mursjid.

 

Terpanjang di Indonesia

Jembatan yang dibangun dengan sistem suspensi kembar, disangga empat menara, dan kabel baja penggantung utama itu, melintas di atas sungai Barito selebar 800 meter, ditambah pulau kecil selebar 200 meter. Karena itu, jembatan terpanjang di Indonesia yang terletak di ruas jalan Banjarmasin batas Kalteng itu akan menjadi jalur lintas selatan Kalimantan, yang menghubungkan wilayah Kalbar, Kalteng, Kalsel, dan Kaltim.

Presiden menekankan, jalan lintas selatan Kalimantan itu dibangun untuk membangkitkan kekuatan-kekuatan ekonomi di pulau Kalimantan untuk kemakmuran rakyat dan pemerataan pembangunan Indonesia.

“Potensi Kalimantan sungguh besar. Pulau ini kaya dengan bahan tambang dan hasil hutan, tanahnya sangat luas bagi pengembangan pertanian. Apabila kita berhasil mengembangkan wilayah ini, saya yakin suatu saat nanti Kalimantan pasti akan menjadi kekuatan penggerak pembangunan di Tanah Air kita,” kata Kepala Negara. Ditekankan, pembangunan jembatan itu merupakan prestasi besar bangsa.

Pembangunan itu sendiri memerlukan presisi tinggi, karena memerlukan pengerahan teknologi canggih, biaya besar, dan waktu cukup panjang.

“Rakyat Kalimantan Selatan mempunyai kebanggaan khusus, sebab ada putra­-puteri Indonesia lulusan Universitas Lambung Mangkurat ikut menangani secara langsung jembatan yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia,” tutur Presiden.

Gubernur Kalsel Gusti Hasan Aman dalam laporannya mengatakan, Jembatan Barito akan menjadi urat nadi perekonomian sekaligus pintu gerbang Kalsel, dan melancarkan kegiatan produksi pertanian di Kalsel dan Kalteng.

Kepala Negara menegaskan, salah satu kekuatan untuk memerangi dan menaklukkan musuh-musuh pembangunan ini adalah kesetiakawanan sosial nasional. Karena itulah, Presiden mencanangkan Gerakan Kesetiakawanan Nasional tanggal 24 Maret 1995.

 

Bukan Ngawur

Presiden Soeharto menyatakan, pembangunan Mega Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) sejuta hektar di Kalimantan Tengah bukan pekerjaan ngawur atau gila-gilaan karena sudah dipertimbangkan secara mantap untuk kepentingan bangsa.

“Banyak orang tidak percaya, tapi kita berkeyakinan dapat berhasil sebagaimana halnya yang dilaksanakan di Propinsi Riau, toh mampu meningkatkan kesejahteraan para petani. Mengapa di Kalteng tak bisa,” katanya ketika meninjau PLG Lamunti, Kabupaten Kapuas, 150 km Selatan kota Palangka Raya, Rabu.

Menurut Kepala Negara lahan gambut ternyata memberikan prospek yang baik bagi kehidupan bangsa di masa mendatang sehingga perlu dimanfaatkan untuk lahan pertanian. Memanfaatkan lahan gambut di Kalteng, pemerintah telah membangun prasarana dan sarana penunjang yang membutuhkan dana relatif besar antara lain untuk penyediaan jaringan primer dan sekunder, sehingga perlu dukungan dari para petani PLG (bal/ric/Ant)

Sumber: KOMPAS (24/04/1997)

_________________________________________________________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita.” Buku XIX (1997), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 765-767.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.