PRESIDEN: TEKNOLOGI DAN RISET BAGI PEMBANGUNAN

PRESIDEN: TEKNOLOGI DAN RISET BAGI PEMBANGUNAN

Presiden Soeharto menghendaki riset dan teknologi diarahkan kepada sektor­sektor yang menunjang pembangunan, di samping itu riset dan teknologi juga harus bersifat praktis, artinya dapat segera dimanfaatkan bagi keperluan pembangunan terutama bidang yang pada tahapan sekarang mendapat prioritas.

Hal itu dikemukakannya pada pembukaan Loka karya Nasional Riset dan Teknologi, di Bina Graha Senin pagi. Lokakarya itu akan berlangsung selama 5 hari, dan diikuti 235 peserta terdiri unsur staf menteri negara, lembaga non departemen, departemen, perguruan tinggi, pepunas Ristek dan beberapa lembaga lainnya.

Dalam sambutannya, Presiden menaruh perhatian besar terhadap kegiatan riset dan pengembangan teknologi, sebab dengan memanfaatkan hasil riset dan pengetahuan teknologi yang tepat guna, akan dapat ditempuh jalan pintas yang lebih cepat dan selamat dalam melaksanakan pembangunan nasional.

"Dalam gerak maju pembangunan tadi, kita tetap berpegang teguh pada watak kerakyatan pembangunan kita. Artinya, pembangunan ini dikerjakan oleh rakyat, dari rakyat dan bertujuan untuk memperbaiki kehidupan rakyat banyak," katanya.

Sekalipun ilmu pengetahuan dan teknologi diperlukan dalam pembangunan, akan tetapi dalam pengembangan dan pengetrapannya diperlukan penelitian yang memakan waktu, ahli-ahli yang berpendidikan tinggi serta modal yang besar, yang tentunya belum rnungkin disediakan seluruhnya dalam tahap pembangunan sekarang ini.

Untuk menjaga agar biaya yang tersedia danjerih payah para ahli yang tidak banyak kita miliki tidak terbuang dengan sia-sia, perlu adanya koordinasi riset yang sebaik-baiknya, yang meliputi koordinasi dalam perencanaan, kelembagaan, pelaksanaan dan pengawasannya.

Lebih lanjut dikemukakan, dalam Repelita III, program riset dan teknologi ditujukan pada pemecahan lima masalah pokok, yang menyangkut kebutuhan dasar manusia, sumber-sumber alam dan energi, pengembangan industri, pertahanan dan keamanan, serta sosial ekonomi, budaya dan falsafah.

"Pemahaman kita mengenai masalah ekonomi, budaya dan falsafah yang mencakup berbagai dimensi kehidupan bangsa, merupakan landasan dari keempat program lainnya," kata Presiden.

"Oleh sebab itu program ini perlu diolah secara lebih mendalam sehingga dasar-dasar kehidupan sosial budaya, ekonomi dan politik bangsa yang berlandaskan Pancasila dan UUD 45, dapat makin tepat dilaksanakan," katanya lagi.

Ditegaskan, program ini perlu benar-benar mendapat perhatian, karena kemajuan pembangunan yang bersifat fisik kebendaan, tidak akan membawakan kebahagiaan bagi rakyat Indonesia apabila tidak dibarengi dengan pemeliharaan budaya dan identitas bangsa.

Kader Peneliti

Presiden mengemukakan pula, masalah penting yang perlu mendapat perhatian, yaitu perlunya peningkatan mutu dan jumlah tenaga-tenaga ahli untuk keperluan kegiatan riset dan teknologi.

Pembentukan kader peneliti dan tenaga-tenaga ahli yang diperlukan hendaknya dipersiapkan tepat pada kurun waktu yang diperlukan, sehingga kesinambungan pelaksanaan program terjamin.

Potensi tenaga-tenaga muda, baik yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi, ataupun siswa-siswa dalam berbagai jurusan sekolah kejuruan, bahkan kalau perlu tenaga-tenaga muda di pedesaan maupun di kota-kota, hendaknya mendapat bimbingan sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai. (DTS)

Jakarta, Merdeka

Sumber: MERDEKA (24/06/1980)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku "Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita", Buku V (1979-1980), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 923-924.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.