PRESIDEN : TEKAN INFLASI PADA BULAN-BULAN MENDATANG

PRESIDEN : TEKAN INFLASI PADA BULAN-BULAN MENDATANG[1]

 

Jakarta, ANTARA

Presiden Soeharto memerintahkan menteri ekonomi untuk mengecek sistem distribusi kebutuhan masyarakat pada masa datang, karena angka inflasi yang tinggi seperti bulan Juli sebetulnya tak perlu terjadi.

“Presiden mengatakan angka inflasi bulan Juli sebesar 0,68 persen  yang sebenarnya cukup moderat tidak perlu terjadi kalau pengadaan susu, ikan cukup.” kata Menpen Harmoko kepada pers di Bina Graha, Rabu.

Kepada para menteri perekonomian, Kepala Negara yang didampingi Wakil  Presiden Try Sutrisno pada Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekku, Wasbang dan Prodis mengatakan angka inflasi 0,68 persen pada bulan Juli itu mungkin terjadi karena masalah distribusi.

Karena itulah, para menteri perekonomian diperintahkan Kepala Negara untuk mengecek penyediaan semua kebutuhan masyarakat mulai dari produksi hingga distribusi.

Harmoko mengatakan karena inflasi bulan Juli adalah 0,68 persen maka inflasi untuk tahun anggaran adalah 1,45 persen dan untuk tahun takwim 4,70 persen.

Angka inflasi bulan Januari-Juli sebesar 4,70 persen itu adalah lebih rendah dibanding periode yang sama tahun 1995 sebesar 6,09 persen.

Penyebab inflasi 0,68 persen itu adalah kenaikan harga pada kelompok makanan 1,04 persen, aneka barang dan jasa 0,55 persen, perumahan 0,42 persen, serta sandang 0,51 persen.

Khusus mengenai sub kelompok bumbu, minyak dan lemak telah terjadi penurunan. Namun Harmoko tidak menjelaskan penurunan harga pada beberapa sub kelompok itu.

Khusus mengenai neraca perdagangan, Harmoko mengatakan ekspor bulan Mei adalah 4,075 miliar dolar AS jika dibandingkan dengan impor 3,87 miliar dolar AS sehingga terjadi surplus 203,1 juta dolar AS.

Ekspor itu terdiri atas migas 870,5 juta dolar AS dan komoditi nonmigas 3,2 miliar dolar AS. Sementara itu, impor 3,87 miliar dolar AS itu terdiri atas migas 278 juta dolar AS dan nonmigas 3,594 miliar dolar AS.

Menurut Harmoko, selama periode Januari-Mei, ekspor mencapai 19,346 miliar dolar AS dibanding impor 17,179 miliar dolar AS sehingga Indonesia menikmati surplus 2,166 miliar dolar AS.

Khusus mengenai irnpor buah-buahan, Hannoko mengatakan pemerintah sedang menyusun peraturan guna mengurangi  angka impor itu. Namun Menpen tidak menjelaskan besarnya impor serta negara asalnya.

“Presiden minta impor buah seperti anggur, apel dan pir ditekan. Rakyat perlu didorong untuk makan buah-buahan dalam negeri.” katanya.

Pada sidang itu, Mentan Sjarifuddin Baharsjah melaporkan dilepas nya berbagai varietas padi dan jagung seperti Maros, Cilosari, Batang Anai, P6 hingga P9.

“Kepala Negara minta varietas itu segera dimasyarakatkan. Perum Sang yiang Seri diperintahkan untuk memproduksi bibit dalam jumlah yang cukup.” kata Hannoko.

Mentan juga melaporkan penyiapan lahan seluas 893.594 ha di berbagai propinsi untuk meningkatkan produksi gula seperti di Kalteng, Timtim, Kaltim, serta Sultra. Dari jumlah itu maka sekitar 190.000 ha akan segera dimanfaatkan.

“Presiden mengatakan pembukaan lahan beserta pabriknya bisa ditawarkan kepada para pengusaha swasta, sehingga kekurangan gula bisa ditanggulangi.” kata Menpen.

Sumber : ANTARA (09/08/1996)

__________________________________________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVIII (1996), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal 378-379.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.