PRESIDEN: TANPA KESETIAKAWANAN SOSIAL PERSATUAN MUDAH PUDAR

PRESIDEN: TANPA KESETIAKAWANAN SOSIAL PERSATUAN MUDAH PUDAR

 

Jakarta, Sinar Harapan

Tanpa kesetiakawanan sosial di antara kita, maka semangat persatuan bangsa kita yang sangat majemuk akan mudah pudar. Tanpa kesetiakawanan sosial dan persatuan pembangunan kita pasti akan mengalami banyak kesulitan dan hambatan. Hal ini dikemukakan Presiden Soeharto pada pembukaan Konferensi Perkumpulan Rotary Indonesia di lstana Negara Kamis pagi.

Dikatakan, karena itu meskipun pembangunan yang kita lakukan telah memberikan sukses-sukses awal dan kesejahteraan masyarakat kita dewasa ini telah makin baik dari waktu ke waktu, usaha untuk terus meningkatkan kesetiakawanan sosial harus tetap menjadi perhatian kita semua.

Selain itu, kata Kepala Negara, dalam melanjutkan pembangunan, kita juga masih harus menghadapi berbagai masalah sosial ekonomi yang besar, seperti masalah lapangan kerja, perumahan, peningkatan penghasilan, pendidikan, kesehatan dan seterusnya. Masalah-masalah ini harus segera ditanggulangi.

Di tengah-tengah masih besarnya masalah-masalah sosial ekonomi itu, nilai kesetiakawanan sosial harus benar-benar dihayati dan kita tunjukkan.

“Sebab jika tidak, akan dapat menimbulkan kecemburuan sosial yang merapuhkan persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Presiden.

Sebelumnya Gubernur Distrik 340 (Indonesia) Willy Wiguna memberikan laporan bahwa Distrik Indonesia menunjang program-program Departemen Kesehatan seperti Puskesmas, proyek imunisasi dan lain-lain. Pelaksanaan imunisasi polio di Indonesia dimulai sejak 1 Juli 1987 dan telah menerima US$ 6 juta dari Distrik 340.

Di Indonesia, perkumpulan Rotary atau Rotary Club berdiri sejak 66 tahun lalu. Yang hadir dalam pembukaan konferensi di Istana Negara itu lebih kurang 500 peserta mewakili 35 perkumpulan di seluruh Indonesia. Hadir juga utusan dan tamu-tamu Rotary dari Singapura, Malaysia, Filipina dan Belanda.

 

 

Sumber : SINAR HARAPAN (12/01/1989)

Dikutip sesuai tulisan dan ejaan aslinya dari buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku XI (1989), Jakarta : Antara Pustaka Utama, 2008, hal. 56-57.

 

 

Kenapa tidak meninggalkan komentar?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.