PRESIDEN TEGASKAN SETIAP ORANG MEMILIKI KEBEBASAN UNTUK BERSERIKAT

PRESIDEN TEGASKAN SETIAP ORANG MEMILIKI KEBEBASAN UNTUK BERSERIKAT[1]

 

Jakarta, Bisnis Indonesia

Presiden Soeharto menegaskan setiap orang memiliki kebebasan untuk berserikat, mendirikan organisasi kemasyarakatan sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila, termasuk pendirian Ikatan Cendekiawan Kebangsaan Indonesia atau apapun namanya.

Penegasan Kepala Negara itu dikemukakan menjawab pertanyaan Meneg LH Sarwono Kusumaatmadja di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin. Sarwono yang sejak dulu dikenal aktif di Golkar, secara khusus menanyakan munculnya inisiatif dari berbagai pihak mengenai pendirian Ormas yang berwawasan kebangsaan. Sarwono mengatakan, Presiden memahami kalau ada dorongan untuk mendirikan organisasi yang ingin mempertebal rasa kebangsaan.

“Dari sudut saya sendiri sebagai orang yang gemar berpikir dalam rangka kebangsaan bisa memahami dan menyambut baik inisiatif-inisiatif untuk membentuk organisasi yang sifatnya inklusif tidak eksklusif, tapi inklusif dalam arti kata organisasi itu tidak membatasi pada keanggotaannya pada satu kelompok masyarakat tertentu saja yang berdasarkan perbedaan-perbedaan agama dan asal-usul”.

Dunia saat ini sedang mengalami perubahan-perubahan yang besar yang bisa memicu pertikaian malahan pertempuran antaretnis antar penganut agama yang berlainan.

“Nah, di Indonesia kita sudah menyaksikan di masa yang lalu dan sudah terbukti bahwa setiap kali ada krisis yang menyelamatkan negara ini adalah rasa cinta tanah air dan rasa kebangsaan”.Mengutip peringatan Kepala Negara,mantan Sekjen DPP Golkar ini mengatakan, masa tinggallandas adalah masa yang kritis. “Jadi suatu organisasi yang mengayomi semua itu memang sudah waktunya berdiri di republik ini. Bersamaaan juga dengan berdirinya organisasi lain yang sifatnya terbatas itu juga diperbolehkan. Karena organisasi-organisasi itu dilindungi keberadaannya oleh UU keormasan, nggak ada halangan,” katanya.

Dalam masyarakat yang majemuk, kata Sarwono, tidak ada halangan untuk berorganisasi. Karena itu, bisa dipahami kalau beberapa kalangan, bahkan banyak sekali kalangan di Indonesia yang merisaukan soal ini.

“Organisasi-organisasi yang sifatnya inklusif meraih semua potensi inikiprahnya kelihatan kurang. Untuk itulah setiap inisiatif apa pun namanya itu patut disambut baik,” tegas  Sarwono.

Mengenai batalnya pendirian ICKI, menurut Sarwono merupakan proses yang wajar bagi suatu organisasi dan nantinya juga akan terbentuk. “Kalau saya lihat semangatnya begitu. Ini kalau saya boleh mengatakan arus bawah. Arus bawahnya itu kuat. Nggak tabu itu, sangat ingin, karena kita sangat tergugah kalau merasa bahwa ada sesuatu yang masih kurang dalam menjaga persatuan dan kesatuan nasional,” katanya. (ass)

Sumber: BISNIS INDONESIA( 18/05/1994)

___________________

[1] Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari Buku “Presiden Ke II RI Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XVI (1994), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, hal 57-58.

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.